Sekilas Info

OPINI

Demokrat, Antara Dulu, Kini dan Esok

satumalukuID/Istimewa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

PARTAI Demokrat ((PD) resmi terbentuk pada 9 September 2001. Ia lahir dalam suasana "rasa dizolimi" pada kekuatan kekuasaan ketika itu. Figur sentralnya adalah Menko Polhukam era tersebut, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan disertai beberapa inisiator atau pendiri lainnya.

Kehadiran PD pasca runtuhnya kekuasaan orde baru yang dipimpin Presiden Soeharto tahun 1998, bagaikan "air dahaga" di tengah "hausnya" masyarakat atas keinginan suasana baru dalam kehidupan demokrasi dan politik yang berlabel lama.

Setelah berdiri dan resmi tercatat sebagai partai politik berdasarkan SK Menkumham pada 9 Oktober 2001, PD yang berlambang bintang mercy itu cepat konsolidasi ke daerah-daerah dan soliditas tinggi. Meski banyak tantangan, namun kebersamaan dan militansi pengurus dan kader menjadi kekuatan perjuangannya.

Dalam tiga tahun saja. Warna biru khas PD berkibar songsong Pemilu 2004 baik legislatif maupun presiden dan wakil presiden. PD dengan SBY bagaikan menghipnotis rakyat Indonesia. Meski harus hadapi partai-partai lama yang sudah berakar seperti PDIP, Golkar dan PPP, tidak halangi PD sebagai parpol idola baru dalam pesta demokrasi 2004.

Itu terbukti pada hasil Pemilu 2004 baik di legislatif dan eksekutif. PD benar-benar fenomenal. Rakyat pemilih menentukan aspirasinya, kedaulatannya. Mereka seperti terbebas dari belenggu kekuasaan rezim orde baru. Dan PD menjadi pilihan.

Itu sejalan dengan tema penulisan ini "Demokrat Berkoalisi Dengan Rakyat" dan sub tema yang diambil "Bersama Kita Kuat, Bersatu Kita Bangkit".

Hasil Pilpres 2004 memperlihatkan data akhir yang mengejutkan. PD dan koalisinya yang mengusung pasangan SBY-Jusuf Kalla (JK) sukses mengalahkan calon presiden petahana, Megawati Soekarnoputri dengan pasangannya KH Hasyim Muzadi yang diusung PDIP dan koalisinya waktu itu.

Kemenangan SBY-JK sangat telak. Mayoritas provinsi yang merupakan basis PDIP, Golkar dan PPP serta parpol lainnya, tak mampu menahan laju pilihan rakyat untuk PD dan SBY-JK. Dimana-mana bendera biru berbintang mercy berkibar.

Sesuai data wikipedia.org. Rekapitulasi akhir Pilpres 2004 adalah pasangan SBY-JK memperoleh 66.266.350 suara atau 60,62 persen. Sedangkan duet Megawati Soekarnoputri-Hashim Muzadi hanya merebut 44.990.704 atau 39,38 persen. Itulah hasil pilihan rakyat yang tak bisa diganggu gugat.

Di legislatif DPR RI, pada Pemilu 2004 yang baru pernah diikuti PD. Hasilnya juga mengagumkan. Data resmi waktu itu PD sukses meloloskan 55 wakilnya mendapatkan kursi. Dengan meraih suara 8.455.225 atau 7,45 persen.

Kiprah PD terus berlanjut meski badai datang silih berganti. Pada Pilpres 2009 kembali lagi SBY sebagai petahana muaju capres bersama cawapres baru, Boediono. Hasilnya tetap dominan, meski ada dua pasangan pesaingnya. SBY-Boediono meraih suara 74.874.562 atau 60,8 persen.

Berikutnya duet usungan PDIP dan koalisi Megawati-Prabowo Subianto peroleh suara 32.548.105 atau 26,79 petsen. Posisi ketiga duet Jusuf Kalla-Wiranto yang diusung Golkar dan koalisinya raih 15.081.814 suara atau 12,41 persen.

Hal itu berbanding terbalik di hasil Pileg nya. Justru PD "ngamuk". Mereka melonjak kenaikkan kursi DPR RI lebih dari 100 persen. Tahun 2004 raih 55 kursi, naik drastis di 2009 yakni merebut 150 kursi dengan suara 21.743.137 atau 20,85 persen. Luar biasa!

KEMBALIKAN MARWAH PERJUANGAN

Sayangnya. Tokoh atau elit-elit PD di pemerintahan dan DPR RI ketika itu, dinilai terlalu euforia kesuksesan. Mereka tak ingat marwah perjuangan dan kebersamaan bersama rakyat pemilih. Jargon andalan "Lawan Korupsi" dan "Katakan Tidak" dilupakan. Akhirnya mulai dari petinggi partai, anggota DPR RI dan menteri dari PD terkena kasus korupsi dan diproses hukum.

Akibatnya. Seusai kepemimpinan periode kedua SBY sebagai Presiden RI. Datang badai silih berganti. Terutama elektabilitas PD melorot jauh pada Pemilu 2014 dan 2019. PD otomatis terpuruk pamornya di DPR RI. Kebersamaan dengan konstituen pemilihnya yang "mesra" pun memudar.

Namun perlahan tapi pasti. PD coba bangkit lagi. Itu dimulai dengan wajah baru pemimpin partai. SBY yang sudah berusia lanjut melakukan regenerasi dan berusaha kembali pada marwah kebetsamaan dengan rakyat. Untuk itu, pada Kongres V PD tanggal 15 Maret 2020 di Jakarta, secara aklamasi anak muda bernama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi menjadi Ketua Umum PD.

Di tangan AHY, marwah perjuangan partai untuk dekat bersama rakyat kembali dibangun. Perlahan namun pasti banyak terobosan dan kebijakan diambilnya. Misalnya saja peduli dan respon pada stuasi wabah virus corona (Covid 19) yang berdampak langsung pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

Seperti diberitakan berbagai media massa, PD cukup aktif mengkritik pemerintah. Sejak pertama kali kasus Covid-19 muncul di Indonesia, PD menjadi salah satu partai pertama yang memberikan rekomendasi kepada pemerintah. Dengan 6 rekomendasi yang diberikan, salah satunya saran untuk “lockdown” dalam waktu tertentu di beberapa wilayah terdampak. Itulah yang kita kenal dengan istilah PSBB dan PPKM.

Selain itu, dalam penanganan pandemi PD aktif memberi bantuan sosial, dengan Gerakan Nasional Partai Demokrat Peduli dan Berbagi yang sudah dilakukan sejak Maret 2020 lalu. Aksi nyata ini disambut baik oleh masyarakat.

Dampaknya berbagai survei mengungkapkan, elektabilitas PD meningkat. Bahkan dari hasil survei terakhir Voxpopuli menunjukkan PD berada di urutan ketiga, dengan persentase 11,2% tepat di bawah Partai Gerindra. Sementara untuk elektabilitas tokoh, Ketua Umum nya AHY juga selalu masuk ke dalam 5 besar. Ini berarti, masyarakat menaruh harapan kepada PD dan AHY.

Tetapi ibarat pohon yang kembali akan menjulang, dan pasti diterpa "angin". Lagi-lagi PD alami prahara. Muncullah kongres tandingan yang disebut KLB di Sumatera Utara. Saling klaim siapa yang sah pun terjadi. Namun terpaan "angin" berhasil dilalui setelah Menkumham menyatakan hasil KLB tersebut belum penuhi syarat.

Ke depan PD diharapkan back to basic dasar perjuangannya sebagai partai nasionalis religius. PD akan mampu besar lagi bila tetap konsen pada keberpihakan dan kepedulian untuk sosial ekonomi kerakyatan. Sebagaimana dialami di awal pendiriannya dan disambut hangat oleh rakyat pemilik kedaulatan.

Pada konteks lokal Maluku. PD yang masih eksis di DPRD Provinsi diharapkan lebih kritis dan pro rakyat. Terutama dalam berbagai permasalahan pemerintahan yang terjadi belakangan ini, termasuk untuk berbagai kebijakan eksekutif yang terkesan berjalan sendiri dan kurang memperhatikan program pemberdayaan ekonomi rakyat.

Bila nanti PD Maluku mampu menjawab harapan masyarakat. Otomatis rakyat akan menilai dan kembali merajut keberamaan serta turut bersama PD membangun Maluku, membangun Indonesia yang sejahtera dan demokratis.

Akhirnya. Selamat memasuki usia dua dekade. 20 tahun yang penuh dinamika. Partai Demokrat jaya, Indonesia bangkit dan maju. Semoga.(zairin salampessy, jurnalis satumaluku.id)

Baca Juga

error: Content is protected !!