Sekilas Info

Saksi Akui Pengerjaan Jembatan Penghubung 4 KM Tidak Rampung

Photo: Daniel Leonard/ant Majelis hakim tipikor pada Kantor Pengadilan Negeri Ambon masih memeriksa saksi-saksi dalam kasus dugaan korupsi pengerjaan jembatan penghubung sepanjang 4.000 meter antara Desa Kujabi dan Desa Balatan. (1/7/2021)

satumalukuID - Dua saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku dalam persidangan mengakui kalau pengerjaan jembatan penghubung antara Desa Kujabi dan Desa Balatan sepanjang 4 KM tidak rampung.

"Pengerjaan jembatan yang sebagian konstruksinya beton dan kayu pada tahun anggaran 2014 ini tidak selesai dikerjakan," kata saksi Syane dalam persidangan dipimpin Ketua Majelis Hakim Tipikor Ambon, Andi Adha di Ambon, Kamis.

Selain Syane yang merupakan pemilik toko sembako dan suplayer kayu balok serta papan, jaksa juga menghadirkan saksi lainnya atas nama Lucky selaku pemilik salah satu toko sembako di Dobo.Lucky menjadi suplayer untuk pengadaan besi setelah memenangkan lelang.

Mereka dijadikan saksi atas terdakwa Salmon Gainau selaku Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dan Daud Ubwarin yang menjadi bendahara TPK pembangunan jembatan yang masuk rencana induk (master plan)  Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia tahun 2014 senilai Rp3 miliar.

Saksi Syane mengakui telah menyuplai ratusan meter kubik kayu balok serta papan jenis kelas satu maupun  dua, hanya tidak ingat berapa kali menerima transferan dana dari TPK.

Namun JPU mengingatkan dalam BAP disebutkan kalau saksi tiga kali menerima transferan dana pengadaan kayu pada 8 Maret 2015,  30 Maret 2015, dan  20 Juli 2016 sehingga totalnya mencapai Rp1 miliar lebih.

Sehingga semua kayu yang harus disetorkan saksi belum seluruhnya tersalurkan karena di tengah perjalanan, Pokja dan TPK memerintahkan penghentian penyaluran kayu.

"Masyarakat pengumpul kayu membawa hasilnya kepada pokja kemudian TPK membuat kwitansi dan uangnya disertorkan ke rekening saya, baru para pengumpul kayu ini menerima pembayaran dari saya," jelas saksi Syane menjawab pertanyaan majelis hakim dan JPU.

Sementara kuasa hukum para terdakwa, Fistos Noija dan Joemycho Syaranamual mengatakan, pengerjaan jembatan penghubung ini terhenti akibat adanya penolakan warga dengan alasan upah yang dinilai terlalu rendah.

"Pendamping PNPM, masyarakat, dan unsur lainnya setuju menggunakan tukang dari Dobo, Ibu Kota Kabupaten Kepulauan Aru karena masyarakat Balatan menilai upah kerja rendah," kata Joemycho.

Akibatnya material yang sudah tersedia di lapangan seperti semen menjadi membatu dan besi-besinya berkarat.

Baca Juga

error: Content is protected !!