Sekilas Info

Memaknai Kelahiran Earth Day dari Kebudayaan Melanesia di Maluku

Tanggal 22 April kemarin masyarakat internasional merayakan Earth Day ke-51. Dengan mengambil tema “RESTORE EARTH OUREarth Day 2021 mengajak semua pihak melakukan tindakan nyata demi penyelamatan bumi.

Namun dalam kenyataannya, hal itu sangat sulit diwujudkan. Abad 21 ini krisis ekologis masih saja terjadi malah cenderung meningkat. Dampaknya, muncul cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia. Lihat saja badai siklon tropis seroja yang menghantam 22 Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Timur Minggu (4/4), banjir rob yang merendam sejumlah desa di Haruku Maluku Tengah Selasa (2/3/) dan desa Hative Kecil Kecamatan Sirimau Kota Ambon Senin (8/2/).

Sebagaimana yang pernah disampaikan pada satumaluku.id, Rabu (5/7/2019) bahwa penyebab utama terjadinya krisis ekologis yang terjadi di berbagai belahan dunia (termasuk : Maluku) karena adanya dominasi rasio instrumental dan pemisahan antara manusia dengan alam yang dikembangkan ilmu-ilmu positif (terutama ilmu pengetahuan alam dan teknologi modern). Penjelasan itu merujuk pada buku Dialectic of Enlightenmen (1944) karya Theodor W. Ardono dan Max Horkheimer. Untuk lebih jelasnya baca link di bawah ini :

<https://www.satumaluku.id/2019/07/05/meneropong-kemampuan-adaptasi-ras-melanesia-di-maluku-menghadapi-climate-change-dan-global-warming> {diakses pada 23 Maret 2021}

Seperempat abad setelah kritikan keras dua pemikir Jerman terhadap zaman modern diterbitkan senator dan pengajar lingkungan Amerika Gaylord Nelson mengumumkan konsep Earth Day dalam konfrensi pers di Seattle. Konsep itu mendapatkan dukungan besar dari berbagai pihak. Setahun setelah konfrensi itu, Rabu (22/4/1970) jutaan rakyat Amerika turun ke jalan melakukan demonstrasi. Peristiwa bersejarah itu kemudian dijadikan sebagai Earth Day pertama kali.

Situasi demonstrasi di Fifth Avenue New York
(gambar diambil dari Pophistorydig.com)

Demonstrasi besar-besaran di New York tidak lepas dari perkembangan dan penyebaran kebudayaan Eropa. Saat kekuasaan gereja berakhir abad ke-15 kaum intelektual di Eropa leluasa mengembangkan filsafat, seni, dan ilmu pengetahuan. Akal budi yang selama berabad-abad dibelenggu pihak gereja diyakini dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia. Akal budi pun digunakan sebagai penggerak kebudayaan Eropa, menurut berbagai sumber membawa kemajuan sangat besar dari abad sebelumnya (abad pertengahan atau biasa yang disebut abad kegelapan).

Kebudayaan Eropa pun kemudian menyebar ke Amerika, Afrika, Asia dan Australia. Mengubah masyarakat nelayan - agraris tradisional di luar peradaban barat modern menjadi masyarakat industri. Pada perkembangan selanjutnya, konflik politik dan ekonomi karena perebutan sumber daya alam tak terelakkan dan semakin meningkat yang berujung pada krisis ekologis di berbagai negara. Krisis ekologis itulah yang menjadi penggerak utama lahirnya Earth Day. Untuk lebih jelasnya baca link di bawah ini.

<https://people.com/human-interest/what-is-earth-day-and-why-do-we-celebrate> {diakses pada 23 Maret 2021}
<https://www.earthday.org/history> {diakses pada 23 Maret 2021}
<https://javlec.org/sejarah-22-april-diperingati-sebagai-hari-bumi> {diakses pada 23 Maret 2021}
<https://id.scribd.com/doc/232489754/Makalah-Hari-Bumi> {diakses pada 23 Maret 2021}

Kebudayaan Melanesia Di Maluku

Dengan mengusung tema besar tentang penyelamatan bumi, konsep Earth Day di awal ingin mewujudkan suatu tatanan sosial masyarakat yang bebas dari krisis ekologis, ini utopia. Artinya, masyarakat Amerika yang saat itu mengalami krisis lingkungan dianggap bukanlah merupakan suatu tatanan masyarakat ideal. Karena tidak ideal itulah maka terjadilah gerakan kebudayaan dalam skala besar di Amerika pada 22 April 1970.

Di Melanesia Maluku, masyarakat khayalan yang didambakan dalam perayaan Earth Day pertama kali itu sudah dikembangkan dalam kebudayaan. Di sinilah letak perbedaannya, Earth Day yang diperjuangkan dunia barat lahir karena adanya pemberontakan terhadap tatanan sosial masyarakat yang tidak ideal. Sementara kepedulian terhadap bumi dalam kebudayaan Melanesia di Maluku muncul karena hasil pengamatan terhadap bumi dengan segala isinya – bukan karena permberontakan terhadap dunia sosialnya.

Foto sebelah kanan : konsep tiga tungku kebudayaan Melanesia di Maluku mengajarkan menjaga keharmonisan dengan bumi. Foto sebelah kiri patung dewi kesuburan. Kedua foto ini membuktikan bahwa kepedulian leluhur Melanesia di Maluku terhadap bumi muncul dari hasil pengamatan (sumber : Museum Siwalima Ambon)

Dalam konteks ini, kebudayaan manusia Melanesia di Maluku yang dianggap primitif, terasing, kolot, liar, terbelakang dan buta huruf justru sudah lebih dulu membentuk tatanan sosial masyarakat ideal itu dari peradaban masyarakat barat modern dan yang paling memilukan sampai ini masyarakat khayalan yang didambakan itu belum bisa mereka wujudkan.

Pertanyaannya yang muncul kemudian, para pemimpin yang diberikan kekuasaan di Maluku akan membawa kita kemana? Terus berupaya mewujudkan masyarakat khayalan yang didambakan itu bersama masyarakat barat ataukah mengulang kembali sejarah yang telah diukir leluhur kita ? Pertanyaan ini penting untuk dijawab karena krisis ekologis di Maluku sampai saat ini merupakan persoalan yang cukup serius dengan segala dampaknya.

Akhir kata, menurut pandangan saya tema Earth Day 2021 yang berbunyi “Restore Our Earth” hanyalah cocok untuk kebudayaan barat, karena dalam kebudayaan manusia Melanesia di Maluku bumi dijaga dan dirawat sepanjang waktu. Kebudayaan masyarakat barat modern sudah sejak awal menabur angin dan kini dunia menuai badainya.

Penulis: Julius Russel, Pemerhati Kebudayaan Melanesia

Penulis: Julius Russel
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!