Sekilas Info

SKOLAH KAMPUNG

EcoNusa, INSIST, dan Ketua Komisi IV DPRD Maluku Gelar Skolah Kampung di Morekau Seram Barat

satumalukuID/Doc. Samson Atapary Suasana belajar pada Skolah Kampung Saka Mese Nusa, di Morekau, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

satumalukuID - Sebuah Skolah Kampung untuk masyarakat, sebagai pilot project membangun negeri, dibikin di Morekau, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), mulai digelar Kamis (4/2/2021).

Sekolah yang diberi nama Skolah Kampung Saka Mese Nusa, dan mengusung semboyan “Membuat Jalan Sambil Berjalan” ini, merupakan kerjasama dari Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation), Indonesian Society for Social Transformation (INSIST), Masyarakat dan Jemaat Morekau dan Ketua Komisi IV DPRD Maluku.

Dalam keterangannya yang diterima satumaluku.id, Jumat (5/2/2021), Ketua Komisi IV DPRD Maluku, Samson Atapary menyebutkan, sekolah kampung ini diampu dewan guru atau fasilitator berpengalaman dari INSIST Yogyakarta dan Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) Jawa Tengah.

“Tujuannya untuk melatih dan meningkatkan kapasitas atau pengetahuan serta ketrampilan praktis bagi pemuda kampung/negeri, untuk dapat berperan serta membantu pemerintahan negeri dalam membuat perencanaan dan pengembangan program yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam,” terang Samson.

Kurikulum yang dikembangkan dan dipraktekkan, menurut Samson, diantaranya:

1. Mengembangkan teknologi pertanian organik terpadu (manajemen bertani, analisa tanah/lahan, analisa agro ekosistem, benih/bibit unggul, produk pupuk/pestisida organik, perawatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit dll).

2. Mengembangkan teknologi tepat guna pengolahan pasca panen hasil-hasil pertanian dan perkebunan rakyat, (seperti pala, cengkeh, kelapa/kopra putih, kakao, kasbi/singkong menjadi tepung mokaf, dll) dalam bentuk oven pengeringan tenaga matahari, dan biogas dari kotoran ternak (sapi), sehingga hasil akhirnya memiliki mutu maupun kualitas eksport yang dapat menghasilkan nilai tambah.

3. Mengembangkan energi yang ramah lingkungan dalam bentuk biogas untuk bahan bakar kompor masak, dan penerangan rumah dari kotoran sapi peternakan skala rumah tangga.

4. Mengembangkan dan membuat database, profil dan monografi negeri berbasis teknologi informasi, sebagai dasar membuat perencanaan, penyusunan program serta Promosi negeri untuk pariwisata dan kegiatan lainnya.

“Kegiatan dilakukan dalam bentuk lokakarya selama tiga (3) hari. Selanjutnya materi kelas selama 21 hari, dan praktek lapangan di masing-masing negeri berlangsung selama empat (4) bulan,” pungkas Samson.

Penulis: Tiara Salampessy
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!