Sekilas Info

Setelah 18 Tahun, Gerhana Bulan Super Blood Moon Kembali Terpantau di Ambon, Ini Dampaknya

satumalukuID- Gerhana bulan total atau Super Blood Moon disaksikan sejumlah warga di Kota Ambon. Fenomena alam ini terjadi selama 18 tahun sekali ini.

Tahun ini, fenomena tersebut disaksikan warga kota Ambon menggunakan mata telanjang pada Rabu malam (36/5/2021).

Selain warga, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Geofisika Ambon, juga melakukan pemantauan menggunakan teleskop di Karang Panjang, Kota Ambon.

Lutfi, salah satu staf Geofisika Ambon kepada satumaluku.id saat ditemui sedang melakukan pemantauan, mengungkapkan, gerhana bulan total atau Super Blood Moon hari ini terjadi pukul 20.18 WIT.

"Tadi mulai pukul 20.09 WIT. Total gerhana kemudian terjadi pukul 20.18 WIT, dan berakhir pukul 20.28 WIT," ungkap Lutfi.

Fenomena langka ini, lanjut Lutfi, akan kembali lagi terjadi di tahun 2039 mendatang.

Sebelumnya, kata dia, peristiwa di mana Matahari, Bumi dan Bulan berada pada posisi sejajar ini pernah terjadi tahun 2003.

"Sesuai perhitungan akan terjadi lagi tahun 2039. Sebelumnya gerhana ini terjadi di tahun 2003. Jadi setiap 18 tahun dia berulang. Artinya di jalur-jalur yang sama gitu," ungkapnya.

Menyoal terkait dampak yang terjadi akibat fenomena Supermoon tersebut, Lutfi mengaku yang paling signifikan adalah air laut pasang surut.

Ia menjelaskan, saat terjadinya gerhana bulan ini kerap berpengaruh pada tingginya air pasang maksimum.

Hal itu disebabkan karena jarak Bumi dan Bulan cukup dekat. Sehingga menimbulkan gaya tarik menarik atau gratifikasi.

"Yang paling signifikan itu pada pasang surut air laut (maksimal). Ini karena jarak bumi dan bulan sangat dekat, sehingga terjadi tarik menarik gaya gratifikasi," jelasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!