Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTON

Ikut Jejak Para Senior Nona Ambon, Alvin Tehupeiory akan Berlaga di Olimpiade Tokyo 2020

FOTO: ANTARA Alvin Tehupeiory, sprinter Maluku saat memenangkan nomor 100 meter putri di ajang Kejurnas Atletik 2019 di Stadion Pakansari Bogor, Agustus 2019 lalu.

IBARAT jejak estafet. Silih berganti tak habis. Itulah sejarah yang tercatat pada atlet atletik atau pelari putri nomor sprint (jarak pendek) Indonesia yang ikut even olahraga akbar sejagat raya Olimpiade, selalu dikuasai nona-nona asal atau berdarah Ambon, Maluku.

Fakta itu seperti sudah jadi tradisi. Kali ini, untuk ajang Olimpiade Tokyo 2020 (2021) cabang atletik Indonesia mengikutsertakan dua pelari sprinter. Yaitu Lalu Muhamad Zohri (NTB) dan Alvina Tehupeiory (Maluku). Keduanya akan turun berlaga di nomor 100 meter putra putri.

"Iya. Saya kaget ketika nama masuk untuk ikut serta di arena Olimpiade Tokyo. Saya bersyukur bisa diberikan kesempatan melalui jatah wild card tampil di Olimpiade," ungkap Alvin yang dihubungi satumaluku.id via medsos nya, Sabtu (17/7/2021).

Alvin akan turun di nomor 100 meter putri Olimpiade Tokyo. Catatan waktu terbaiknya yaitu 11,64 detik. Ia tidak turun di nomor spesial lainnya yakni 200 meter.

Targetnya? "Untuk target utama. Beta ingin perbaiki rekor pribadi. Selan itu, juga untuk peroleh pengalaman bertanding dengan pelari-pelari top dunia," ujar peraih dua medali emas Kejurnas 2019 dan medali perak pada kejuaraan atletik di Singapura 2019 ini.

Alvin Tehupeiory sehari-hari juga adalah anggota Korps Wanita TNI AD (Kowad) berpangkat Sersan Satu dan berdinas di Bagian Hukum Kodam XVI Pattimura.

Dengan ikut sertanya Alvin yang lahir 5 Juli 1995 di Negeri Hutumuri, kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, maka dia melanjutkan kiprah dan jejak sprinter putri Indonesia asal Ambon Maluku di even-even bergengsi tersebut.

Pasalnya, sejak era 1960 an hingga 2000 an, sprinter putri berdarah Ambon Maluku yang selalu membawa nama bangsa dan negara Indonesia di berbagai ajang olahraga multi even.

Tradisi itu sudah dimulai oleh sprinter Welly Tomasoa di arena Asian Games 1962 dan pesta olahraga Ganefo 1963. Usai masa kejayaan Welly Tomasoa, muncul lagi penggantinya di era 1970 an.

Yaitu hadirnya generasi Carolina Riewpassa. Carolina yang besar di Makassar, menjadi ratu atletik Indonesia. Ia mulai menonjol ketika merebut medali emas PON 1969. Berlanjut meraih dua medali perunggu 100 dan 200 meter pada Asian Games 1970 di Bangkok.

Tak sampai disitu. Carolina mampu berprestasi spektakuler dan membuat sejarah dunia atletik Indonesia. Lantaran dia lolos ikut dua kali Olimpiade yaitu pada 1972 di Munchen dan 1976 di Montreal Kanada. Di Munchen meski gagal di 100 meter, namun pada nomor 200 meter Carolina lolos hingga perempatfinal.

Era Carolina berakhir. Pada dekade 1980 an muncul lah masa pelari putri Emma Tahapary. Emma mewakili DKI Jaya di arena nasional. Namun marga nya paten asal Maluku. Emma pun berprestasi di level Asia Tenggara hingga Asia.

Prestasi Emma Tahapary mencapai puncaknya pada 1984. Saat ia lolos ikut Olimpiade Los Angeles. Kiprah Emma adalah yang terbaik untuk pelari putri Indonesia. Pasalnya, pada nomor 200 meter Emma mampu lolos hingga semifinal.

Bagai lari estafet. Ketika prestasi Emma mulai menurun karena usia. Muncul lagi sprinter putri Indonesia dari Jawa Timur di akhir 1980 an masuk 1990, namun berdarah Maluku yakni Henny Maspaitella. Henny berprestasi di level Asia Tenggara dan Asia.

Saat Henny sudah senior. Di tahun 1996 ketika PON Jakarta berlangsung. Lahir lah striker putri Indonesia baru yaitu Irene Truitje Joseph. Dia sukses menjadi ratu atletik nasional di usia belasan tahun pada nomor 100 dan 200 meter dan Asia Tenggara di dekade 1990 an hingga awal 2000.

Irene Joseph sukses meraih medali emas 100 meter pada arena SEA Games 1999 di Brunei Darusalam. Karier Irene mencapai puncaknya ketika ia lolos ikut Olimpiade 2000 di Sidney Australia. Sayangnya, Irene sering dilanda cedera hingga akhirnya undur diri di usia masih potensial.

Hilangnya kejayaan Irene Joseph. Tidak memutuskan jejak nona Ambon Maluku untuk jadi ratu atletik nasional. Karena pada 2008 muncullah Viera Hetharie. Namun Viera lebih fokus pada nomor 400 meter dan 400 meter gawang serta estafet. Prestasi terbaiknya adalah tiga medali emas di PON 2008 dan juga masuk Pelatnas SEA Games.

Dan kini. Tongkat estafet ratu atletik Indonesia yang berasal dari Ambon Maluku dipegang oleh Alvina Tehupeiory. Prestasi terbaiknya selain dua emas nomor 100 dan 200 meter pada Kejurnas 2019, juga dia mampu pecahkan rekor nasional 200 meter yang sudah bertahan 21 tahun milik seniornya Irene Joseph.

Meskipun ikut Olimpiade Tokyo karena wild card. Namun Alvin mencatatkan dirinya dalam sejarah atletik Indonrsia. "Saya siap bertarung di Olimpiade. Walaupun selama tahun 2020 tidak ada kejuaraan karena pandemik Covid 19," tuturnya.

Sementara itu, ikutnya Alvin di ajang Olimpiade Tokyo mendapat respon dan dukungan doa dari atasannya tempat dia berdinas sebagai Kowad yaitu Pangdam XVI Pattimura, Mayjen TNI Jeffry Rahawarin.

Menurutnya, jajaran Kodam Pattimura bangga atas prestasi Alvin. Ia berharap Alvin dapat tampil yang maksimal dan terbaik untuk bangsa dan negara Indonesia tercinta.

"Kami berdoa dari mendukung perjuangannya. Semua warga anggota TNI terlebih khusus Kodam XVI Pattimura dan masyarakat Maluku bangga, semoga mendapat hasil yang terbaik," ungkap Mayjen Jeffry Rahawarin.

Selamat dan semoga sukses nona Ambon manise. Berjuanglah untuk merah putih di arena bangsa-bangsa itu. Doa dari anak-anak negeri menyertaimu. (novi pinontoan)

DATA PRESTASI

2019, medali emas 200 meter Kejurnas di Cibinong, Bogor
2019, medali emas 100 meter Kejurnas di Cibinong, Bogor
2019, medali perak kejuaraan atletik di Singapura
2018, medali emas 200 meter Jakarta Indonesian Championships
2018, medali emas lari gawang 400 meter Jakarta Indonesia Championships
2014, medali perunggu Asian U20 lari gawang 400 meter di Taipei Taiwan.

Baca Juga

error: Content is protected !!