Sekilas Info

Sanggar Luleba Berinovasi di Tengah Pandemi COVID-19

Kegiatan sanggar seni Luleba festival suling bambu yang digelar sebelum pandemi COVID-19.

satumalukuID - Sanggar seni Luleba kota Ambon melakukan inovasi agar tetap bertahan dalam keterbatasan di masa pandemi COVID-19. "Keterbatasan di masa pandemi COVID-19 tidak menyurutkan mimpi besar kami agar seni tradisional modern berkembang, ditunjang semangat anak-anak untuk berlatih, walaupun tidak bisa tampil dalam pertunjukkan," kata Ketua Sanggar Luleba, Wilhelmina Tetelepta, di Ambon, Kamis.

Ia mengatakan, kegiatan latihan di sanggar saat ini dibatasi, karena anggota sanggar kebanyakan anak-anak usia SD hingga perguruan tinggi.

"Kita menghindari kumpulan dalam jumlah banyak, karena dikhawatirkan anak bisa terpapar COVID-19, yang tentunya akan muncul pengeluaran lebih banyak dari pemasukan. Antusias anak-anak untuk latihan sangat tinggi, tetapi saya tidak berani mengambil resiko, " ujar Wilhelmina.

Aktifitas sanggar pada 2020 yakni latihan tari tradisional,  modern dan alat musik, bahkan tampil dalam beberapa kegiatan yang difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebuayaan Provinsi Maluku.

Hanya saja, pada 2021, dibatasi sehingga tidak ada kegiatan apa pun di sanggar, tetapi komunikasi dengan sesama anggota sanggar justru semakin intens.

"Sanggar Luleba di awal pandemi COVID - 19 menjadi contoh bagaimana tetap beraktifitas, tetapi kita tidak mau mengambil resiko, dan dengan dukungan orang tua kegiatan sanggar dibatasi," kata Wilhelmina.

Pihaknya berupaya melakukan inovasi lain untuk mendapatkan penghasilan sanggar dengan melakukan penjualan makanan secara online.

Anggota sanggar terlibat bersama untuk memasarkan penjualan makanan secara online, tanpa harus berkumpul, dan sampai saat ini kegiatan penjualan masih tetap berjalan.

Sejak awal sanggar dibentuk  pada 2009. Pihaknya bergerak sendiri dan seiring berjalannya waktu sanggar itu mendapat perhatian dari pemerintah.

"Kita merasa harus berbuat sesuatu bagi Kota Ambon. Walau pun dalam kondisi pandemi COVID -19 kita tidak berharap banyak akan mendapat bantuan dari pemerintah, melainkan berupaya agar sanggar tetap ada, " katanya.

Ia berharap, pandemi COVID -19 segara berlalu sehingga mimpi besar dan rencana sanggar dapat terlaksana, yakni festival suling bambu yang dilakukan sebelum pandemi dapat berlanjut.

"Kami bersyukur rekomendasi bagi Pemkot Ambon untuk menerapkan pendidikan seni budaya khususnya suling bambu menjadi muatan lokal terjawab, dengan dimulainya mata pelajaran mulok di tahun ajaran baru," tandas Wilhelmina.

Baca Juga

error: Content is protected !!