Sekilas Info

Maria Sopamena: Awali Karier dari Ambon, Kini Kepala Pemberitaan TVRI Sulut dan Pendiri “Rumah Televisi”

Foto: dokumentasi pribadi Popi saat berada di studio TVRI Manado.

Nama lengkapnya Maria Margaretha Sopamena S.Sos MM. Lahir di Ambon 10 Maret 1975. Ia lebih populer dikenal dengan panggilan Maria atau Popi Sopamena saat menjadi reporter, presenter dan pembaca berita di TVRI Stasiun Ambon (sekarang Stasiun Maluku).

Ia memulai karier di dunia penyiaran televisi dalam usia sangat muda. Pasalnya, usai lulus dari SMA Negeri 2 Ambon bulan Juli tahun 1993, Popi mencoba lamaran tes di TVRI Maluku. Ternyata dia diterima sebagai karyawan lembaga televisi pemerintah itu pada November tahun itu pula.

"Usia beta waktu itu baru 18 tahun. Karena lulus sebagai pegawai TVRI Ambon, sehingga urungkan niat untuk kuliah. Beta konsentrasi pada pekerjaan tersebut," ungkap Popi kepada satumaluku.id yang menghubunginya via whatsapp, Kamis (22/4/2021).

Popi mengabdi sebagai karyawati TVRI Maluku sejak 1993 hingga 2004. Mengawali karier baginya bukan hal mudah. Karena dirinya hanyalah lulusan SMA. Namun anugerah Tuhan melalui amanah sebagai presenter dilakukan dengan belajar dan bekerja secara cepat, juga melalui bimbingan para senior maupun otodidak.

"Semula terasa agak sulit sehingga kadangkala masih canggung untuk beradaptasi. Tetapi seiring waktu, perjalanan pengalaman mulai menempa diri menjadi lebih baik lagi dalam segala hal. Prinsip beta. Jangan pernah menyerah pada kondisi apapun," ujanya.

Selama berkarier di TVRI Maluku, banyak pengalaman, kenangan juga suka duka yang dia alami. Apalagi pada tahun 1999 hingga 2004 Kota Ambon sekitarnya serta Maluku umumnya dilanda kerusuhan sosial. Semua itu tak akan pernah ia lupakan. Termasuk dua kali nyaris terkena peluru nyasar.

Popi saat pertama mulai kerja di TVRI Ambon - Maluku.(Foto: dokumentasi pribadi)

"Banyak suka dukanya selama di Ambon. Saat konflik apalagi. Sempat tidak pulang ke rumah dan tidur di kantor karena situasi keamanan. Bahkan saat ikut rombongan Dubes Vatikan sempat dihadang massa. Beta juga satu-satunya news anchor dan reporter perempuan yang tetap siaga untuk on air. Sebab sebagian besar crew eksodus demi keselamatan jiwa," kenang istri dari Christian Saroinsong ini.

Meski saat itu dalam suasana konflik. Namun Popi akui sebagai orang media, harus tetap menjunjung sikap profesionalisme dalam bertugas. "Harus tetap profesional saat tampil sebagai news anchor. Itu beta alami. Ketika membaca berita dengan visual rumahku yang terbakar di layar kaca," tuturnya, mengenang.

Namun demikian ada momen yang ia suka. Diantaranya bisa wawancara Presiden SBY saat itu. Juga Wapres Jusuf Kalla, para menteri, tokoh nasional, artis top dan berbagai kepala daerah. Serta sempat dipercayakan meliput dan menbawa acara pada even olahraga internasional yakni SEA Games 1997 di Jakarta.

Setahun setelah jadi karyawati. Barulah Popi lanjutkan niatnya kuliah. Pada 1994 ia berkuliah di STIA Trinitas Ambon dan meraih sarjana 1998. "Beta bersyukur. Karena sambil kerja bisa selesaikan studi sarjana," kata ibu dua anak ini.

Karier dan pengalaman Popi terus meningkat. Setelah menikah maka ia pun pindah lokasi pengabdian ikuti tempat penugasan suaminya. Karena itu, pada tahun 2004 hingga 2006 ia dimutasikan ke TVRI Sulsel di Makassar. Dua tahun kemudian 2006 sampai 2010 ia pindah ke TVRI Sulteng.

Dari Palu pada 2010 sampai sekarang Popi pindah ke TVRI Sulut di Manado. Pengalamannya bertambah, kariernya pun makin menanjak. Awalnya mulai dari presenter, news anchor, news caster, reporter, interviewer, script writer, program director hingga producer.

Popi (tengah) saat dilantik sebagai Kepala Berita TVRI Manado.(Foto: dokumentasi pribadi)

Atas kerja kerasnya, kini Popi dipromosikan untuk menjabat Koordinator Berita atau Kepala Berita TVRI Sulut sejak 7 April 2021. "Beta mensyukuri anugerah Tuhan ini. Apresiasi juga untuk pimpinan dan rekan-rekan yang sudah beri kepercayaan dan kerjasamanya," ungkapnya yang meraih gelar Magister Managemen dari Unsrat Manado tahun 2012.

Tak sampai disitu saja kiprah Popi. Di luar rutinitasnya sebagai karyawati TVRI. Ia ternyata juga punya seabrek aktifitas lain secara informal. Yaitu mendirikan lembaga pelatihan dan ketrampilan dalam dunia broadcasting seperti presenter, reporter dan public speaking pada tahun 2017 yang diberi nama "Rumah Televisi".

"Rumah Televisi berdiri tahun 2017 di Manado. Beta sebagai pendiri sekaligus pemilik. Yah untuk investasi di masa depan nantinya. Lembaga ini sudah mencetak presenter dan reporter yang bekerja di televisi swasta nasional dan lokal," bebernya.

Selain itu, di tengah kesibukannya itu. Popi tidak lupa pada hobinya menulis khususnya di bidang seni dan sastra. Ini terbukti ia mampu menyalurkan minatnya tersebut di saat pandemik Covid 19, dengan menulis puisi dan diterbitkan dalam sebuah karya buku kumpulan puisi yang berjudul "Titik di Atas Koma" terbitan Teras Budaya Jakarta pada Oktober 2020.

"Buku antologi puisi tunggal "Ttitik Diatas Koma" itu, beta kerjakan dalam tiga bulan saja di masa pandemi Covid yang dimulai Mei dan selesai Juli 2020. Saat ini sedang tahap mengerjakan antalogi puisi tunggal kedua dan novel," jelas Popi, yang juga anggota Komunitas Dapur Sastra Jakarta.

Meski punya posisi formal yang jarang dijabat perempuan dan seabrek aktifitas informal, namun Popi tetap rendah hati. Ia menganggap semua itu bukan karena kelebihan atau kekuatannya. Tetapi kesuksesan yang diraihnya merupakan anugerah dan berkat Tuhan semata. "Tiada yang mustahil bagi Tuhan. Mukjisat itu nyata," akhirinya.

Salut kiprahmu nona Ambon. Jadilah Kartini masa kini. Teruslah mengabdi dan berkarya. Sukses menyertaimu. Tuhan memberkati.

Baca Juga

error: Content is protected !!