Sekilas Info

Tiga Kali Mangkir, Johana Soplanit Tersangka Korupsi Lahan Tawiri Akhirnya Dijemput Paksa

satumalukuID/Husen Toisuta Tersangka Johana Rahel Soplanit saat akan digiring ke Lapas Perempuan Ambon, Jumat malam (23/7/2021).

satumalukuID- Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku akhirnya menjemput secara paksa Johana Rahel Soplanit, tersangka kasus dugaan korupsi anggaran Pendapatan Asli Negeri Tawiri, senilai Rp.3,8 miliar.

Johana ditangkap di rumahnya, Kawasan Negeri Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Jumat (23/7/2021) sekitar pukul 11.00 WIT. Ia dijemput setelah tiga kali mangkir atau tidak datang memenuhi panggilan penyidik tindak pidana khusus Kejati Maluku.

"Sudah tiga kita kita panggil secara patut dan layak dan tidak diindahkan. Jadi kami tidak panggil lagi untuk ke empat kali, kami lakukan upaya hukum, upaya paksa dan tadi siang kita tangkap ibu Soplanit ini di rumahnya," kata Kepala Kejati Maluku, Rorogo Zega, kepada wartawan di aula Kantor Kejati Maluku, Kota Ambon, Jumat malam (23/7/2021).

Setelah dibekuk di rumahnya, Johana digelandang menuju kantor Kejati Maluku yang berada di jalan Sultan Hairun Ambon. Ia kemudian diperiksa sebagai tersangka oleh penyidik.

"Ada sekitar 21 pertanyaan yang kami tanyakan," tambah Rorogo Zega yang akan dilantik sebagai Direktur Ekonomi dan Keuangan pada Jamintel, Kejaksaan Agung RI, Kamis (29/7/2021) mendatang.

Baca juga; Raja, Saniri, dan Mantan Raja Negeri Tawiri Ambon Resmi Ditahan Jaksa

Usai diperiksa sebagai tersangka, Johana kemudian ditahan. Ia dibawa pada malam hari tadi di Rumah Tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Ambon, bilangan Passo.

Johana merupakan satu dari empat tersangka kasus korupsi Anggaran Pendapatan Asli Negeri Tawiri. Uang kejahatan yang dinikmati empat tersangka itu merupakan hasil dari pembebasan lahan untuk pembangunan dermaga dan sarana prasarana Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX Ambon di Negeri Tawiri tahun 2015.

Tiga rekannya yang sudah duluan ditahan dan dilimpahkan lebih dulu di Pengadilan Negeri Ambon yaitu Jacob Nicolas Tuhukeruw (JNT), Raja Negeri Tawiri, Joseph Tuhuleruw (JST), mantan Raja, dan Jerry Tuhuleruw (JRT), Saniri Negeri.

Dalam kasus ini, Johana mengaku sebagai pemilik lahan yang ternyata adalah aset milik Negeri Tawiri. Ia menikmati uang pembebasan lahan itu sebesar Rp.1,1 miliar dari Rp.3,8 miliar yang terjual.

"Tersangka nikmati uang Rp.1,1 miliar dari kerugian negara Rp.3,8," tambah Rorogo.

Baca juga; Korupsi Pembebasan Lahan untuk Dermaga Lantamal Ambon, Raja dan Mantan Raja Tawiri Jadi Tersangka

Tersangka Johana Rahel Soplanit sendiri menolak berkomentar saat digiring hendak menuju Lapas Ambon.

"Beta seng mau berkomentar," kata Johana saat ditanya wartawan.

Johana sendiri membenarkan kalau dirinya sebagai pemilik lahan yang dibebaskan untuk pembangunan Markas TNI Angkatan Laut tersebut.

"Beta pemilik lahan, ok ade-ade, terima kasih," tandasnya sembari masuk dalam mobil tahanan Kejaksaan DE 8478 AM.

Untuk diketahui, kasus ini berawal saat pembangunan Jembatan Merah Putih (JPM). Pembangunan JMP membuat sejumlah kapal TNI Angkatan Laut (AL) tidak bisa melintas menuju markas Lantamal Ambon di Halong.

TNI AL kemudian meminta penggantian lahan dan oleh negara memberikan melalui balai jalan. Kemudian dilakukan pembebasan lahan di Tawiri.

Uang pembayaran dari hasil pembebasan lahan merupakan Pendapatan Asli Negeri Tawiri. Sebab, lahan yang dijual tersebut merupakan tanah negeri.

Mestinya uang masuk ke rekening negeri Tawiri untuk dinikmati masyarakat setempat. Sayangnya, uang miliaran rupiah itu masuk ke rekening Raja Negeri. Lantas digunakan untuk kepentingan pribadi dan memperkaya orang lain.

Lahan pembebasan itu, dibuat seolah-olah milik Raja dan keluarganya, dengan membuat surat-surat lahan.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!