Meiltha de Keyzer, Berawal dari Hobi, Meski Bukan Arsitek, Namun Buahkan Usaha "Meyta Interior"

Share:

satumalukuID – Figur perempuan ini bukanlah berlatar belakang pendidikan teknik arsitektur atau desain interior. Namun hobi, kemauan dan kerja keras lah yang membuatnya kini dikenal sebagai salah satu desainer ruangan atau penata gedung dan rumah yang diperhitungkan di Kota Ambon.

Itulah Meiltha de Keyzer atau yang sering disapa Meyta. Belakangan ini ia dikenal dengan bendera usaha “Meyta Interior” yang kantornya terletak di Jln Wolter Monginsidi Lateri 1 Ambon.

Meyta yang lahir 14 Mei 1978 ini. Tidak punya basic pendidikan formal arsitek atau desain interior. Ia hanya alumni

Jurusan Pariwisata SMK Negeri 5 dan melanjutkan kuliah di FKIP Unpatti jurusan Bahasa Inggris, namun tidak selesai.

“Ini semua karena anugerah Tuhan. Beta awalnya cuma hobi menata perlengkapan dan aksesoris di rumah juga bikin kreasi benda. Eh ternyata ada teman dan kenalan yang suka dan berminat lalu beli atau pesan,” kisah Meyta, saat awali obrolan dengan media ini, Jumat (11/2/2021).

Dari pengalaman itu. Meyta berpikir positif. Kenapa tidak buka usaha itu saja? Ia lantas menambah wawasan dan belajar secara otodidak dengan membaca berbagai referensi baik di buku atau internet.

Setelah merasa sudah siap dan punya modal. Ia beranikan diri buka usaha dagang dengan nama “Meyta Interior” pada tahun 2005. “Nama usaha sebelumnya lain. Tetapi beta berpikir mandiri dan memilih nama itu untuk badan usaha,” katanya.

Ibu dari Isabella Nicole dan Thessalonika Elza ini memiliki moto hidup “”Setiap pengalaman dalam hidup diatur untuk mengajarimu sesuatu yang perlu kamu ketahui untuk maju”. Dengan moto itu memacu Meyta bekerja keras dan terus berinovatif sesuai trend interior.

Namun demikian, bukan tidak ada halangan dan rintangan saat merintis usaha desain interior. Meyta akui sempat dilanda badai rumah tangga sebagai tantangan terbesarnya untuk tetap eksis.

“Beta usaha sejak tahun 2005. Namun ada sedikit masalah privacy di 2011. Sempat vakum, tidak keluar rumah. Beta stop usaha sekitar dua tahun. Mungkin karena stress. Sempat terpuruk. Kembali ke titik nol. Baru tahun 2014 beta bangkit, konsen dan kerja keras sampai sekarang,” beber Meyta.

 

Waktu berjalan. Usaha yang dirintisnya secara perlahan mulai berkembang. Sambil sebagai single parent ia mengasuh dua anaknya. Meyta melihat anaknya yang pertama punya bakat dan minat pada bidang usahanya.

Lantaran itu, ketika anaknya lulus SMA. Ia mengarahkannya untuk kuliah di bidang seni khususnya desain interior. Akhirnya anaknya kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI Jogjakarta.

‘Puji Tuhan. Syukur beta anak sidah diwisuda tahun 2021. Dia sekarang berkolaborasi dengan beta di usaha. Ilmu nya langsung diterapkan. Yah, meski mama tidak sekolah tinggi desain, namun bersyukur anak bisa studi seni desain,” ungkapnya, bangga.

Meyta lantas mengaku untuk menjaga kualitas dan hasil maksimal desain nya, ia sendiri turun lapangan dan mengarahkan para pekerjanya. Sering ia turut terlibat hingga larut malam. “Untuk hasil terbaik, kita harus korban waktu dan tenaga. Itu sudah resiko kerja,” ujarnya.

Dicontohkan sistem kerja tim nya. Bila ada order interior, pihaknya ke lokasi melihat ukuran ruangan, rumah atau gedung. Selanjutnya mereka coba desain dengan gambar 3D (dimensi). “Bila cocok dan Ok. Kita masuk ke tahap progres dan rancang pekerjaannya,” jelas Meyta.

Salah satu hasil pekerjaan “Meyta Interior” terbaru adalah desain interior ruangan dan tampilan depan Gedung Dekranasda Provinsi Maluku di jalan Rijali, kawasan Belakang Soya. Bangunan yang sebelumnya kusam. Kini keren dengan wajah berbeda.

Tak cuma itu. Sebelumnya juga di Fakultas Kedokteran Unpatti, Kantor Dinas Indag Maluku, beberapa perumahan di Citraland dan lainnya. “Tahun ini ada order di beberapa perkantoran,” katanya.

Bagi Meyta mau sukses atau tidak bukan hanya karena pendidikan tinggi atau punya orang tua kaya. “Itu semua dari diri kita. Ada kemauan, kerja keras, lihat peluang, kreatif, terus belajar dan berserah pada Tuhan, pasti ada jalan dan solusi,” tambah Meyta.

Baginya sukses itu relatif. Kalau pun sulses bukan berarti sombongkan diri. “Kalau tulis beta, jangan yang tinggi tinggi atau wah. Rendah rendah saja. Sebab beta merasa tidak hebat. Tetapi semua ini karena kasih Tuhan. Jadi tidak perlu dibesar-besarkan jua,” ucap Meyta, merendah hati.

Teruslah berkiprah dan berkarya yang inovatif dan kreatif. Salut atas pilihan berusaha di luar latar belakang pendidikan. Jadilah inspirator bagi orang banyak dan tetaplah rendah hati. Sukses selalu. (NP)

Share:
Komentar

Berita Terkini