Sekilas Info

Mantan Gubernur Maluku Diperiksa Soal Proyek Fiktif Pembangunan Rumdis Poltek Ambon

satumalukuID/Istimewa Ilustrasi

satumalukuID- Karel Albert Ralahalu, mantan Gubernur Provinsi Maluku, diperiksa penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku di Mangga Dua, Kota Ambon, Rabu (17/3/2021) lalu.

Pemeriksaan yang sudah dijalaninya seputar kasus dugaan proyek fiktif pembangunan Rumah Dinas (Rumdis) Politeknik Negeri (Poltek) Ambon, tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010.

Proyek yang dianggarkan APBN ini dikerjakan PT. Nusa Ina Pratama. Direkturnya adalah Yusuf Rumatoras. Terpidana kasus kredit macet pada Bank Maluku tahun 2006 silam itu, kini berada dalam Lapas Ambon.

"Beliau (Karel) diperiksa dalam kasus pembangunan rumah dinas Politeknik Negeri Ambon tahun 2007, 2008, 2009 dan 2010. Jadi itu empat tahun anggaran," kata Kompol Laurens Werluka, Kanit II Subdit Tipikor Ditreskrimsus Polda Maluku, Senin (22/3/2021).

Karel, kata Laurens, dimintai keterangannya sebagai Gubernur Maluku, kala itu. Ia diperiksa hanya sebagai saksi, setelah kasus itu ditingkatkan ke tahapan penyidikan.

Gubernur Maluku periode 2003 - 2013 ini diperiksa karena ada keterkaitan rekanan antara PT. Nusa Ina Pratama dengan Koperasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) milik Pemerintah Daerah Maluku.

Pembangunan Rumdis yang sedianya dibangun di Kompleks Politeknik itu sendiri fiktif. Mereka hanya membangun perumahan BTN yang berlokasi di Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

"Ada hubungan dengan koperasi PNS Pemprov Maluku. Nah ini yang beliau (Karel) diperiksa. Karena ada tandatangan SK untuk pengembangan perumahan oleh Koperasi PNS tersebut," ungkapnya.

Karel, kata Laurens, dimintai keterangannya sebagai saksi karena beliau saat itu menjabat Gubernur Maluku. Pemeriksaan terhadap yang bersangkutan dilakukan untuk memperkuat proses penyidikan.

"Kasus tersebut proyeknya fiktif. Nusa Ina sudah ambil uang dan itu empat tahun anggaran. Katanya bangun di perumahan Pemda, ternyata KPR dan lewat BTN, Nusa Ina mengambil untung di situ," jelasnya.

Sejauh ini, lanjut Laurens, sejumlah saksi sudah diperiksa dalam kasus yang terjadi pada massa kepemimpinan Direktur Politeknik, Hendrik Nikijuluw. Pihaknya optimis akan menuntaskan kasus tersebut.

Untuk diketahui, proyek fiktif pembangunan Rumdis Poltek Ambon ini diduga merugikan negara sebesar kurang lebih Rp. 1,3 miliar.
Proyek yang dikerjakan PT. Nusa Ina Pratama direkturnya adalah Yusuf Rumatoras, terpidana korupsi kredit macet pada Bank Maluku tahun 2006 senilai Rp. 4 miliar.

Yusuf saat ini sedang menjalani hukuman 5 tahun penjara, berdasarkan putusan Mahkamah Agung pada 20 November 2017 lalu. Dia baru menjalani hukumannya setelah sempat dinyatakan buron.

Yusuf masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku sejak tahun 2017. Dia akhirnya menyerahkan diri sendiri di kantor Kejati Maluku, Kota Ambon, Sabtu (19/12/2021).

Setelah menyerahkan diri, saat itu juga, Yusuf dieksekusi untuk menjalani hukumannya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Ambon.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!