Sekilas Info

Polda Maluku Benarkan Dua Oknum Polisi Terlibat Penjualan Senpi dan Amunisi Ilegal di Papua

satumalukuID- Dua oknum polisi yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, berinisial R dan B diduga terlibat dalam penjualan senjata api (senpi) dan amunisi. Mereka sudah diamankan bersama mitra polisi dan sejumlah warga sipil.

R dan B diringkus setelah aparat Polres Bintuni, Papua Barat, mengamankan WT, seorang warga sipil bersama satu pucuk senjata api laras panjang dan revolver, laras pendek. Ratusan butir peluru, juga ditemukan di tangan pria 34 tahun itu pada Rabu (10/2/2021) lalu.

"Jadi sudah beberapa warga masyarakat termasuk juga anggota polisi yang ditangkap dalam hal ini. Iya ada 2 orang anggota," kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M. Rum Ohoirat kepada wartawan di ruang kerjanya, Senin (22/2/2021).

Juru bicara Polda Maluku ini, mengaku belum secara terperinci menyampaikan perkembangan hasil penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut kepada publik.

"Sekarang masih dilakukan penyidikan oleh anggota kami. Insya Allah saatnya akan kami rilis secara terbuka bersama dengan mitra kami. Karena itu ada senjata api dan ada peluru yang jumlahnya ribuan," jelasnya.

Terkait adanya kemungkinan hubungan penjualan senpi dan amunisi dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, Rum menegaskan masih butuh pendalaman.

"Penggunaan kata penjualan ke KKB perlu untuk diluruskan. Karena ini bertahap. Si A jual kepada si B menjual kepada si C dan pada akhirnya ke sana (ditangkap di Bintuni, Papua Barat). Jadi kalau menggunakan bahasa di jual kepada KKB itu masih perlu dilakukan pendalaman," tegasnya.

Mantan Kapolres Kepulauan Aru dan Kota Tual ini mengaku pihaknya akan mengusut kasus ini secara tuntas. Siapapun yang terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

"Siapapun yang terlibat dalam masalah ini kita akan ungkap ke publik kemudian kita bawa ke persidangan untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," sebutnya.

Untuk diketahui, aparat Polres Bintuni, Papua Barat, mengamankan dua pucuk senjata api dan ratusan butir amunisnya dari tangan WT, warga sipil. Di tangan pria 34 tahun ini, juga ditemukan dokumen surat keterangan bebas Covid-19 dari Kota Ambon.

Berdasarkan informasi yang dihimpun satumaluku.id, dua pucuk senjata api ilegal ini hendak diselundupkan ke Nabire, Papua. Dua benda mematikan itu dibawa dari Kota Ambon. Di antaranya 1 buah pistol revolver, 1 senjata api laras panjang, 600 amunisi kaliber 5,56 mm, 7 amunisi kaliber 3,8 mm dan satu magazine.

Penyelundupan senjata api dan amunisi ini dilakukan melalui jalur laut. Hendak ke Nabire, Papua, melalui Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, WT diamankan pada Rabu (10/2/2021).

Pengiriman senjata api bersama ratusan butir amunisi itu diduga ada hubungannya dengan pergerakan Kelompok Separatis Bersenjata di Papua.

Terkait dengan penangkapan seorang warga bersama dua pucuk senjata api dan ratusan amunisi yang dibawa dari Ambon, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol M. Rum Ohoirat, membenarkannya.

"Sebelumnya Polres Bintuni Papua Barat ada menangkap warga masyarakat yang membawa senjata api. Di mana dari hasil penyelidikan bahwa senjata tersebut di beli dari Ambon," kata Rum yang dikonfirmasi Minggu (21/2/2021).

Mendapat informasi terkait penyelundupan senjata api ilegal ini, Kapolda Maluku Irjen Pol Refdi Andri, memerintahkan Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang, melakukan koordinasi dengan Polres Bintuni.

"Atas informasi tersebut Kapolda Maluku memerintahkan Kapolres Ambon dengan di back up oleh Polda Maluku untuk melalukan koordinasi dengan Polres Bintuni dan Polda Papua Barat," kata Rum.

Selain itu, orang nomor 1 Polda Maluku ini juga memerintahkan untuk melakukan penyelidikan terkait adanya jual beli senjata api di Kota Ambon. Hasilnya, sejumlah orang sudah berhasil ditangkap.

"Beberapa orang sudah ditangkap. Kasus tersebut masih dikembangkan dan akan dilakukan ekspos ke media. Kita masih kembangkan dan akan di ekspos secara terbuka," tandasnya.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!