Sekilas Info

AKSI SOSIAL

Dwi Prihandini Susuri Pelosok Maluku Demi Misi Kemanusiaan

Photo: HO-dokumentasi pribadi/ant Pelayanan kemanusiaan yang dilakukan Dwi Prihandini (empat dari kiri) bagi penyandang disabilitas dan marjinal Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku pada September 2021.

satumalukuID - "Alam Maluku sangat indah bagai kisah surga, sayangnya di balik keindahannya banyak hal yang harus dirawat, salah satunya kemanusiaan" penggalan kalimat tersebut ditulis psikolog perdamaian Dwi Prihandini di akun Instagram miliknya dalam perjalanan pelayanan kemanusiaan di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD),Provinsi Maluku.

Keindahan alam Maluku membuat perempuan kelahiran Jember, Jawa Timur 9 September 1973 itu menginjakkan kaki dengan penuh semangat untuk melakukan misi pelayanan kemanusiaan di 11 kabupaten dan kota di Provinsi Maluku.

"Sampai hari ini sudah seluruh kabupaten dan kota di Maluku sudah terlayani, Kabupaten Seram Bagian Timur saya memang belum sampai di sana, tetapi pelayanan bagi kaum disabilitas sudah dijangkau melalui pemberian satu unit kursi roda dan bantuan kebutuhan pokok, sehingga semua telah terlayani," kata Dwi yang juga merupakan Direktur dan pendiri Clerry Cleffy Institute (CCI).

CCI adalah lembaga sosial yang didirikan untuk mengemban misi kemanusiaan di Maluku dan berfokus membantu kaum disabilitas dan kelompok marjinal.

Clerry Cleffy dikutip dari nama almarhum suaminya Clerry Cleffy Mailuhu, lelaki asal Ambon yang meninggal beberapa tahun setelah pernikakan mereka. Lembaga kemanusiaan itu pun menjadi bukti cinta mendalam Dwi Prihandini kepada sang suaminya.

Dengan kecintaan itu juga melahirkan cinta rasa empati Dwi yang kuat untuk memulai misi kemanusiaan membantu kaum disabilitas dan perempuan marjinal yang ada di pelosok daerah di Provinsi Maluku, dan selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah dan pihak manapun.

Yayasan yang dipimpinnya lebih memfokuskan pelayanannya kepada kaum marjinal dan penyandang disabilitas, karena faktor pendukung yakni tingkat kemiskinan yang juga menyebabkan keterbatasan akses pendidikan dan pemenuhan hidup sehari-hari.

Dalam perjalanan misi kemanusiaan itu banyak menemukan kondisi realitas bahwa para kaum marjinal bukan hanya mengalami keterbatasan fisik atau diskriminasi, tetapi juga mereka terbatas dalam pemenuhan hidup sehari-hari.

Bahkan dalam pelayanan mereka juga mendapati ada beberapa anggota keluarga yang dititipkan ke keluarga lainnya, karena keterbatasan taraf hidup dan ekonomi keluarga.

"Saya tidak berbicara tingkat pendidikan mereka, karena sudah jelas kalau tuna ganda tidak bisa sekolah. Fokus perhatian adalah bagaimana mereka bertahan hidup itu yang berat. Semoga dukungan dan bantuan yang saya berikan memberi secercah harapan bagi mereka, bahwa ada yang peduli, dan saya juga semangat untuk terus melakukan pelayanan," kata lulusan strata 2 psikologi Universitas Indonesia (UI) itu.

Selanjutnya 1 2 3 4

Baca Juga

error: Content is protected !!