Sekilas Info

Bupati Apresiasi Peringatan 100 Tahun Misionaris PBHK di Langgur

Photo: Siprianus Janjaan/ant Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun memberikan sambutan saat peringatan 100 tahun kehadiran Misionaris Suster Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) serta Monsinyur (Mgr) Johannes Aerts, MSC di Langgur, ibu kota kabupaten Maluku Tenggara, Sabtu (14/8/2021).

satumalukuID - Bupati Maluku Tenggara M. Taher Hanubun mengapresiasi peringatan 100 tahun kehadiran Misionaris Suster Putri Bunda Hati Kudus (PBHK) serta Monsinyur (Mgr) Johannes Aerts, MSC di Langgur, ibu kota kabupaten tersebut.

"Saya merasa bangga dan gembira menjadi bagian dari umat dan gereja Katholik di Kepulauan Kei, kabupaten Maluku Tenggara yang didirikan pada 100 tahun lalu," katanya, di Langgur, Senin.

Bupati pada Sabtu (15/8/2021) menghadiri syukuran 100 tahun kehadiran enam orang Suster PBHK serta 100 tahun Monsenyur (Mgr) Johannes Aerts, MSC.

Menurutnya, kehadiran enam orang Suter PBHK dan Monsenyur Johannes Aerts, merupakan kebanggaan sekaligus sejarah perkembangan agama dan gereja Katholik di kabupaten Maluku Tenggara .

Ia juga sempat menceritakan sejarah perkembangan gereja katholik di Kepulauan Kei yang dibacanya melalui sebuah majalah, bahwa di Langgur yang disebut oleh Mgr Johannes Aerts sebagai "tanah mulia, melahirkan Vikariat Apostolik kedua di Indonesia, setelah Vikariat Apostolik Batavia.

Bupati dengan lancar menceritakan bahwa pada 20 Juli 1920 Paus Benediktus ke-15 menunjuk Mgr. Johanes Aerts dari Tarekat MSC sebagai Uskup Tituler Apollonia, yang Kemudian pada 28 Agustus 1920 Tahta Suci memberinya tanggung jawab sebagai Vikaris Apostolik Nuova Guinea Olandese.

Selang sehari yakni pada 29 Agustus 1920 Vatikan meningkatkan status Nuova Guinea Olandese dari Prefektur Apostolik yang sudah berdiri sejak 22 Desember 1902, menjadi Vikariat Apostolik Nuova Guinea Olandese.

Vikariat itu kemudian saat ini dikenal oleh seluruh umat Katholik di Kepulauan Kei sebagai Keuskupan Amboina yang membawahi seluruh gereja katholik di provinsi Maluku dan Maluku Utara.

"Selain itu, tanah Langgur juga mencatat sejarah dengan kehadiran enam misionaris Suster PBHK pada 14 Juli 1920, sekaligus menoreh tinta emas dalam sejarah Gereja Katolik di Indonesia," tegasnya.

Kedatangan enam suster PBHK tersebut sekaligus menandai kehadiran kongregasi PBHK di lndonesia, dan Langgur menjadi tempat pertama Suster PBHK memulai karya pelayanannya.

"Saya juga bergembira karena sejak dahulu gereja dan umat Katholik di Kepulauan Kei turut serta menjaga tradisi maupun adat istiadat yang hidup dan berkembang di masyarakat daerah ini," ujar Bupati.

Selaku pemerintah, dia menginginkan tradisi tersebut tetap terjaga dan dipelihara, karena adat, agama dan pemerintah (tiga tungku) adalah benteng terakhir kehidupan kekeluargaan, persaudaraan dan kesejahteraan di tanah Kei.

"Atas nama Pemkab saya menyampaikan penghargaan yang tinggi dan rasa terima kasih mendalam kepada Hirarki Gereja Katolik yang telah turut serta membangun persaudaraan sejati, serta berkontribusi nyata dalam pembangunan kesehatan melalui berdirinya rumah sakit Hati Kudus Langgur, pendidikan dan pelayanan sosial lainnya di tanah Kei," tandas Bupati.

Bupati yang juga diangkat sebagai sahabat Suster PBHK berharap perayaan tersebut semakin mengokohkan solidaritas dan soliditas umat di Kepulauan Kei serta menjadi berkat bagi umat beragama dan masyarakat di Kabupaten  Maluku Tenggara.

Penulis: Jimmy Ayal/ant
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!