Sekilas Info

IN MEMORIAM

Katje Mayaut; Pewarta Foto Tiga Jaman yang Humble Itu Telah Tiada

Om Katje Mayaut bersama rekan seprofesi Achmad Ibrahim yang juga pernah menjadi atasannya di Harian Suara Maluku Ambon.

satumalukuID - Pada era 1970 an hingga 2000-an, siapa tak kenal Katje Mayaut di kota Ambon? Lelaki asal Negeri Mahu, Pulau Saparua Maluku Tengah ini populer karena berprofesi sebagai wartawan foto atau pewarta foto yang kadang disebut juga fotografer.

Om Katje, begitu panggilan akrabnya, kini telah tiada. Ia menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit di usia 80 tahun pada pukul 09.20 WIT di kediamannya kawasan Kudamati Farmasi Atas, Kamis (29/7/2021).

"Papa memang belakangan sudah sakit. Meninggal di rumah saja," ujar Wilna Mayaut, salah satu anaknya.

Kepergian Om Katje yang semasa hidupnya dikenal humble, gesit, gaul dan familiar ini, membuat komunitas wartawan di Ambon Maluku dan juga seluruh Indonesia, maupun mantan pejabat menyampaikan turut berdukacita di media sosial.

"Turut berdukacita yang dalam, terutama untuk keluarga besar Suara Maluku. Salah satu wartawan foto legendaris dari Ambon, selain almarhum Chris de Fretes. Kini, keduanya telah pergi. Sangat sedih, ditinggal dua dokumentator Ambon paling terdepan dan tak mengenal takut. Aku pernah bertemu dia, he is a good guy. Salam hormat," tulis Wahyuana Wardoyo, mantan Kordinator Maluku Media Centre (MMC) pertama dari Jakarta.

"Sosok yg slalu menyenangkan saat liputan bareng di lapangan. Slmt jalan Om Kace. Turut berduka cita. Smoga slalu tenang disisiNya," ungkap Sahlan Heluth, mantan direktur Ambon Tv.

"Turut berdukacita .Trima kasih banya atas kerjasama yg sgt baik..ketika itu dng biro Humas.. Smg dapat tempat yg layak dlm kerajaanNya," tulis Lies Ulahayanan, mantan Kadis Infokom Maluku.

Sementara itu, rekan seperjuangan om Katje Mayaut yakni Etty Manduapessy yang kini berada di Jakarta, mengatakan, almarhum itu punya seabrek pengalaman meliput dan saksi dari berbagai perjalanan sejarah media cetak dan pemerintahan di kota Ambon dan Maluku umumnya.

"Pak Katje itu saksi banyak peristiwa bersejarah," tutur Etty Manduapessy, salah satu pendiri mingguan dan harian Suara Maluku.

Profesi wartawan foto sebenarnya sudah dijalani Om Katje sejak usia muda. Ia sudah bergelut dengan dunia fotografi sejak tahun 1960 an.

Tiga orde atau era kekuasaan sudah dirasakannya. Mulai dari orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Bahkan hingga masa trend komputerisasi atau digital kini, Om Katje sempat berusaha untuk mempelajarinya.

"Wartawan sekarang enak. Semua fasilitas ada. Juga sudah moderen dengan peralatan dan internet. Tidak kotor tinta hitam dan debu kertas. Jadi tidak bisa bilang kuli tinta lagi. Yang paling berubah, wartawan sekarang bekerja tidak dibawah tekanan penguasa. Dulu jaman orde lama dan orde baru, berita disortir dan salah sedikit diperiksa penguasa," beber Om Katje dalam satu kesempatan berapa tahun lalu.

Menurut Etty Manduapessy, almarhum mulai karier wartawan foto di koran Pelopor Baru, lalu Pos Maluku, Berita Yudha, mingguan Nasional, mingguan Suara Maluku sampai berakhir pengabdian jurnalistiknya di Harian Suara Maluku hingga akhir hayat.

Ketika bergabung di Harian Suara Maluku pada tahun 1994. Ada banyak kenangan dalam kariernya. Contoh dua pengalaman menarik. Pertama, Om Katje yang sejak muda mengetik berita atau keterangan foto dengan mesin ketik, harus adaptasi dengan era komputerisasi.

"Wah. Beta seng tahu ketik kalo pake ini (maksudnya mengetik di layar komputer). Beta tulis keterangan foto di kertas jua. Nanti redaktur bantu ketik di layar. Maklum katong wartawan jaman mesin ketik. Biar yang muda-muda lebih maju jua," ucap polos Om Katje dengan dialek Ambon ketika itu.

Kedua, soal hasil karya fotografinya. Salah satu jepretannya saat acara Pekan Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional (PPKAN) di kawasan Gunung Nona Ambon tahun 1990-an yang dihadiri Presiden Soeharto waktu itu.

Bidikan kamera Om Katje dari dataran rendah ke arah lokasi acara tersebut di ketinggian dan ada tulisan PPKAN di dinding bukit karang puncak Gunung Nona yang dimuat pada halaman 1 Suara Maluku, mendapat pujian dari rombongan pejabat pusat dan daerah yang ikut rombongan Presiden Soeharto.

Banyak kisah pengalaman tugas liputannya baik di Ambon maupun kota-kota lain di Indonesia yang menarik. Om Katje totalitas sejak muda bergelut dan berkiprah sebagai fotografer. Ia tak berniat pindah profesi lain. Meski di era nya ia dekat dengan para penguasa.

Dua tahun lalu sebelum wabah pandemik Covid 19 sampai ke Ambon. Rekan-rekan wartawan yang lebih muda darinya, telah meminta beliau sebaiknya istirahat jua. "Justru kalo beta tidak kerja. Malah rasa sakit di rumah saja," katanya.

Om Katje benar-benar mencintai profesinya. Dan itu dibuktikan sampai akhir hayatnya. Tuhan yang memberi, Tuhan jualah yang mengambil. Selamat jalan wartawan tiga orde, selamat jalan senior. Pengabdian dan dedikasimu dikenang selalu. (novi pinontoan)

Baca Juga

error: Content is protected !!