Sekilas Info

199 Ekor Burung Dilindungi Asal Maluku Dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Nief dan Alam Gunung Sahuwai

satumalukuID/Istimewa 199 ekor burung akan dilepasliarkan petugas Balai KSDA Maluku, Jumat (9/4/2021).

satumalukuID- Sebanyak 199 ekor burung beragam jenis yang dilindungi asal Provinsi Maluku, akhirnya dilepasliarkan oleh petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku.

Pelepasliaran sudah dilaksanakan sejak Jumat (9/4/2021). Berlangsung di Suaka Alam Gunung Sahuwai, Lokasi Taman Jaya, Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, dan Suaka Margasatwa Nief di Desa Dawang, Kecamatan Teluk Waru, Kabupaten Seram Bagian Timur.

Kepala Balai KSDA Maluku, Danny. H. Pattipeilohy, mengungkapkan, 146 ekor Perkici Pelangi (trichoglossus haematodus), dan 53 ekor Nuri Maluku (eos bornea) dilepas di Suaka Alam Gunung Sahuwai. Sementara 4 ekor Kakatua Seram (cacatua moluccensis), ditambah 1 ekor Perkici Pelangi dilepaskan di Suaka Margasatwa Nief.

Pelepasliaran dilaksanakan setelah ratusan ekor burung endemik Maluku itu menjalani rehabilitasi dan pemeriksaan kesehatan. Proses itu dilakukan di kandang Transit Passo, dan Pusat Rehabilitasi Masihulan.
Pemeriksaan kesehatan satwa-satwa yang dilindungi itu ditangani oleh tim dokter dari Balai KSDA Maluku, dan Balai Karantina Ambon.

Danny menjelaskan, satwa liar yang dilepasliarkan merupakan jenis dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, Tanggal 28 Desember 2018 Tetang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis dan Tumbuhan Satwa Dilindungi.

"Satwa-satwa ini merupakan hasil sitaan, temuan dan penyerahan dari TNI, Polri, masyarakat serta hasil pengamanan Petugas Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah II Masohi Balai KSDA Maluku," ungkapnya.

Danny berharap, proses pelepasliaran yang dilakukan dapat menjadi pembelajaran buat masyarakat. Mereka dapat melihat bahwa satwa-satwa ini selayaknya dan patut untuk hidup bebas di alam, tidak boleh dipelihara oleh masyarakat.

"Dan kami terus berkomitmen untuk melakukan penyelamatan satwa liar yang menjadi korban kegiatan ilegal seperti perburuan dan perdagangan ilegal," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!