Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN

Sepakbola Batal Pulkam, Southgate Ulangi Kisah Sedihnya 25 Tahun Lalu

Gareth Southgate ketika gagal tendang penalti di Euro 1996 ke gawang Jerman. -dok-

Tim langit biru, Gli Azzuri atau Italia sukses jadi jawara Piala Eropa 2020 (Euro). Mereka mampu bungkam Inggris di stadion Wembley London, melalui adu penalti yang berakhir 3-2 setelah waktu 90 menit dan extra time skor bertahan 1-1.

Lagi-lagi tim tiga singa gagal. Tagline mereka sejak jadi tuan rumah Euro edisi 1996 yakni "football is coming home" atau sepakbola kembali ke rumahnya alias pulang kampung (pulkam), tidak terwujud. Malah fans Italia memplesetkan jargon itu jadi "football is coming to Rome".

Sepakbola pulkam ke Inggris? Benarkah olahraga terbanyak penggemarnya di muka bumi ini berasal dari negerinya ratu Elisabeth?

Pasalnya, asal muasal sepakbola sejatinya masih jadi perdebatan sampai kini. Dari berbagai referensi, bentuk awal mula olahraga ini adalah 'Cuju' yang dimainkan di Tiongkok di era kekuasaan Dinasti Han dari 206 SM hingga 220 M.

'Cuju' berarti 'tendang bola' dan tujuan permainan ini adalah menendang bola ke dalam gawang. Persis seperti sepakbola era modern, Cuju juga melarang penggunaan tangan dalam permainan.

Selain itu, pada zaman Yunani kuno olahraga serupa sepakbola dikenal dengan sebutan 'Episkyros' yang bermakna 'bola umum', melibatkan dua tim berisi sejumlah pemain yang memperebutkan satu bola. Bedanya, 'Episkyros' memperbolehkan pemain memakai tangan dan tidak jarang permainan ini berlangsung keras.

Terlepas dari berbagai versi asal sepakbola, Inggris layak disebut sebagai peletak dasar regulasi baku permainan terpopuler jagat raya. Peraturan ini pertama kali ditetapkan oleh federasi sepakbola Inggris, Football Association (FA) pada 1863.

Sebelumnya sepakbola sudah biasa dimainkan di Inggris. Namun, tanpa aturan yang berlaku universal, gim kerap kali dilakoni secara serampangan. Saat itu lain tempat, lain pula regulasinya. Aturan Cambridge misalnya, berbeda dengan aturan Sheffield. Tak heran kalau banyak muncul kebingungan di antara pemain.

Tentang aturan sepakbola, ada satu sosok bernama Ebenezer Morley kerap dijuluki Bapak FA alias PSSI-nya Inggris. Ia berjasa mencetuskan pertemuan historis yang melibatkan 12 klub pada 26 Oktober 1863 untuk meratifikasi peraturan sepakbola yang berlaku umum.

Meski terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, termasuk salah satu yang paling baru pemakaian VAR, pada dasarnya regulasi sepakbola masih tetap mempertahankan konstitusi dan tujuan yang disepakati pada waktu itu.

Sebagaimana diketahui, sepakbola secara global kini berada di bawah naungan FIFA, yang pertama didirikan pada 1904, 41 tahun setelah FA.

IFAB (International Football Association Board) adalah 'penjaga' Laws of the Game dan dijalankan oleh FIFA serta empat asosiasi sepakbola Britania Raya (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara).

Jadi, walaupun bukan penemu "asli" sepakbola, mesti diakui Inggris berperan besar menciptakan suatu standar aturan yang membuat permainan ini dapat dinikmati semua orang di seluruh dunia.

Sayangnya. Tagline "football is coming home" yang sering digelorakan Inggris, tak sebanding dengan prestasi timnasnya. Tim tiga singa ini memang pernah juara Piala Dunia 1966 saat mereka jadi tuan rumah di stadion Wembley London.

Namun untuk level Eropa. Inggris dihantui kegagalan terus. Akibatnya prestasi tertinggi mereka sebelumnya hanyalah dua kali semifinalis. Jadi, meskipun gagal juara pada Euro 2020 ini. Tetapi inilah prestasi tertinggi Inggris di dataran Eropa yaitu pertama kali jadi finalis.

KISAH SEDIH SOUTHGATE

Kegagalan Inggris merebut gelar Euro 2020 di partai final, disesali fans setia mereka. Tangis, sedih, tak percaya, hingga emosi pun mereka tumpahkan melalui ekspresinya maupun komentar netizen di dunia maya.

Mayoritas pendukung the three lions, menyesalkan keputusan sang arsitek Gareth Southgate menunjuk tiga penendang penalti yaitu Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka..

Salah satu akun tweeter misalnya mengkritik Southgate. Menurutnya, Rashford dan Sancho dicadangkan berjam-jam, sedangkan Saka yang tidak punya pengalaman tendang penalti di turnamen besar ditunjuk jadi penendang ke lima.

"Rashford berada di lapangan 45 detik. Jadon 45 detik. Saka pemuda 19 tahun. Mereka dimainkan hanya untuk menendang penalti yang gagal?," kritiknya.

Legenda Manchester United, Roy Keane pun menanyakan keputusan Southgate itu. Ia tak habis pikir keputusan Southgate membiarkan pemain matang dan pengalaman menyaksikan kegagalan itu.

"Jika kamu Sterling atau Grealish, kamu tidak bisa duduk di sana dan membiarkan anak muda (Saka) melakukan penalti di depanmu. Kamu tidak bisa biarkan seprang 19 tahun yang pemalu naik di depanmu, Sterling sudah menang banyak trofi, mereka harusnya ada di depan si anak muda dan berdiri" tutur Keane pada ITV.

Atas kritikan yang banyak disampaikan padanya. Southgate punya alasan dan bertanggungjawab untuk keputusannya.

"Ini adalah keputusan saya untuk memberi Saka penalti itu. Itu sepenuhnya tanggung jawab saya. Bukan dia atau Marcus atau Jadon," katanya usai pertandingan.

Dirinya beralasan jika Bukayo Saka merupakan penendang penalti yang andal saat latihan. Lantaran hal tersebut dia tak ragu untuk mempercayakan nasib Inggris pada pemain berusia 19 tahun itu.

"Itu adalah tanggung jawab saya. Saya memilih orang-orang untuk mengambil tendangan," ujarnya.

Polemik masih terus berlangsung. Namun yang pasti Inggris gagal memulangkan sepakbola ke rumahnya. Dan di sisi lain. Italia memberi pelajaran bahwa sepakbola bukan hanya tentang taktik, strategi, teknis dan pemain handal. Tetapi faktor non teknis juga utama. Yaitu mentalitas bertanding dan pengalaman.

Kegagalan Inggris tersebut. Seperti memutar memori pahit saat menjadi tuan rumah Euro edisi 1996, 25 tahun lalu di stadion Wembley pula. Ironisnya. Aktor utama adalah Gareth Southgate sendiri.

Ketika itu. Inggris bertemu Jerman di partai semifinal. Pertandingan seru dan menegangkan. Hingga waktu normal 90 menit dan extra time berakhir, skor tetap 1-1. Maka dilanjutkan adu penalti.

Baik Inggris dan Jerman ngotot, tak mau kalah. Haslnya, dari lima penendang penalti kedua kubu semuanya sukses, gawang David Seaman dan Andreas Kopke mampu dijebol. Skor sama 5-5.

Maka dilanjutkan dengan sistem "sudden death" untuk menentukan pemenang. Sehingga harus ada penendang ke enam. Inggris menunjuk bek tengah mereka yang juga sering main gelandang bertahan, Gareth Southgate.

Apa yang terjadi? Tembakan mantan pemain Aston Villa itu, berhasil diblok kiper Kopke. Southgate terpaku sedih. Kubu Inggris tertunduk lesu. Ketegangan pun terjadi saat penendang ke enam Jerman, Andreas Moller maju untuk eksekusi. Dan gawang Seaman akhirnya bobol. Jerman bersuka, Inggris pun berduka.

Kenangan pahit 25 tahun lalu pun kini terjadi. Dulu Southgate eksekutor gagal. Kini Southgate pelatih yang gagal membuat sejarah emas untuk negerinya. Ia seperti menulis kisahnya sendiri. Namun prestasi capai final patut disaluti untuknya. Dan sepakbola pun batal pulkam.

Baca Juga

error: Content is protected !!