Sekilas Info

Kasus Kematian Akibat COVID-19 di Maluku Didominasi Lansia

Photo: Shariva Alaidrus/ant Kabid P2P Dinkes Provinsi Maluku, Daud Samal (kanan) sebagai narasumber di "Pelatihan Jurnalis Vaksinasi COVID-19 dan Imunisasi Rutin" yang diselenggarakan oleh Unicef dan Yayasan Pelangi Maluku (28/7/2021).

satumalukuID - Data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Maluku menunjukan orang lanjut usia (lansia) antara 46 hingga 60-an tahun menjadi kelompok paling berisiko terhadap kematian akibat COVID-19 di daerah itu, dengan persentase mencapai 34,1 hingga 39 persen.

Secara nasional persentase kematian kelompok lansia akibat COVID-19 juga berada pada persentase tertinggi dari total kematian sejak pandemi merebak di Indonesia pada 2020, yakni 35,3 persen hingga 49,7 persen.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Maluku, Daud Samal di Ambon, Rabu, mengatakan risiko kematian kelompok lansia tertinggi berada pada usia 60-an tahun sebesar 39 persen, sedangkan tingkat kesembuhan hanya 5,6 persen.

"Yang paling berisiko adalah usia 60 tahun ke atas persentasenya mencapai 39 persen, kemudian usia 46-59 tahun sebesar 34,1 persen," katanya di "Pelatihan Jurnalis Vaksinasi COVID-19 dan Imunisasi Rutin" yang diselenggarakan oleh Unicef dan Yayasan Pelangi Maluku.

Risiko kematian akibat COVID-19 pada kelompok lansia, kata Daud, masih bisa ditekan dengan pemberian sesuai dengan tahapannya, tapi hingga saat ini cakupan vaksinasi lansia di Maluku masih di bawah 70 persen.

Dari 11 kabupaten/kota yang ada, hanya Kota Ambon yang mencapai 41 persen untuk vaksin tahap satu dan 32 persen untuk tahap dua, sedangkan 10 wilayah lainnya masih kurang dari lima persen.

Isu kesulitan akses ke tempat vaksinasi dan penolakan terhadap vaksin menjadi persoalan utama dalam upaya vaksinasi yang menyasar pada kelompok lansia.

Strategi untuk menggencarkan vaksinasi di kalangan lansia harus ada dukungan transportasi bagi yang kesulitan akses, mengintegrasikan posyandu lansia, termasuk menyediakan titik kumpul terdekat untuk para lansia seperti rumah ibadah, loket pengambilan gaji pensiun dan sebagainya.

"Kerja sama lintas sektor melibatkan tokoh-tokoh agama, pihak TNI/Polri dan media massa untuk sosialisasi jadwal, good practise dan menangkal hoaks menjadi faktor kunci," ujar Daud.

Dikatakannya lagi, stok vaksin COVID-19 yang tersedia di Maluku per 26 Juli 2021 hanya tersisa jenis Astrazeneca sebanyak 4.500 dosis, sedangkan Sinovac sudah habis.

Hingga dua hari lalu jumlah kumulatif sasaran vaksinasi COVID-19 di Maluku sudah mencapai 1.417.690 orang. Sasaran vaksinasi harian yang sudah terlaksana sebesar 8.464 orang, vaksinasi tahap satu sudah mencapai 161.805 dan tahap dua baru 60.009.

"Untuk stok vaksin yang disebarkan ke kabupaten/kota tidak bisa sekaligus banyak, tapi disesuaikan dengan target vaksinasi per hari, kami tidak bisa memberikan banyak karena menjaga penyimpanan vaksin agar tidak rusak," kata Daud.

Baca Juga

error: Content is protected !!