Sekilas Info

OPINI

Peran Perempuan Indonesia

Menyambut hari ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2020 kemarin, tak lengkap rasanya jika kita tidak membahas peran ibu ataupun perempuan saat ini, khususnya di Indonesia. Apalagi, isu kesetaraan gender belakangan mulai digaungkan kembali.

Bicara tentang peran seorang ibu, mungkin ratusan kata saja tidak cukup untuk mewakilkannya. Semakin maju perekonomian dan teknologi saat ini, ibu juga dituntut untuk mampu menyesuaikan diri, bahkan ikut berpartisipasi dan ambil bagian.

Begitu hebatnya seorang ibu yang harus bekerja setiap harinya, bahkan di tengah pandemi Covid-19 yang masih saja menghantui, tetap tak lupa untuk mengurus keluarganya. Tak kalah hebat pula para ibu rumah tangga yang meskipun tidak bekerja, tapi mampu menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangganya sendirian.

Isu kesetaraan gender makin menarik perhatian banyak kalangan, tak terkecuali di Indonesia. Istilah pemimpin adalah seorang laki-laki mungkin sudah kurang populer saat ini. Perempuan dan laki-laki tentu berhak mendapatkan kesempatan yang sama, tanpa ada kondisi dan syarat apapun.

Tak hanya laki-laki, perempuan juga berhak dan seharusnya ikut mengejar pendidikan yang tinggi. Pendidikan seorang ibu tentu sangat berperan signifikan pada pendidikan anak-anaknya nanti.

Seorang perempuan yang nantinya akan menjadi ibu, dengan pendidikan yang memadai, mampu mendidik anaknya menjadi generasi yang berkualitas. Dan faktanya, pendidikan perempuan saat ini semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa angka partisipasi sekolah perempuan sedikit lebih tinggi dibandingkan laki-laki pada seluruh kelompok umur. Angka partisipasi murni perempuan pada jenjang SMP dan SMA juga tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Hampir 9 dari 100 perempuan berusia 15 tahun ke atas memiliki ijazah tertinggi perguruan tinggi, lebih tinggi dari laki-laki, baik di perkotaan maupun perdesaan.

Namun begitu, berdasarkan hasil SUPAS 2015 oleh Badan Pusat Statistik, angka kematian ibu masih tergolong cukup tinggi, yakni 305 per 100.000 kelahiran hidup. AKI teringgi berada di wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, mencapai 489 per 100.000 kelahiran hidup. Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Berbagai kebijakan untuk melindungi para ibu mulai dari hamil sampai dengan melahirkan sudah disediakan, salah satunya melalui BPJS Kesehatan. Mulai dari layanan selama masa kehamilan, USG, persalinan normal sampai dengan persalinan dengan operasi atau yang lebih sering disebut dengan operasi Caesar ditanggung oleh badan publik ini.

Meskipun begitu, nyatanya masih saja ada ibu yang lebih memilih untuk melahirkan tanpa dibantu oleh tenaga kesehatan. Padahal risiko kematian ibu tentu akan lebih rendah jika proses melahirkan ditolong oleh tenaga kesehatan yang terlatih. BPS mencatat masih ada sekitar 8,46 persen wanita yang mungkin terpaksa melahirkan sendiri ataupun hanya dibantu kerabat sekitarnya saja.

Kasus Kekerasan terhadap Perempuan Masih Tinggi

Seorang ibu harus bisa menjadi perempuan yang kuat. Namun, tak jarang perempuan mendapatkan kekerasan, baik dari segi fisik maupun mental. Terhitung sudah diputuskan sebanyak 14 peraturan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dan 17 peraturan daerah yang mendukung pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Tujuannya tak lain adalah untuk menghilangkan kekerasan terhadap perempuan. Namun faktanya, 1 dari 10 perempuan usia 15-64 tahun yang pernah/sedang menikah pernah mengalami sedikitnya 1 dari 3 jenis kekerasan, baik fisik, seksual maupun emosional dari pasangannya. Tercatat pula sekitar 4,66 persen perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh bukan pasangannya dalam 12 bulan terakhir.

Berdasarkan data Kemenpppa, per 3 Desember 2020, jumlah kasus kekerasan yang dilaporkan dan terdata di situs kekerasan.kemenpppa.go.id mencapai 15.463 kasus. Lalu bagaimana dengan kasus-kasus yang tidak tercatat ke dalam angka tersebut?

Perempuan dan SDGs

Fisiknya yang sering dianggap kalah kuat dengan kaum laki-laki membuat perempuan sering dijadikan sasaran empuk kekerasan. Tak heran, jika perempuan berada di posisi ke-5 dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals yang sudah diakui dunia internasional. Tujuan ini adalah untuk mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan di dunia, termasuk Indonesia.

Perempuan tentu juga dapat berperan aktif demi tercapainya tujuan tersebut. Salah satu bentuk peran tersebut dapat dilihat dari kontribusi yang diberikan perempuan di bidang politik.

Saat ini, kontribusi perempuan di bidang politik semakin tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meskipun kursi parlemen didominasi oleh laki-laki, proporsi perempuan yang duduk di parlemen paada tahun 2019 meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2014, yakni mencapai 20,87 persen di DPR RI dan 30,08 persen di DPD RI.
Tidak seperti zaman dahulu, perempuan kini sudah semakin hebat.

Perempuan saat ini sudah berani menyampaikan pendapatnya dan memperjuangkan haknya tanpa melupakan kewajibannya. Perempuan saat ini berani untuk maju, berkarya dan turut mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Perempuan saat ini lebih mandiri, mampu berdiri sendiri, bahkan berkarir melampaui kaum lelaki. Maka jangan heran, jika perempuan saat ini tak mau lagi ada diskriminasi.

Penulis: Ridho Fadillah, bekerja sebagai fungsional Statistisi Badan Pusat Statistik

Penulis: Ridho Fadillah
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!