Sekilas Info

Napi Lapas Ambon Meninggal Dunia Terpapar Covid-19 di RSUD Haulussy

satumalukuID/Istimewa Ilustrasi: pemakaman seorang warga yang meninggal akibat terpapar Covid-19 di TPU Hunuth Kota Ambon.

satumalukuID- Seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Ambon berinisial JL meninggal dunia akibat terpapar Covid-19.

Pria 63 tahun yang menghuni blok khusus perkara korupsi itu tutup usia di RSUD dr. M. Haulussy, Kota Ambon, Jumat pagi (16/7/2021).

Almarhum JL merupakan mantan Kepala PDAM Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Sebelum meninggal, ia sebelumnya sakit pada Kamis (15/7/2021) sore.

Sempat mendapat tindakan di Poliklinik Lapas, almarhum kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Otto Kuyk Passo.

Selanjutnya, oleh dokter setempat merujuk yang bersangkutan ke RSUD Haulussy, kawasan Kudamati Ambon.

"Saat di RSUD hasil rapid antigen almarhum positif Covid-19," kata Kepala Lapas Klas IIA Ambon Saiful Sahri kepada satumaluku.id melalui telepon genggamnya, Sabtu (17/7/2021).

Setelah mendapat perawatan medis di RSUD Haulussy, Saiful mengaku pihaknya kemudian menghubungi pihak keluarganya.

"Kita hubungi keluarga almarhum dan mereka datang," katanya.

Sempat mendapat penanganan medis, tapi ajal berkata lain. Almarhum menghembuskan nafas terakhir.

Kematian almarhum menyisahkan duka yang mendalam. Saiful juga mengaku tidak menyangka yang bersangkutan bisa tertular virus pandemi tersebut.

Sebab, upaya maskimal dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat sudah diterapkan. Seperti selama sepekan dilakukan dua kali penyemprotan cairan disinfektan, maupun pembagian masker.

"Semuanya sudah kita maksimalkan, ada tempat cuci tangan semua sudah kita siapkan. Jadi protokol kesehatan sudah kita laksanakan, semua titik sudah kita maksimalkan. Mereka ini kan rata-rata punya penyakit bawaan ada," sebutnya.

Mantan Kepala Rutan Piru itu mengaku sebelum meninggal almarhum sudah menjalani vaksinasi dosis pertama. Ia masuk kategori lanjut usia (lansia).

"Saiful mengaku Lapas Ambon seluruhnya sudah melaksanakan vaksin tahap I. Sekarang mau vaksin tahap II tapi dinas lagi belepotan dengan tenaga, tapi sudah diagendakan," sebutnya.

Menurutnya, almarhum masuk kategori lansia sehingga pelayanan pemeriksaan kesehatan rutin dilaksanakan.

"Jadi kalau lansia itu satu minggu tiga kali kita datangi mereka untuk lakukan pemeriksaan, cek up darah dan segala macam," katanya.

Sebelum tutup usia, almarhum mengeluh sakit saat menjelang malam. Kala itu para tenaga medis sudah pada pulang. Petugas jaga kemudian membawanya ke Poliklinik Lapas Ambon.

"Setelah diambil tindakan di Poliklinik Lapas Ambon, kurang lebih 15 menit kami lalu membawanya ke rumah sakit Otto Kuyk. Setelah diambil tindakan, almarhum kemudian dirujuk ke RSUD Haulussy," katanya.

Jauh sebelum kejadian itu, Saiful mengaku pihaknya sudah meminta Dinas Kesehatan Kota melalui Puskesmas Passo, untuk dilakukan pemeriksaan swab PCR.

"Kami minta agar dapat deteksi dini dengan cuaca yang ada ini. Sehingga kalau ada yang reaktif katong (kami) karantina sesuai SOP, makan diatur, obat diatur," ungkapnya.

Saiful juga mengaku telah menghubungi pihak tenaga kesehatan pada Puskesmas Passo agar secepatanya dapat melakukan tracking kepada para Warga Binaan Pemasyarakat (WBP) di Lapas Ambon.

"Tadi sudah koordinasi dengan dokter Yusda, kepala Puskesmas Passo, saya bilang kalau boleh dalam waktu dekat jangan terlalu lama, karena ini 500 (orang WBP) loh. Bagaimana kalau kita sampling dulu dari pegawai kemudian dari WBP 100 orang, yang penting ada eksen, nah dong (mereka) janji minggu depan," ungkapnya.

Saat ini, lanjut Saiful, pihaknya telah memberikan himbauan kepada WBP agar tidak panik. Termasuk kepada dua orang rekan almarhum yang menempati ruangan yang sama.

"Saya juga sudah menghimbau agar seluruhnya tidak panik. Kenapa, karena panik juga bisa berdampak ke mana-mana. Kita sudah menghimbau agar warga tidak keluar dari lingkungan blok masing-masing," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!