Sekilas Info

Sidang Perdana Perkara Jual Beli Senpi dan Amunisi di Papua Bergulir

satumalukuID/Husen Toisuta Enam tersangka kasus jual beli senpi dan amunisi di Papua, saat proses tahap 2 di Kejaksaan Negeri Ambon, Selasa (23/4/2021).

satumalukuID- Enam terdakwa perkara jual beli senjata api (senpi) dan amunisi yang diduga untuk Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, menjalani sidang di Pengadilan Negeri Ambon, Kota Ambon, Rabu (7/4/2021).

Para terdakwa yaitu Sahrul Nurdin (39), warga Tantui, Sam Herma Palijama (34), oknum anggota Polri, Muhammad Romi Arwanpitu (38), oknum anggota Polri, Ridwan Mohsen Tahalua (44), warga Batu Merah, Handri Morsalim (43), warga Kapaha, dan Andi Tanan (50), warga Hative Kecil. Mereka didampingi penasehat hukum yaitu Tomas Wattimury.

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan ini dipimpin ketua majelis hakim Pasti Tarigan, didampingi dua anggota, Felix Roni Wuisan dan Jeny Tulak.

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Ambon, Eko Nugroho, dalam dakwaannya menyebutkan perbuatan para terdakwa terjadi sejak tahun 2020 dan 2021 di beberapa tempat. Yaitu Pangkalan Ojek Desa Batu Merah, Pasar Arombai Mardika, Pasar Mardika Ambon, bawah Jembatan Merah Putih, dan kawasan Kapaha, Kecamatan Sirimau Kota Ambon.

Kasus penjualan senpi dan amunisi tersebut berawal saat para terdakwa bersama Welem Taruk (Terdakwa dalam berkas perkara tersendiri yang diajukan penuntutan secara terpisah/Splitching) dan Atto Murib (DPO) sengaja menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak.

Peristiwa berawal saat Atto Murib, pemilik tambang emas di Kilometer 54 Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, meminta Welem Taruk, warga Ambon untuk mencari senjata api dan amunisi yang bisa dibeli. Atto minta bantuan Welem, karena Ambon merupakan daerah bekas konflik.

Diminta mencari senpi dan amunisi, Welem kemudian bertemu dengan Sam Herma Palijama, oknum anggota Polri.

"Kalo ada yang jual senjata rakitan tolong cari akang dolo buat dibawa ke tambang mas di Papua Nabire," kata JPU dalam dakwaannya.

Sam kemudian menghubungi Iwan Touhuns, warga Rumah Kai yang masih buron (DPO) untuk melakukan pencarian senjata rakitan.

Pada bulan Oktober 2020, Iwan menghubungi Sam untuk menjual senpi rakitan jenis SS1 seharga Rp.8 juta. Sam berangkat ke Rumah Kai mengambil senjata itu dan menjualnya kembali kepada Welem senilai Rp.20 juta.

"Pada bulan Desember 2020 Terdakwa 2 (Sam) kembali mendapatkan informasi dari Iwan bahwa ada senjata rakitan yang mau dijual dengan harga Rp.6 juta," tambah Eko.

Sam kembali menghubungi Welem dan menjual senjata rakitan dengan harga yang sama seperti senjata pertama yaitu sebesar Rp.20 juta.

"Saat itu Welem langsung transfer (uang Rp.20 juta) ke rekening Terdakwa 2," katanya.

Setelah mendapatkan uang Rp.20 juta, Sam berangkat ke Desa Rumah Kai bertemu Iwan. Ia menyerahkan Rp.6 juta, dan Iwan pergi ke Desa Kamariang mengambil senjata api rakitan jenis SS1 tersebut untuk diberikan kepada Sam.

"Saat menerima senjata Terdakwa 2 lalu menyimpannya di rumahnya di Desa Pia, Saparua. Lalu pada bulan Januari 2021 Welem datang mengambilnya, dan membawa senjata lewat jalur Seram (menggunakan Feri) menuju ke Papua," terangnya.

Terpisah, pada bulan Agustus 2020 di pangkalan Ojek Lorgi Desa Batu Merah, terdakwa 3 Muhammad Romi Arwanpitu, oknum anggota Polri, diberikan senjata api jenis pistol dari saksi Amirudin Lessy, oknum anggota TNI Angkata Udara (diproses Pidana Militer).

Diberikan pistol Romi kemudian menemui terdakwa 4 Ridwan Mohsen Tahalua. Romi meminta Ridwan menjualnya. Ridwan lalu menjualnya kepada terdakwa 1 Sahrul Nurdin seharga Rp.5 juta.

Selanjutnya, kata Eko, pada awal tahun 2020 terdakwa 5 Handri Morsalim memiliki senjata api rakitan laras pendek, beserta amunisi sebanyak 1 dus penuh. Ia kemudian menemui Sahrul di Pasar Mardika dan menawarkannya seharga Rp. 1 juta.

Kemudian pada bulan November 2020 terdakwa 6 Andi Tanan, sahabat Welem Taruk, datang mencari saksi Milton Sialeky, oknum anggota TNI Angkatan Darat (diproses Pidana Militer).

Kedatangannya untuk membeli 600 butir amunisi dengan kaliber 5,56 mm. Ratusan butir amunisi ini dijual dalam tiga tahap dengan waktu dan tempat yang berbeda.

Pertama pada bulan November 2020, Milton menjual 100 butir amunisi seharga Rp.500 ribu. Transaksi berlangsung di bawah Jembatan Merah Putih.

Sepekan kemudian sekitar pukul 23.00 WIT, transaksi kedua berlangsung di depan rental mobil Toking. Milton kembali menjual 100 butir peluru seharga Rp.500 ribu.

Untuk pembelian ketiga terjadi pada sekitar bulan Januari 2021 di depan gereja Pantekosta, Lampu Lima Kecamatan Sirimau Kota Ambon sekitar pukul 23.00 Wit. Milton saat itu menjual 400 butir peluru dengan harga Rp.1 juta.

"Terdakwa 6 membeli amunisi dari saksi Milton menggunakan uang yang dikirim Atto Murib. Terdakwa 6 bertemu Welem sesuai perintah Atto. Welem mengambil amunisi untuk dibawa pergi," jelasnya.

Perbuatan para terdakwa sebagaimana dalam dakwaan jaksa diatur dan diancam pidana dengan pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dan Undang-Undang RI dahulu No.8 tahun 1948 jo Pasal 55 ayat (1) ke-l KUHP.

Usai pembacaan dakwaan Jaksa, Hakim langsung menunda sidang hingga Rabu (14/4/21) pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!