Sekilas Info

Rekontruksi Kasus Pemalsuan Rapid Test GeNose, 18 Adegan Diperankan Empat Tersangka

satumalukuID/Husen Toisuta Proses rekontruksi kasus pemalsuan surat keterangan rapid test GeNose di Polsek Bandara, Desa Laha, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Kamis (3/6/2021).

satumalukuID- Sebanyak 18 adegan kasus pemalsuan surat keterangan rapid test GeNose di Kota Ambon, diperankan langsung oleh empat orang tersangka.

Belasan adegan terungkap saat penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku, melakukan reka ulang di tiga tempat berbeda di Kota Ambon, Kamis (3/6/2021).

Empat tersangka pemeran reka ulang adalah R (49), pemilik travel dan karyawannya H (34), serta dua pegawai Angkasa Pura Support yaitu R (26), pemeriksa GeNose dan M (38), petugas di bagian troli Bandara.

Rekontruksi yang dipimpin Kabag Wasidik Ditreskrimum Polda Maluku, AKBP Adolf Bormasa ini mulai dilaksanakan di Travel Jalan AY Patty, Perkantoran Airlines Bandara Pattimura, dan Polsek Bandara, di Kota Ambon.

"Ada sebanyak 18 adegan dilakukan. Mulai dari penumpang membeli tiket di travel di AY Patty. Peran mereka (tersangka) ada yang pemilik travel, pegawai travel, dan sebagai pelaksana di sini (Bandara)," kata Adolof Bormasa kepada wartawan di Bandara Pattimura, Kota Ambon.

Kasus itu, kata dia, berawal dari travel sebagai jasa pelayanan pembelian tiket penumpang, baik udara maupun kapal laut. Di sini, para penumpang ditawarkan lagi pelayanan pembuatan surat antigen maupun GeNose. Ternyata surat yang ditawarkan itu adalah palsu.

"Nah apabila ada oknum dari travel yang menawarkan bisa menerbitkan surat antigen, itu perlu diantisipasi. Karena surat itu harus dari lembaga yang berwenang, seperti rumah sakit atau pelayanan kesehatan medis yang memang sudah ditunjuk," terangnya.

Menyoal terkait kemungkinan adanya keterlibatan pegawai Angkasa Pura lainnya saat adegan reka ulang itu dilakukan, Adolof mengaku sudah tidak ada lagi.

"Hasil pengembangan tidak ada lagi penambahan tersangka di Bandara," kata dia.

Mantan Kapolres Kepulauan Aru ini mengaku, aksi kejahatan yang dilakukan para tersangka sudah berlangsung sejak bulan April 2021. Namun penyidik masih terus mendalami jumlah penumpang yang telah menjadi korban penipuan.

"Sementara kita masih mendalami jumlah korban. Pengakuan dari tersangka dia buat surat GeNose palsu lebih dari 10 kali. Harga pengurusan surat GeNose bervariasi antara Rp.50-150 ribu," katanya.

Terkait proses rekontruksi yang dilakukan secara tertutup, mantan Kapolres Seram Bagian Timur ini juga, mengaku sengaja digelar untuk kepentingan penyidikan.

"Lagi pula teman-teman di atas itu perlu sterilisasi, makanya dibatasi jumlahnya. Makanya nanti dokumentasi nanti teman-teman bisa komunikasikan dengan bagian Humas (Polda Maluku)," pintanya.

Menurutnya, reka ulang dilakukan agar dapat mengetahui secara pasti peran atau keterlibatan para saksi, tersangka dan lain sebagainya.

"Jadi kita reka adegan kembali tentang keterlibatan para saksi maupun para pihak yang terlibat sehingga jelas, ketika berkas perkara ini kita kirim ke teman-teman di kejaksaan," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!