Sekilas Info

Mengenang 203 Tahun Perjuangan Martha Cristina Tiahahu Pahlawan Nasional Asal Maluku

satumalukuID- 203 tahun silam, Martha Cristina Tiahahu, Pahlawan Nasional asal Maluku, gugur di atas kapal perang Eversten milik penjajah Belanda. Persisnya tanggal 2 Januari 1818. Dia kemudian dibuang di laut Banda.

Untuk mengenang jasanya, setiap tanggal 2 Januari, Pemerintah Daerah bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Maluku, menggelar upacara peringatan hari perjuangan gadis belia 17 tahun itu.

Upacara peringatan hari perjuangan Martha Cristina Tiahahu ke 203 tahun, berlangsung di Monumen Patung Srikandi asal Pulau Nusalaut tersebut, di Kawasan Karang Panjang, Kota Ambon, Sabtu (2/1/2021).

Kapolda Maluku Inspektur Jenderal Polisi Refdi Andri, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Ia didampingi Direktur Samapta, Kombes Pol Agus Pujianto dan Komandan Satuan Brimob Polda Maluku Kombes Pol Muhammad Guntur.

Turut hadir dalam upacara itu yakni Kasdam XVI/Patimura Mayjen TNI Gabriel Lema, Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury, Kepala BNNP Maluku, Brigjen Pol M.Z. Muttaqien, Danlanud Pattimura Kolonel Pnb Sapuan dan Forkopimda Maluku lainnya.

"Upacara yang dilakukan setiap tahun ini untuk mengenang kembali jasa dan perjuangan para pejuang asal Maluku," kata Kapolda.

Selain upacara di bawah monumen Martha Cristina Tiahahu, prosesi tabur bunga di laut sebagai bentuk penghormatan juga dilakukan hari ini.

Prosesinya berlangsung di atas Kapal Perang KRI Kerapu 812, yang bersandar di Dermaga Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX/Ambon, Kota Ambon.

Tabur bunga di pimpin Komandan Lantamal IX Ambon, Laksamana Pertama TNI Eko Jokowiyono. Turut hadir Wakapolda Maluku Brigjen Pol Jan de Fretes, Sekda Maluku Kasrul Selang, Wakajati Maluku Undang Magopal, perwakilan Kodam XVI/Pattimura, dan Lanud Pattimura.

Disadur dari wikipedia, Martha Christina Tiahahu lahir di Desa Abubu, kini Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, 4 Januari 1800. Ia meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818. Kala itu, usianya baru 17 tahun, saat mengangkat senjata melawan kolonial Belanda dan meninggal dunia.

Ayah Martha adalah Paulus Tiahahu, seorang Kapitan dari negeri Abubu. Ia juga membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura tahun 1817 melawan  Belanda.

Martha tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik. Ia seorang putri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam Perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, Ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekuen terhadap cita-cita perjuangannya.

Sejak awal perjuangan, Ia selalu ikut mengambil bagian dan pantang mundur. Dengan rambutnya yang panjang terurai ke belakang serta berikat kepala sehelai kain berang (merah), Ia tetap mendampingi ayahnya dalam setiap pertempuran baik di Pulau Nusalaut  maupun di Saparua. Siang dan malam Ia selalu hadir dan ikut dalam pembuatan kubu-kubu pertahanan.

Martha bukan saja mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita di negeri-negeri lainnya untuk ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran. Olehnya itu Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang.

Di dalam pertempuran yang sengit di Desa Ouw – Ullath jasirah tenggara Pulau Saparua, betapa hebatnya Srikandi ini menggempur musuh bersama para pejuang rakyat. Karena tidak seimbang dalam persenjataan, tipu daya musuh dan pengkhianatan, para tokoh pejuang dapat ditangkap dan menjalani hukuman. Ada yang harus mati digantung dan ada yang dibuang ke Pulau Jawa.

Kapitan Paulus Tiahahu divonis hukum mati tembak. Martha Christina Tiahahu berjuang untuk melepaskan ayahnya dari hukuman mati, tetapi ia tidak berdaya dan meneruskan bergerilyanya di hutan. Namun akhirnya ia ditangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

Di Kapal Perang Eversten, Martha menemui ajalnya dan dengan penghormatan militer jasadnya diluncurkan di Laut Banda menjelang tanggal 2 Januari 1818.

Untuk menghargai jasa dan pengorbanannya, Martha Christina Tiahahu dikukuhkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Foto: Forkopimda Maluku tampak menabur bunga di laut dari atas Kapal Perang Kerapuh 812 di Lantamal IX Ambon, Sabtu (2/1/2021). (satumalukuID/Istimewa)

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!