Sekilas Info

Malra Peringati Tradisi “Nen Dit Sakmas” dengan Acara Seni Budaya

Photo: Siprianus Yanyaan/ant Lomba nyanyian Kei dan tiup suling yang jadi rangkaian untuk peringatan hari Nen Dit Sakmas di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.

satumalukuID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku Tenggara (Malra), Provinsi Maluku, menggelar sejumlah perhelatan seni budaya untuk memperingati tradisi Hari "Nen Dit Sakmas", tokoh perempuan yang dipercaya sebagai pembawa peradaban untuk kehidupan masyarakat Suku Kei.

Bupati Malra M. Thaher Hanubun, di Langgur, Kamis, mengatakan, masyarakat Malra memperingati Hari Nen Dit Sakmas setiap 7 September.

Meski begitu, Pemkab Malra pada awal September mulai menggelar sejumlah rangkaian kegiatan, salah satunya lomba nyanyian Kei dan tiup suling, yang ditaja oleh Dinas Kebudayaan Malra.

"Upaya melestarikan kebudayaan Suku Kei, hadirlah festival Nen Dit Sakmas, hajatan yang digagas oleh Pemkab Malra sebagai tanda apresiasi atas warisan seni budaya," kata Thaher saat membuka lomba nyanyian Kei dan tiup suling.

Ia mengatakan setiap daerah di Indonesia ciri khas dan kebudayaan yang berbeda-beda, sehingga hal tersebut membentuk keberagaman budaya yang memperkaya khazanah di Tanah Air. Menurut dia, budaya Kei sangat bernilai sehingga sudah sepatutnya selalu dihargai dan dijunjung karena merupakan harta peninggalan dari leluhur yang terus diwariskan sampai pada anak cucu.

Sejarah hidup dan perjalanan Nen Dit Sakmas menjadi akar lahirnya Hukum Larwul Ngabal serta menjadi pedoman Hidup Masyarakat Suku Kei. Para Akademisi dan ahli antropologi yang pernah meneliti tentang Hukum Adat Larwul Ngabal menyebutkan hukum adat larwul ngabal paling humanis dan sejalan dengan nilai-nilai keadaban, terutama di zaman sekarang yang semakin tidak lagi menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Tokoh Nen Dit Sakmas dipercaya berasal dari Bali yang datang ke Kepulauan Kei, sehingga ada keterikatan budaya antara Bali dan Kei.

"Tentu juga, suku lainnya memiliki kebudayaan dan ciri khas masing-masing, tapi sekalipun berbeda-beda itu justru harus tetap dijaga dan dilestarikan, dan setiap orang harus saling menghargai," ujar Bupati.

Ia mengakui masyarakat kini lebih suka menerima hal-hal yang baru kemudian meninggalkan tradisi. Karena itu, ia berharap tradisi Nen Dit Sakmas jadi momentum untuk bagaimana generasi muda ikut dilibatkan untuk terus mempertahankan budaya Suku Kei.

"Anak muda harus menjadi tokoh, generasi yang membawa tradisi yang dituangkan dalam nyanyian-nyanyian Kei secara turun temurun," pinta Thaher.

Perlu diketahui, dalam rangka memperingati Hari Nen Dit Sakmas tanggal 7 September 2021, Dinas Kebudayaan Malra menyelenggarakan beberapa kegiatan. Acara yang juga akan digelar antara lain perlombaan nyanyian tradisional Kei (Ngelngel, War-war dan Snehat) dan perlombaan meniup suling.

Kemudian, akan ada napak tilas perjalanan Nen Dit Sakmas pada 4 September 2021. Kemudian seminar peran perempuan Kei dalam kesetaraan gender pada tanggal 6 September, dan puncaknya adalah upacara peringatan Hari Nen Dit Sakmas pada 7 September 2021.

Penulis: Jimmy Ayal/ant
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!