Sekilas Info

Rumah Peradaban Seram Akan Dipusatkan di Situs Hatusua Maluku Tengah

Photo: Balai Arkeologi Maluku/ant Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Maluku sedang melakukan ekskavasi saat penelitian di Pulau Tidore, Provinsi Maluku Utara pada 2019.

satumalukuID - Situs Hatusua di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Maluku Tengah akan menjadi pusat kegiatan kepurbakalaan "Rumah Peradaban Seram" yang akan digelar oleh Balai Arkeologi Maluku pada September 2021.

"Rencananya September tapi karena situasi pandemi kami belum bisa memastikan kapan tanggal tepatnya, kami masih berkoordinasi dengan pihak pemerintah kabupaten," kata Kepala Balai Arkeologi Maluku Bambang Sugiyanto, di Ambon, Jumat.

Ia mengatakan Rumah Peradaban merupakan kegiatan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) dan Balai Arkeologi seluruh Indonesia sejak tahun 2015, guna memasyarakatkan hasil penelitian kepurbakalaan melalui berbagai aktivitas menarik yang juga melibatkan pelajar.

Untuk Provinsi Maluku dan Maluku Utara yang menjadi wilayah kerja Balai Arkeologi Maluku, kegiatan Rumah Peradaban baru mulai dilaksanakan pada 2016, di antaranya Rumah Peradaban Kepulauan Tanimbar dan Pulau Banda (2016), Rumah Peradaban Bahari Teluk Ambon dan Morotai (2017) dan Rumah Peradaban Megalitik di Mamuya, Maluku Utara (2020).

Tahun ini Rumah Peradaban Seram mengusung tema "Kebhinekaan". Penyelenggaraannya akan dipusatkan di Situs Hatusua yang mulai aktif diteliti oleh Balai Arkeologi Maluku pada 2015.

"Melalui kegiatan Rumah Peradaban Seram, kami mau mengajak pemerintah dan masyarakat setempat untuk lebih mengenal Situs Hatusua dan ikut menjaganya, karena peninggalan sejarah seperti itu harusnya dijaga," ucap Bambang.

Dikatakannya lagi, kegiatan Rumah Peradaban Seram akan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi, pameran arkeologi, kunjungan situs purbakala, lomba menggambar dan pembagian buku pengayaan yang memuat tentang arkeologi hasil penelitian di Pulau Seram.

Selain itu, Balai Arkeologi Maluku juga akan membagikan gratis alat peraga berupa batu penumbuk pakaian kulit kayu dan sejenisnya. Batu tersebut dibuatkan dari hasil temuan arkeologi di Pulau Seram.

"Buku pengayaan akan dibagikan secara gratis kepada peserta dan sekolah-sekolah di Seram Bagian Barat. Buku pengayaan memuat tentang hasil penelitian arkeologi di Pulau Seram dari masa prasejarah hingga masa kini," ujar Bambang.

Baca Juga

error: Content is protected !!