Sekilas Info

OPINI MUSIK

Beto #LakiLakiBae, Konsistensi Bermusik dan Style Milenial Musik Timur

satumalukuID – Beto #LakiLakiBae Habibu sebentar lagi akan menelurkan single terbaru Pop Ambon bertajuk #Nikah pada 1-2-(20)21.

Ini merupakan lagu kedua yang dia rilis di masa pandemi Covid-19. Sebelumnya pada 10 Oktober 2020, Beto merilis single #JodohSengKemana.

Jika merunut lebih ke belakang, setidaknya sudah lima single Pop Ambon yang dirilis Beto. Dua diantaranya adalah adalah #LakiLakiBae dan #SeBaeNona.

Rencananya, berbagai single tersebut akan disatukan dalam album bertajuk #LakiLakiBae.

Single bagi penyanyi profesional merupakan achievement. Namun memiliki Album adalah prestise. Karena itu, tak berlebihan bila Beto #LakiLakiBae memiliki mimpi menelurkan album sebagai sebuah masterpiece.

Beto bisa dibilang sebagai penyanyi yang mewakili generasi milenial dari Maluku. Para pakar menggolongkan kaum milenial atau generasi Y untuk mereka yang lahir pada 1980 - 1990, atau awal 2000.

Ciri kaum milenial ini identik dengan gadget, multi tasking dan kritis terhadap fenomena sosial.

Kalangan milenial ini, juga sangat familiar dengan berbagai platform social media dan digital sebagai sarana komunikasi, promosi, dan marketing.

Karena itu, tak heran kalua kaum milenial memilih tetap berkarya dan memanfaatkan berbagai platform digital dan sosial media untuk menjual karya-karya mereka.

Baca Juga:

Kebetulan, Beto adalah seorang jebolan ajang talent search Indonesia Idol. Tempaan ajang tersebut secara tidak langsung membentuk Beto dan jebolan Idol lainnya menjadi artis profesional bertalenta.

Lihat saja jebolan Indonesia Idol terbaru tahun 2020 seperti Lyodra, Tiara dan Ziva yang tetap berkarya di masa pandemi Covid-19.

Karya-karya mereka ternyata bisa diterima masyarakat. Terbukti streaming lagu-lagu mereka baik di Youtube dan berbagai platform musik digital mencapai belasan hingga puluhan juta viewer.

Beto memang memilih fokus ke lagu-lagu Pop Ambon. Dan hal itu tak sedikitpun menurunkan pamor dia sebagai artis Jebolan Idol. Pasalnya, telah terjadi perubahan signifikan pada industri musik dunia dan Indonesia.

Teknologi digital saat ini telah meruntuhkan hegemoni perusahaan-perusahaan industri rekaman. Siapa yang pernah menyangka artis-artis K-Pop berhasil menembus pasar musik dunia, tanpa perlu berpindah dulu ke Amerika Serikat sebagai pusat industri musik dunia.

Siapa sangka artis-artis K-Pop bisa terpilih sebagai pemenang Grammy dan berbagai ajang penghargaan musik dunia yang dulu hanya bisa diraih artis-artis Amerika dan Eropa.

Begitu halnya di Indonesia. Saat ini, siapapun, dimanapun dia tinggal bisa memproduksi karya musiknya. Tak perlu lagi bergantung  ke perusahaan rekaman terkenal di Jakarta.

Denny Caknan, pemuda asal Ngawi, Jawa Timur, sudah membuktikan dirinya menjadi penyanyi terkenal lagu-lagu campur sari tanpa perlu merantau lebih dulu di Jakarta. Dia hanya berkarya dari daerah asalnya di Ngawi.

Hal yang sama terjadi juga pada anak-anak muda Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua yang lagu-lagu Timur (berciri Melanesia) mereka ternyata laris manis di berbagai platform social media. Bahkan banyak ditemui di berbagai platform digital seperti Spotify, Langit Musik, Apple Music dan lain sebagainya.

Ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Award tahun 2020 lalu pernah mencatat sejumlah pemuda NTT sebagai penerima award, tanpa perlu merantau dulu ke Jakarta. Ada pencipta lagu dan penyanyi.

Produktivitas Beto yang mempopulerkan lagu Pop Ambon patut diapresiasi. Tentunya kita berharap makin banyak anak-anak Ambon dan Maluku yang terus berkarya di masa pandemi Covid-19 ini.

Sejatinya, sejumlah penyanyi milenial asal Ambon seperti Ona Hetharua dan Putry Pasanea juga dikenal sangat produktif menghasilkan karya. Lagu-lagu berciri musik Timur (Melanesia) mereka sudah di-streaming jutaan orang di berbagai platform social media.

Hal yang sama juga dilakukan sejumlah musisi Hip Hop Maluku baik di tanah Maluku maupun di Papua. Rapper Saykoji cukup mengapresiasi karya-karya musik hip-hop anak-anak Maluku yang dinilainya memiliki ciri khusus dan bisa diterima secara luas.

Tentunya kita berharap anak-anak milenial Maluku ini terus berkarya secara konsisten. Setidaknya bisa mewarnai industri musik Indonesia sebagaimana dilakukan anak-anak Maluku era 70-an dan 80-an seperti almarhum Broery Pesolima, Bob Tutupoly, dan almarhum Yopi Latul. Atau seperti almarhum Glenn Fredly di era 2000-an.

Selamat untuk Beto #LakiLakiBae dan semua anak Maluku yang sedang berjuang mencari eksistensi di dunia musik Indonesia. Teruslah berkarya!

Penulis: Petra Josua
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!