"Rupiah Berdaulat", Ikhtiar Menjaga Kedaulatan Wilayah 3T Maluku

Share:

Gelaran ekspedisi Rupiah Berdaulat Bank Indonesia tahap dua tahun 2022, di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, untuk membantu penyediaan uang layak edar di pulau-pulau terluar yang sulit terjangkau.

satumalukuID - Sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang mengedarkan uang rupiah di seluruh wilayah NKRI, Bank Indonesia menggelar ekspedisi kas keliling bertajuk “Rupiah Berdaulat” di sejumlah pulau terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T) di Provinsi Maluku.


Ekspedisi Rupiah Berdaulat tahap dua tahun 2022 ini menjangkau wilayah 3T di Pulau Gorom dan Geser, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) serta Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, untuk menyediakan uang layak edar di pulau-pulau terluar  yang sulit terjangkau. Juga memastikan mata uang rupiah beredar dan digunakan di seluruh wilayah NKRI.

Ekspedisi juga menjadi salah satu implementasi amanat UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, terutama memenuhi ketersediaan uang rupiah di daerah 3T dalam jumlah cukup, dengan jenis pecahan yang sesuai kebutuhan  serta dalam kualitas baik dan layak edar.

Kehadiran rupiah di seluruh pelosok negeri merupakan wujud kontribusi BI dalam menjaga kedaulatan negara. BI harus menjamin di setiap jengkal NKRI, rupiah harus hadir dan tersedia.

“Tugas BI mencetak uang, mengeluarkan, juga mengedarkan ke seluruh wilayah di Maluku termasuk 3T. Tahun ini delapan wilayah 3T di Maluku menjadi sasaran," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Maluku Bakti Artanta saat menghadiri ekspedisi Rupiah Berdaulat di Banda Neira, Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, medio Oktober 2022.

Pada tahun 2022 ekspedisi keliling menjangkau delapan dari 1.342 pulau yang ada di Provinsi Maluku.

Sebagai provinsi dengan karakteristik kepulauan maka ekspedisi kas keliling ini dianggap sangat penting sebagai wujud kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk penyebaran uang rupiah layak edar serta merupakan seri terbaru yang dikeluarkan BI sebagai bank sentral.

Pada tahun 2022 tercatat BI menggelar dua kali ekspedisi Rupiah Berdaulat. Ekspedisi pertama dimulai Mei 2022 di Pulau Wetar, Pulau Kisar, Pulau Damar, Pulau Babar Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dan Pulau Banda, Maluku Tengah. Ekspedisi kedua pada Oktober 2022 menyasar tiga pulau yakni Gorom dan Geser, Kabupaten SBT, serta Banda, Maluku Tengah

Miliaran rupiah uang layak edar dibawa untuk melayani masyarakat yang bermukim di wilayah 3T untuk menukarkan uangnya, terutama yang sudah lusuh, rusak, dan tidak layak edar dengan uang yang masih baru.


Sinergi dan kolaborasi

Dalam melaksanakan ekspedisi Rupiah berdaulat di Provinsi Maluku, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku menggandeng Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IX Ambon.

Ekspedisi kali ini menggunakan KRI Dorang 874 yang telah dialihkan untuk memperkuat Satuan Patroli (SatrolLantamal IX Ambon. KRI buatan dalam negeri yang baru diluncurkan dan diresmikan bertepatan HUT Proklamasi ke-77 pada 17 Agustus 2022, memulai misi perdananya yakni Ekspedisi Rupiah Berdaulat pada tiga pulau di Provinsi Maluku bekerja sama dengan Kantor BI setempat, pada 12 Oktober 2022.

Komandan Lantamal IX Ambon Brigjen TNI Said Latuconsina menyatakan dukungan dan bekerja sama dengan BI Maluku pada program ekspedisi penukaran uang rupiah di daerah 3T.

TNI AL berkepentingan menjaga kedaulatan seluruh wilayah NKRI dengan pertahanan, sedangkan BI mengemban kepentingan menjaga kedaulatan NKRI dengan rupiah.

BI terus berkolaborasi, baik dengan TNI AL, Pemerintah Provinsi Maluku, pemerintah kabupaten dan kota,  juga dengan media massa untuk menyosialisasikan kepada masyarakat.

Untuk mendukung ekspedisi, Lantamal IX Ambon membawa tim kesehatan sebanyak enam orang dari Diskes Lantamal IX dan Rumkital dr. F.X. Suhardjo untuk melakukan bakti kesehatan dan penyuluhan.

Ekspedisi Rupiah Berdaulat juga menjadi sarana bagi BI untuk menyosialisasikan cara merawat uang di kalangan pelajar maupun penyerahan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) kepada kelompok seni di tiga pulau yang disinggahi serta diskusi tentang pariwisata Banda Neira bekeja sama dengan LKBN ANTARA Biro Maluku dan Maluku Utara.


Antusiasme warga

Terik Matahari tidak menyurutkan semangat masyarakat Banda, wilayah penghasil rempah pala, kayu manis, mengantre di kawasan pasar yang berdekatan dengan pelabuhan, demi menukarkan lembaran uang yang sudah lusuh atau sobek untuk diganti dengan uang emisi baru yang dikeluarkan BI pada 17 Agustus 2022.

Peredaran uang di pulau itu cukup besar dari hasil perkebunan serta perikanan.  Pertumbuhan usaha kerajinan rumah tangga yang ikut menunjang kegiatan wisata budaya, sejarah, dan bahari, juga membuat Banda kini makin ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Masyarakat Banda sejak pagi hari telah menanti kehadiran petugas kas keliling untuk menukarkan uang. Mereka berbaris rapih dikawal ABK KRI Dorang 874 yang melakukan pengamanan dan pengawalan ketat  tim kas keliling BI, agar warga dapat menukarkan uang.

Aktivitas penukaran uang dipantau langsung Kepala Kantor Perwakilan BI Maluku Bakti Artanta, yang sekaligus mengedukasi metode 5J: jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distapler, jangan diremas, dan jangan dibasahi.

Masyarakat diminta senantiasa merawat rupiah agar uangnya tetap layak edar dan tidak mudah rusak. Uang layak edar memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengenali keaslian uang rupiah.

Untuk memastikan keaslian uang rupiah kertas, salah satu cara yang mudah dilakukan adalah dengan metode 3D (dilihat, diraba, diterawang). Baik metode 3D maupun metode lain untuk mengenali keaslian uang, seperti menggunakan alat bantu berupa lampu UV dan kaca pembesar, memerlukan fisik uang kertas secara langsung dan tidak dapat dilakukan hanya melalui foto atau gambar.

Amina, warga Banda, memanfaatkan ekspedisi Rupiah Berdaulat di Pulau Banda untuk menukarkan uang yang lusuh, sobek, dan tidak dapat digunakan lagi.

Sebagai pedagang, Amina tetap menerima uang sobek dan rusak dari warga yang datang berbelanja di toko. Kalau memberikan uang kembalian yang sobek kepada pembeli, mereka tidak akan menerima. Uangnya sobek dan lusuh tetap disimpan dan akan ditukarkan kembali di bank.

Rahma juga memanfaatkan kunjungan tim ekspedisi kas keliling untuk menukarkan uang yang sudah sangat lusuh. Uang lusuh bernilai lebih dari Rp600 ribu itu disimpan dalam satu kantong kresek berukuran sedang. Uangnya telah dipisahkan berdasarkan jenis pecahan Rp1.000, Rp2.000, Rp5.000, dan Rp10.000.

Sebagai pedagang, ia kerap mengumpulkan uang lusuh serta sobek dari warga yang datang membeli kebutuhan pokok. Uang lusuh dan sobek yang terkumpul baru ditukarkan dengan uang kertas baru dan layak edar ketika ada petugas kas keliling yang datang.

Warga Banda berharap setiap saat dapat menukarkan uang sobek dan rusak di dua bank yang ada di Pulau Banda, yakni Bank Maluku dan Maluku Utara juga BRI, tanpa harus menunggu kehadiran tim ekspedisi kas keliling BI.

Kegiatan kas keliling dan penukaran uang, menurut Bakti Artanta, ke depan  terus digencarkan sebagai salah satu cara bank sentral menjaga kedaulatan di wilayah NKRI, terutama di daerah 3T.

Kegiatan tersebut juga untuk menjamin ketersediaan uang kartal layak edar di seluruh wilayah NKRI, termasuk di pelosok dan yang paling jauh dari ibu kota pemerintahan. (Penina Fiolana Mayaut/ant)

Share:
Komentar

Berita Terkini