Sekilas Info

28 Korban Penipuan YAB Mengaku Telah Menyetor Uang Sebesar Rp.4,6 Miliar, Ini Penjelasan Polda Maluku

satumalukuID/Husen Toisuta Tersangka Joseba F. Kelbulan dan Lambert W. Miru, Ketua dan Sekretaris Yayasan Anak Bangsa (rompi oranye) tampak sedang menunjukan paket yang diduga isi uang ternyata kertas putih kepada puluhan korban penipuan mereka saat konferensi pers yang digelar Polda Maluku di Mapolda Maluku, Kota Ambon, Senin (10/5/2021).

satumalukuID- Dari 28 orang warga yang baru datang melaporkan telah menjadi korban penipuan oleh Yayasan Anak Bangsa (YAB), mengaku kepada Polda Maluku sudah menyetor uang tender sebesar Rp.4.611.000.000 atau Rp.4,6 miliar.

Hal ini terungkap saat Polda Maluku kembali menyampaikan hasil penyelidikan dan penyidikan kasus dugaan penipuan yang dilakukan Joseba F. Kelbulan dan Lambert W. Miru, Ketua dan Sekretaris YAB 11 Provinsi Indonesia Timur.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Kabid Humas Kombes Pol M. Rum Ohoirat, dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Maluku Kombes Pol Sih Harno ini berlangsung di Aula Command Center, Markas Polda Maluku, Kota Ambon, Senin (10/5/2021).

Selain awak media, dalam konferensi pers yang dilakukan tersebut juga disaksikan langsung oleh puluhan orang korban penipuan dari Ketua dan Sekretaris YAB tersebut.

"Konfrensi pers ini dilaksanakan atas permintaan para korban," kata Rum, Kabid Humas Polda Maluku mengawali kegiatan tersebut.

Untuk mengungkap perkara ini secara terang benderang, Rum mengaku tim penyidik Ditreskrimum Polda Maluku telah berupaya maksimal. Mereka berhasil menemukan sejumlah barang bukti yang disembunyikan di Desa Liliboy, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon).

"Pencarian dan penggeledahan barang bukti di desa Liliboy itu juga sudah sesuai prosedur dan sudah diamankan barang buktinya," katanya.

Menurutnya, dari penelusuran tersebut tim penyidik berhasil menemukan sebanyak 19 karton rokok berukuran besar dan 14 paket bungkusan kecil. Barang bukti ini awalnya disangka sebagai uang oleh para korban. Ternyata, di dalamnya hanya berisi kertas-kertas putih.

"Direktorat Reskrimum sudah bekerja keras dalam pengungkapan perkara penipuan ini salah satunya bukti bahwa sudah disita barang bukti 19 Karton dan 14 paket. Nanti selanjutkan akan dijelaskan kepada Direktur Reskrimum Polda Maluku," katanya.

Senada, Direktur Reskrimum Polda Maluku, Sih Harno, mengungkapkan, konferensi pers lanjutan ini dilakukan karena masih terdapat pro dan kontra di antara para korban.

"Ini konfrensi pers lanjutan dari yang lalu karena masih banyak pro dan kontra. Jadi dipastikan ini adalah benar-benar tindak pidana penipuan," tegasnya.

Harno berharap kepada para korban agar tidak lagi tertipu dengan Yayasan Anak Bangsa. Sebab, semua janji yang disampaikan untuk mendapat dana konpensasi sebesar Rp.200 juta adalah kebohongan belaka atau tidak benar.

"Jangan lagi ada yang tertipu dengan yayasan anak bangsa karena pihak yayasan anak bangsa sudah terbukti melakukan tindak pidana penipuan," katanya.

Menurutnya, sejak awal Polda Maluku telah membuka posko pengaduan. Para korban diminta melapor kepada pihak kepolisian terdekat.

"Jadi silahkan kalau yang menjadi korban untuk melapor. Supaya kita bisa tahu berapa besar kerugian yang dialami semuanya," pintanya.

Menurutnya, hingga saat ini baru sebanyak 28 orang yang menjadi korban penipuan datang melaporkan kepada Polda Maluku. Seluruhnya berasal dari Kota Ambon. Dari laporan sementara yang diterima, jumlah kerugian yang mereka alami sebesar Rp.4.611.000.000.

"Saksi yang sudah diperiksa sebanyak 28 orang dengan nilai kerugian sebesar Rp.4.611.000.000," katanya.

Ia mengatakan, uang miliaran rupiah yang disetor para korban tersebut sampai saat ini belum diketahui dipakai untuk apa atau disimpan di mana.

"Jadi uang ini masih kita kembangkan terus. Total uang yang disita 10 juta. Sementara yang ada di rekening BRI milik tersangka jumlahnya 68 juta," katanya.

Menurutnya, dari hasil rekening koran tahun 2018 dan 2019, tersangka sudah melakukan penarikan dengan jumlah bervariasi.

"Kita masih dalami lagi. karena rekeningnya kemarin 2018, 2019 itu kosong. ada setoran yang masuk 1 juta, 2 juta, langsung ditarik oleh tersangka. Masyarakat nyetor ke rekening tersangka. Jadi nanti di ambil 50 juta, 70 juta, itu hasil rekening koran yang kita lihat di tahun 2018 dan 2019," tambahnya.

Harno menjelaskan, modus yang dilakukan tersangka yakni mengaku telah mendapat bantuan uang. Mereka kemudian membuka tender. Setiap warga yang ikut tender dengan menyetor Rp.1 juta, maka dijanjikan akan mendapatkan Rp.50 juta.

"Kemudian tender pertama di tutup, tapi kemudian dibuka lagi tender kedua, padahal tender pertama belum dibagi. Orang yang sudah daftar pada tender pertama ikut lagi pada tender kedua karena ingin dapat lebih besar. Kalau dia setor 5 juta kali 50 maka dia akan dapat 250 juta," sebutnya.

Para korban, kata Harno percaya seolah-olah mereka akan mendapatkan sesuai yang dijanjikan oleh para tersangka.

"Mereka percaya karena dia ini kalau sudah didesak maka akan buat kegiatan-kegiatan. Jadi paket-paket ini selalu dibagi tapi diambil lagi dengan alasan batal karena macam-macam. Alasannya belum dapat persetujuan dari Gubenur lah, Kesbanglinmas lah, seperti itu. Terus saja ada alasannya. Makanya kita buka kebohongan dia ini," katanya.

Harno mengungkapkan, sebagian korban yang menyetor uang tender, ternyata bukan miliknya saja tapi orang lainnya juga. Mereka mencari mencari nasabah lain. Setelah uang terkumpul dari korban-korban yang lain, lalu disetor kepada tersangka.

"Mereka ini nyari orang lain juga. (Misalnya) Saya kumpulkan uang dan saya setor. Ada yang setor 125 juta, 200 juta, mereka serahkan tunai. Bahkan ada yang hampir 3 miliar atas nama Sutiji," terangnya.

Harno mengaku pihaknya masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap keberadaan uang yang telah disetor para korban tersebut.

"Nanti kami periksa tersangka, kamu narik ini dipakai untuk apa. Ini yang akan kami kembangkan, karena ini kan masih didalami terus," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!