Sekilas Info

Dua Penjemput Tembakau Sintetis Dituntut 7,5 Tahun Penjara

Photo: Daniel Leonard/ant Terdakwa kasus narkoba atas nama Taif Tawainela dan Sahrul Ohorella dituntut 7,5 tahun penjara dan denda Rp800 juta subsider tiba bulan kurungan oleh jaksa penuntut umum. (23/6/2021).

satumalukuID - Jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Maluku, Ela Ubleuw menuntut Taif Aminollah Tawainela (22) dan Sahrul Ramdani Ohorella (24) selama  7,5 tahun penjara karena terlibat kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang jenis tembakau sintetis.

"Meminta majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melanggar pasal 112 ayat (1) Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika," kata Ela, di Ambon, Selasa.

Tuntutan JPU disampaikan dalam persidangan yang berlangsung secara virtual  dipimpin ketua majelis hakim Pengadilan Negeri (PN)  Ambon, Christina Tetelepta dan didampingi dua hakim anggota.

Terdakwa juga dituntut membayar denda Rp800 juta subsider tiga bulan kurungan oleh JPU.

Ada pun hal yang memberatkan kedua terdakwa dituntut penjara karena tidak mendukung program pemerintah dalam mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba, sedangkan yang meringankan adalah mereka bersikap sopan dan mengakui perbuatannya serta belum pernah dihukum.

Meski pun BAP kedua terdakwa terpisah. Namun,  anggota BNNP Maluku meringkus mereka ketika menjemput sebuah paket berisikan narkotika golongan satu bukan tanaman jenis tembakau sintetik pada salah satu perusahaan jasa pengiriman barang di Kota Ambon.

Nama pemilik yang mengirim barang bagi kedua terdakwa atas nama AAN  beralamat di Makassar, Sulawesi Selatan..

Terdakwa Sahrul diamankan anggota BNNP Maluku pada 28 Februari 2021 saat menjemput paket tersebut pada salah satu perusahaan pengiriman barang di kawasan Jalan Setiabudi, Kota  Ambon.

Nasib serupa juga dialami terdakwa Taif Tawainella yang diamankan petugas BNNP Maluku saat menjemput paket berisi narkoba pada 1 Maret 2021.

Majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan dengan agenda mendengarkan pembelaan penasihat hukum para terdakwa, Ronald Silawane.

Baca Juga

error: Content is protected !!