Wilayah Rawan Endemik DBD di Kayu Putih, Lateri, Bentas, Hative Kecil, dan Passo Jadi Perhatian Pemkot

Share:

satumalukuID – Di tengah pandemik Covid-19, Kota Ambon juga dihantui kasus demam berdarah dengue (DBD). Sejumlah wilayah di Kota Ambon yang rawan endemik DBD, yakni kawasan Kayu Putih, Lateri, Bentas, Hative Kecil, dan Passo jadi perhatian Pemkot.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon mendata 39 kasus demam berdarah dengue (DBD) selama periode Januari hingga Juli 2020.

“Kita temukan 39 kasus DBD pada periode Januari-Juli 2020,” kata Kepala dinas Kesehatan Kota Ambon, Wendy Pelupessy, di Ambon, Jumat (17/7/2020).

Wendy mengatakan dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, terjadi peningkatan mencapai 100 kasus dan tercatat dua orang meninggal dunia.

“Tahun 2020 mengalami penurunan yakni 39 kasus dengan kematian tiga orang, kita akan berupaya menekan angka kasus terutama di kondisi pandemi Covid-19,” katanya.

Dalam mengantisipasi penyebaran DBD, pihaknya mengintensifkan pengasapan di sejumlah lingkungan rawan endemik DBD, di mana sudah terdapat kasus positif DBD dan telah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE).

Selain itu, kata dia, menggiatkan abatesasi secara gratis kepada masyarakat. Warga dapat memperoleh abate di puskesmas terdekat.

Ia mengakui pengasapan dilakukan seiring dengan intensitas hujan yang meningkat di seluruh kawasan Kota Ambon, terutama di beberapa kawasan yang rawan penyebaran DBD.

“Sejumlah wilayah di Kota Ambon yang rawan endemik DBD, yakni kawasan Kayu Putih, Lateri, Bentas, Hative Kecil, dan Passo menjadi perhatian kami, ” ujarnya.

Terkait DBD, DPRD Maluku mendorong Pemkot Ambon segera melakukan sejumlah langkah pencegahan penyebaran nyamuk Aedes Aegypti karena  telah merenggut tiga nyawa.

“Kita mendorong Pemkot Ambon segera melakukan langkah-langkah seperti yang sudah biasa dilakukan seperti sosialisasi ke masyarakat dan pengasapan karena sekarang musim hujan masih berlangsung,” kata anggota DPRD Maluku, Rofiq Afifudin di Ambon, Sabtu (18/7/2020).

Menurut politisi PPP itu, kasus penyakit ini harus ditangani secepatnya karena DBD boleh dibilang hampir setiap tahun terjadi dan turut menyumbang angka kematian jika tidak ditangani secara cepat.

Share:
Komentar

Berita Terkini