Sekilas Info

Jubir Covid-19 PB IDI: Jangan Terlalu Euforia dengan Vaksinasi Hingga Lupa Jalankan Protokol Kesehatan

satumalukuID/Istimewa Juru Bicara Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Erlina Burhan.

satumalukuID - Juru Bicara Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Erlina Burhan mengingatkan masyaraat, terutama di kota-kota besar tanah air, agar jangan terlalu euforia dengan program vaksinasi sehingga lupa akan penerapan protokol kesehatan.

Pernyataan Erlina tersebut, dia sampaikan pada acara Halalbihalal bertajuk “Spirit Silaturahmi di Masa Pandemi”, yang digelar Yayasan Bina Antarbudaya secara virtual, Minggu (6/62021).

Menurut Erlina yang juga adalah Ketua Tim Pengobatan Covid-19 RSUP Persahabatan Jakarta ini, saat ini sedang terjadi peningkatan kasus di berbagai kota, pasca mudik Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah.

Update sampai Sabtu (5/6/2021), kata dia, terdapat kasus baru sebanyak 6.594, dengan lima kota yang menyumbang angka tertinggi yaitu: DKI Jakarta 1.317, JawaTengah 1.092, Jawa Barat 993, Riau 507 dan Sumatera Barat 467.

“Hari ini saya mendengar kabar dari Bangkalan di Madura, banyak sekali kasus orang terinfeksi, dan pagi ini saja sudah ada 12 orang yang meninggal dunia,” ujarnya.

Faktor penyebab utamanya, disebut Erlina, yaitu kelalaian protokol kesehatan di tempat umum. Ini yang kemudian mengakibatkan klaster-klaster baru.

Penyebab lain, lanjut dia, yaitu tracing dan testing tidak optimal, sehingga butuh antisipasi dan kesiapan pemerintah daerah, terutama Dinas Kesehatan setiap daerah.

“Kita juga tahu, bahwa di kota-kota besar sudah banyak yang divaksin. Tapi orang terlalu euforia dengan vaksin ini sehingga lupa akan protokol kesehatan. Ini yang membuat peningkatan kasus,” tandasnya.

Bicara tentang perkembangan vaksin, Erlina katakan, sebetulnya target Indonesia adalah melakukan vaksinasi terhadap 181 juta penduduk Indonesia (181.554.465). Tapi hingga saat ini yang sudah divaksin baru sekitar 28 juta.

“Sehingga kita masih jauh ini dari apa yang diistilahkan sebagai herd immunity atau kekebalan kelompok. Padahal kalau sudah capai herd immunity, walaupun ada sebagian yang terinfeksi tapi tidak akan menulari orang-orang yang sudah kebal,” teragnya.

Sebagaimana diketahui, kata Erlina, tujuan vaksinasi Covid-19 antara lain: menurunkan kesakitan dan kematian akibat Covid-19, mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat, dan melindungi dan memperkuat sisitem kesehatan secara menyeluruh.

“Ujung-ujungnya yaitu menjaga produktifitas dan meminimalisasi dampak sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Herd immunity, disebutnya sangat penting, karena seperti yang disampaikannya tadi, pemberian vaksin dapat melindungi orang lain dalam suatu komunitas. Namun di Indonesia masih sedikit orang yang tervaksin, sehingga kita masih jauh dari herd immunity.

“Itu artinya penularan masih sangat rentan terjadi, dan kalau penularan tidak terkendali ini akan terus memicu terjadinya mutasi virus,” bebernya.

Karena itu, kata Erlina, jika kita ingin tidak ada mutasi virus, maka harus mencegah terjadinya infeksi yang terus-menerus ini, dengan lebih banyak orang kebal.

“Lalu bagaimana supaya banyak orang yang kebal, ya itu tadi, melakukan vaksinasi. Walau pun vaksinasi bukan satu-satunya. Oleh sebab itu, mari kita semua mensukseskan program vaksinasi dengan mempersiapkan diri,” imbaunya.

Dia juga kembali mengingatkan, walau sudah divaksin, namun protokol kesehatan harus tetap dijalankan.

Penulis: Tiara Salampessy
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!