Sekilas Info

Dinas Pariwisata Maluku Akan Gelar Festival Hatta-Sjahrir di Banda Naira

satumalukuID/Husen Toisuta EO Baileo Production, Mark Ufie, saat memaparkan rencana kegiatan Festival Hatta-Sjahrir, di Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Kota Ambon, Minggu (8/8/2021).

satumalukuID- Dinas Pariwisata Provinsi Maluku akan menggelar Festival Hatta-Sjahrir di Banda Naira, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.

Festival dilakukan untuk mengenang dua tokoh nasional yaitu Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir yang pernah diasingkan di Pulau Banda Naira.

Mengusung tema Banda Naira: "Romantisme Masa Lalu Kejayaan Masa Depan", Festival akan digelar selama dua hari yaitu Kamis (12/8/2021) dan Jumat (13/8/2021).

Perwakilan Event Organizing (EO) Baileo Production, Mark Ufie, mengaku Festival Hatta-Sjahrir dimulai dengan Web Seminar Nasional (Webinar).

Webinar dimulai dari Laporan Plt Kepala Dinas Pariwisata Maluku, Marcus J. Pattinama, dan Welcome Speech dari Bupati Maluku Tengah, Abua Tuasikal.

"Selanjutnya ada sambutan dari Gubernur Maluku, Murad Ismail, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, dan Menteri Pariwisata dan Ekomoni Kreatif, Dr. Sandiaga Salahuddin Uno, sekaligus membuka seminar," kata Mark.

Di sesi pertama, bertindak sebagai keynot speaker dalam webinar ini yaitu Prof. Dr. Meutia Hatta, dan Siti Rabyah Parvati Sjahrir, yang memiliki relasi erat dengan kedua tokoh tersebut. Serta Prof. Dr. Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, yang memiliki background ilmu pendidikan, maupun adanya korelasi historis antara Banda dengan Batavia.

"Sesi kedua yaitu dialog yang akan dipandu oleh Wakil Rektor III Universitas Pattimura Ambon, Dr. Jusuf Madubun, dengan narasumber Babe Ridwan Saidi, Sejarahwan Nasional, Prof. Dr. Muh. Farid, Ketua STP STKIP Hatta-Sjahrir, dan Prof. Dr. Mus Huliselan, Sejarahwan Maluku," terangnya.

Kegiatan dimulai dengan seminar nasional, kata Mark, dimaksudkan untuk mengarusutamakan kembali cerita perjuangan kedua tokoh yang akrab disapa Bung Hatta dan Bung Sjahrir.

Sejahrawan Ridwan Saidi menguasai ilmu sejarah sekaligus saksi hidup sejarah masa perjuangan, Mus Huliselan memiliki latar belakang antropolog, dan Rektor STKIP Hatta-Sjahrir bagian dari perspektif masyarakat Banda.

"Maka alasan dihadirkannya para pemateri ini dikarenakan memiliki korelasi yang kuat dengan tema seminar ini," tambahnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat merefleksikan semangat juang para tokoh bangsa tersebut, juga menghadirkan kembali suasana pada saat itu agar dapat dirasakan khalayak umum saat ini.

"Festival rencananya dilaksanakan dua hari dengan rangkaian kegiatan utama; Seminar Nasional, Pameran Edukatif dan UMKM, Lomba Rakyat, City Tour, Pagelaran Seni dan Budaya," katanya.

Setelah webinar di hari pertama, selanjutnya akan dimeriahkan dengan pelaksanaan pameran UMKM dan lomba rakyat di hari kedua. Sehingga diharapkan akan menumbuhkan dampak positif terhadap pemulihan perekonomian masyarakat. Kemudian City Tour dapat membawa para pengunjung baik yang on the spot dan online ke pengalaman dan suasana kebatinan masa lalu kedua tokoh tersebut.

Selain itu, juga akan diselenggarakan pagelaran seni dan budaya yaitu dimeriahkan oleh kebudayaan Banda dan Minangkabau. Dua kebudayaan itu merupakan kolaborasi tampilan dari dua budaya berbeda. Keduanya dihadirkan sebagai momen keakraban sekaligus silaturahmi serta bagian dari representatif kedua tempat asal kedua tokoh tersebut.

"Tujuan utama ajang ini adalah sebagai promosi dalam mengeksplorasi dan memperkenalkan keindahan budaya alam Maluku khususnya Banda kepada dunia luar," sebutnya.

Keseluruhan rangkaian kegiatan, kata Mark, akan dilaksanakan secara offline maupun online (hybrid). Ini dilakukan dengan harapan tidak akan ada klaster penyebaran pandemi Covid-19, serta bisa dinikmati khalayak ramai meskipun tidak hadir langsung di lokasi penyelenggaraan.

"Jadi kegiatan di hari kedua tanggal 13 Agustus nanti, bisa disaksikan keseluruhannya melalui chanel youtobe dinas Pariwisata Maluku pada tanggal 15 Agustus 2021," terangnya.

Ia mengaku, Festival Hatta-Sjahrir dilakukan untuk mengenang kembali perjuangan mereka di Banda dalam masa-masa kedua tokoh itu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Ini juga untuk mengangkat kembali peranan keduanya untuk memajukan bangsa Indonesia, serta untuk menjaga warisan sejarah serta memajukan pariwisata Banda," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!