Sekilas Info

Manpapa Tewas Dibacok Pasien Sendiri, Ngakunya Sedang Diguna-guna Orang di Buru

satumalukuID/Istimewa

satumalukuID- Naas menimpa Manpapa Latbual. Pria 40 tahun ini tewas mengenaskan. Ia dibacok Mantibang Nurlatu dengan senjata tajam parang. Padahal, lelaki 30 tahun ini datang meminta bantuan korban. Pelaku mengaku sedang diguna-guna (santet) oleh orang.

Kasus pembunuhan secara tragis ini berlangsung di areal ketel Waepulut, Desa Waeflan, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Selasa (23/2/2021) sekira pukul 03.00 WIT. Korban tewas dengan luka bacok di leher, kepala, badan, tangan dan kaki.

Paur Humas Polres Pulau Buru, Aipda MYS Djamaludin, mengungkapkan, korban dibacok pakai parang saat sedang melakukan ritual adat penyembuhan pelaku yang mengaku disantet orang.

Berdasarkan pengakuan Olobeo Latbual, salah satu saksi di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kata Djamaludin, peristiwa itu berawal saat pelaku datang di areal ketel Waipulut, satu lokasi dengan korban. Ia kemudian menemui korban meminta tolong.

"Pelaku meminta bantu kepada korban dan saksi Olobeo Latbual untuk melakukan babeto atau ritual adat untuk mengusir penyakit (menurut keyakinan mereka) karena alasan pelaku kepada korban dan saksi bahwa dia diguna-guna oleh orang," terangnya.

Diminta tolong, korban langsung melakukan ritual adat. Kala itu pelaku meminta istrinya, Sina Behuku untuk mengambil dua buah gong. Gong itu kemudian diberikan kepada saksi Olobeo untuk melaksanakan rangkaian ritual adat.

Dalam proses ritual adat, pelaku memegang kaki Olobeo. Ia juga harus memegang kaki korban. Sayangnya, pelaku tidak melakukan tapi langsung mencabut parang dari sarungnya. Ia kemudian menganiaya korban dengan cara menusuk dan memotongnya.

"Saat itu saksi Olobeo langsung melarikan diri. Dia sempat mendengar ancaman dan makian dari pelaku," ungkap Djamaludin.

Kala itu, istri korban, Nomi Behuku, yang berada di dalam rumah terbangun dari tidur. Ia mendengar suara rintihan kesakitan dari suaminya.

Mendengar jeritan suaminya, Nomi langsung melarikan diri. Ia memilih kabur karena takut dengan pelaku. Pasalnya, di tahun 2007 silam, pelaku juga pernah melakukan hal yang sama kepada istirnya hingga tewas.

Peristiwa mengenaskan ini kemudian diketahui aparat Polsek Waeapo. Sekira pukul 08.00 WIT Kapolsek Waeapo Ipda Zainal bersama sejumlah personil berjalan kaki menuju TKP. Dibantu personil Reskrim Polres Pulau Buru, jenazah korban kemudian dievakuasi dari TKP menuju Puskesmas Waelo. Di Puskesmas, korban di visum et refertum.

Setelah dilakukan visum, jenazah korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga pada pukul 15.30 WIT. Dalam perjalanan menuju rumah duka, iring-iringan jenazah dihadang keluarganya sendiri. Mereka menginginkan agar jenazah korban di bawa ke rumah pelaku di Dusun Watimpuli. Keluarga korban ingin meminta pertanggung jawaban keluarga pelaku.

"Menurut keterangan saksi-saksi antara pelaku dan korban tidak pernah terjadi salah paham apapun sebelumnya. Saat Kejadian saksi Olobeo tidak begitu melihat dengan jelas karena rumah pelaku tidak ada penerangan sama sekali," katanya.

Kedua belah pihak sepakat korban dimakamkan di kampung halaman pelaku yaitu Desa Watimpuli, Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru. Tujuannya sebagai bentuk permintaan tanggung jawab pihak keluarga pelaku.

Kasus pembunuhan tersebut sempat mengakibatkan ketegangan antara marga Latbual dan Nurlatu. Pasalnya, sempat terjadi pemalangan jalan di Dusun Tanah Merah, tepatnya di depan rumah  Matatemun Yohanes Nurlatu. Namun sampai saat ini kondisi sudah mulai normal.

"Untuk pelaku masih dalam pengejaran. Karena saat melakukan aksinya pelaku langsung melarikan diri," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!