Sekilas Info

Masuk Kategori Terpidana Beresiko Tinggi, Gerald Tomatala “Dibuang” ke Nusakambangan

satumalukuID/Husen Toisuta Pengungkapan kasus narkotika oleh Join Operation (BNNP, Polda, Kodam, Lanud, Bea Cukai, KSOP dan Angkasa Pura) di Gedung Keuangan Negara Ambon, Kota Ambon, Kamis (17/12/2020).

satumalukuID- Dalam dunia hitam narkotika, siapa yang tak kenal dengan Gerets alias Gerald Tomatala.

Salah satu bandar besar narkotika jenis sabu-sabu di Maluku ini, masih tetap "bertaring" meski sedang berada di dalam penjara.

Entah permainan Gerald memang tanpa diketahui para sipir penjara, atau memang sengaja dibiarkan. Faktanya, Lapas Ambon beberapa kali dijebol dengan masuk keluarnya barang haram tersebut.

Gerald mampu mengendalikan peredaran narkotika dari balik terali besi. Ini dibuktikan setelah kaki tangannya berhasil ditangkap.

Atas pertimbangan keamanan, dan dianggap kerap melakukan pengulangan kejahatan, Gerald lalu masuk kategori sebagai tahanan beresiko tinggi (High Risk).

Dianggap sebagai tahanan berbahaya, Gerald lantas "dibuang" atau dipindahkan dari Lapas Ambon menuju Lapas Narkotika Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (17/3/2021).

Pemindahan Gerald ke Nusakambangan, Lapas berkeamanan tinggi di Indonesia ini, dibenarkan Kepala Lapas Klas IIA Ambon Saiful Sahri.

Menurut Saiful, Gerald dipindahkan dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya Direktorat Jenderal Pemasyarakatan kini berkomitmen untuk melakukan sentuhan lebih keras terhadap narapidana yang masih mencoba main-main.

"Yang bersangkutan (Gerald) masuk dalam kategori High Risk, melakukan pengulangan beresiko tinggi. Jadi atas pertimbangan itulah dipindahkan ke Nusakambangan. Apalagi termasuk barang bukti yang cukup besar," kata Saiful, Senin (22/3/2021).

Gerald yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Maluku ini masuk kategori sebagai tahanan High Risk dengan berbagai tindak pidana yang diperbuat. Yaitu pertama kasus narkotika dengan hukuman penjara selama 5 tahun, denda Rp. 1 milyar, subsider 3 bulan kurungan.

Belum habis masa tahanan pertama, Gerlad kembali berulah dengan kasus serupa. Ia kembali dihukum penjara 8 tahun, denda Rp. 1 milyar, subsider 6 bulan kurungan. Sementara kasus ketiga yang diperbuat yaitu Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan masa hukuman penjara 10 tahun.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!