Sekilas Info

Besok Sidang Praperadilan Kasus Korupsi Lahan PLTMG Namlea Kembali Digelar

Dok/satumalukuID/Husen Toisuta Ferry Tanaya, tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan PLTMG Namlea.

satumalukuID- Ferry Tanaya kembali tidak terima dengan ditetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan pembangunan PLTMG di Namlea, Kabupaten Buru. Buktinya, ia kembali menggugat Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku di Pengadilan Tipikor Ambon sejak Selasa (9/2/2021) lalu.

Upaya hukum yang ditempuh lelaki 61 tahun ini masih sama, yaitu bertujuan untuk kembali menggugurkan status tersangkanya tersebut melalui sidang Praperadilan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kota Ambon, Selasa besok (16/2/2021).

Tak hanya mempraperadilankan Kejati Maluku, Ferry diketahui juga menggugat Kejati dan Badan Pertahanan Nasional (BPN) telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Ia juga melaporkan kerja penyidik Kejati kepada Kejaksaan Agung RI.

"Besok pagi (Selasa) tepat pukul 09.00 WIT, sidang praperadilan dimulai," ungkap pengacara Ferry Tanaya, Henri Lusikooy, Senin (15/2/2021).

Ketua Yayasan Pos Bantuan Hukum Indonesia (YPBHI) Ambon ini mengaku, upaya praperadilan yang dilakukan pihaknya masih berkaitan dengan status tersangka Ferry, kliennya. Mereka menilai terdapat beberapa kejanggalan yang bisa dipakai sebagai senjata untuk menggugurkan status tersangkanya.

"Jadi, langkah praperadilan ini hampir sama dengan praperadilan sebelumnya. Di mana, dalam pertimbangan putusan praperadilan sebelumnya itu, hakim dalam amar putusaanya menyatakan penetapan pemohon (Ferry Tanaya) sebagai tersangka menurut Pasal 2 dan Pasal 3 UU Tipikor adalah tidak sah demi hukum. Jadi sama saja, ada juga hal lain yang tentu akan menjadi peluru bagi kami nantinya," jelasnya.

Henri mengaku, kasus ini harusnya ditangguhkan lebih awal. Sebab, masih terdapat sengketa kepemilikan atas lahan yang dijadikan objek penyidikan Kejati Maluku di Pengadilan Negeri (PN) Namlea.

"Sengketa kepemilikan ini kan sementara bergulir di PN Namlea. Saat ini sidang sudah berjalan, kemarin pada sidang awal baik Kejaksaan maupun BPN tidak hadir. Padahal, gugatan ini sangat penting untuk mengetahui apakah tanah ini milik negara atau Ferry Tanaya," kata Henri. "Besok ikuti saja sidang praperadilan. Pasti menarik nantinya," tambahnya.

Untuk diketahui, Ferry Tanaya dan Abdul Gafur Laitupa (47), kembali ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di Dusun Jiku Besar, Desa Namlea, Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru.

Kedua tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan PLTMG 10 MV tahun 2016 silam itu, sejak ditetapkan Rabu (27/1/2021) lalu, hingga saat ini belum di tahan oleh penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku.

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas (Kasipenkum) Kejati Maluku, Samy Sapulette, mengungkapkan, penetapan dua tersangka tersebut dilakukan setelah penyidik memperoleh bukti permulaan yang cukup.

Usai memperoleh cukup bukti, juru bicara Kejati Maluku ini mengaku, tim penyidik kemudian melakukan ekspose atau gelar perkara. Status keduanya lantas dinaikan menjadi tersangka.

"Setelah melalui serangkaian tindakan penyidikan dalam perkara dugaan Korupsi dalam pengadaan tanah untuk lahan pembangunan PLTMG 10 MV Tahun Anggaran 2016, telah diperoleh bukti permulaan yang cukup dan telah diterbitkan Surat Penetapan Tersangka kepada FT (Ferry Tanaya) dan AGL (Abdul Gafur Laitupa)," jelasnya.

Ferry ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan nomor B-212/Q.1/Fd.2/01/2021, tanggal 27 Januari 2021. Sedangkan Abdul dengan nomor B-213/Q.1/Fd.2/01/2021, tanggal 27 Januari 2021.

"Setahu saya belum (Tersangka FT dan AGL belum ditahan)," kata Samy singkat.

Ferry Tanaya yang mengaku sebagai pemilik lahan PLTMG Namlea dan Abdul Gafur Laitupa, Pegawai Negeri Sipil di BPN Kabupaten Buru, pernah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus serupa.

Ferry dan Abdul yang sudah ditahan kala itu, kemudian dilepaskan demi hukum. Ini setelah hakim tunggal praperadilan Rahmat Selang, menerima gugatan Ferry Tanaya di Pengadilan Tipikor Ambon, Kamis (24/9/2020) lalu.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!