Sekilas Info

Tiga Tersangka Korupsi Pengadaan Speedboat di MBD Hanya Jadi Tahanan Kota

satumalukuID/Husen Toisuta Barang bukti kasus korupsi pengadaan speedboat di Dinas Perhubungan Kabupaten Maluku Barat Daya, tampak diangkut menggunakan mobil truk. Mobil ini tampak parkir di halaman Kantor Kejati Maluku, Kota Ambon, Senin (16/8/2021).

satumalukuID- Tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan speedboat di Maluku Barat Daya (MBD), yaitu Oddie Orno,  Margareth Simatauw, dan Rico Kontul, hanya menjadi tahanan kota.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku menyerahkan tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan empat buah speedboat di Dinas Perhubungan, Kabupaten MBD kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku.

Tiga tersangka masing-masing Oddie Orno, mantan Kadis Perhubungan MBD, Margareth Simatauw, Kontraktor Pengadaan Barang dan Jasa, dan Rico Kontul, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), diserahkan di Kantor Kejati Maluku, Kota Ambon, Senin (16/8/2021).

Pantauan satumaluku.id, penyerahan tiga tersangka bersama barang bukti atau tahap II dilaksanakan sejak siang hingga malam hari atau tepat pukul 21.46 WIT.

Barang bukti pengadaan speedboat diangkut menggunakan satu unit mobil truk dengan nomor polisi DE 8101 LU.

"Berdasarkan info dari JPU, bahwa benar telah selesai dilaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (BB) perkara pengadaan speedBoat di MBD," ungkap Kasipenkum dan Humas Kejati Maluku, Wahyudi Kareba kepada satumaluku.id.

Wahyudi mengaku, ketiga terdakwa dilakukan ditetapkan sebagai tahanan kota selama 20 hari ke depan.

"Ketiga terdakwa dilakukan penahanan untuk paling lama 20 hari, dengan pertimbangan alasan Subjektif dan alasan Objektif, para terdakwa dikenakan tahanan kota," tandasnya.

Untuk diketahui, kasus dugaan korupsi tersebut diselidiki Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku.

Kasus itu terungkap ke publik setelah BPK melakukan audit terhadap pembelian empat unit speedboat.

Pembelian itu dialokasikan dari APBD Kabupaten MBD tahun 2015 sebesar lebih dari Rp.1 miliar.

Dari hasil audit menunjukan adanya dugaan manipulasi anggaran. Sebab, empat buah speedboat itu belum juga dikirim ke Tiakur ibukota MBD sesuai waktu yang ditentukan.

Padahal, dana pembuatan empat buah speedboat bernilai miliaran rupiah tersebut sudah dicairkan 100 persen sejak pertengahan tahun 2016 lalu.

Saat BPK melakukan pengecekan, tersangka memerintahkan mengirimkan dua buah speedboat. Anehnya, dua buah dari empat speedboat yang dikirim dalam keadaan rusak. Saat ini empat buah speedboat mengalami kerusakan di pantai Tiakur.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!