Sekilas Info

OPINI KREATIF

Bernyanyi sebagai Salah Satu Cara Meningkatkan Frekuensi Tubuh untuk Perangi Virus Covid-19

satumalukuID/Dok. Tersy Krikhoff Ronny Loppies, Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

Aspek psikologis saat ini menjadi pertimbangan penting yang tak boleh dilupakan, agar proses penyembuhan lebih cepat selain menggunakan vaksin.

Saat ini metode penyembuhan yang menggunakan bunyi berkembang pesat, yaitu melalui terapi musik berlisensi akan membantu pasien untuk sembuh melalui mendengarkan musik, bergerak mengikuti iramanya, memainkan musik dan bernanyi.

Program-program yang melibatkan teknik penyembuhan dengan suara dan bunyi melantunkan nada (menggunakan suara untuk mendesah, mengeluh, mendengkur atau memperdengarkan satu nada), bersenandung, kursi vibro-akustik (yang meneruskan suara secara langsung ke para pasien melalui pengeras suara yang dipasang pada kursi), resonansi harmonis dan musik dalam khayalan. Teknik-teknik ini menggunakan gelombang vibrasi suara untuk meningkatkan kesehatan dan membawa rama internal tubuh menjadi seimbang kembali.

Musik dan bunyi telah terkandung di dalamnya daya rangsang. Musik bukan lagi sekedar bunyi-bunyian yang harmonis. Musik merupakan getaran udara harmonis, maka syaraf di telinga menangkapnya, diteruskan ke syaraf pusat di otak, sehingga menimbulkan kesan tertentu pada seseorang.

Harmoni musik yang setara dengan irama internal tubuh, akan memberikan kesan menyenangkan pada diri seorang pasien. Ritmik musik yang cepat akan melahirkan kesan cepat pada irama tubuh. Demikian pula dapat terjadi sebaliknya.

Vibrasi yang dihasilkan musik dapat memengaruhi fisik pasien. Selama vibrasi dan harmoni yang digunakan tepat, pasien akan merasa nyaman. Maka pasien akan merasa santai atau rileks.

Itulah kekuatan musik yang berhubungan, juga bunyi atau frekuensi yang mampu menyentuh frekuensi diri si pasien. Karena segala sesuatu di permukaan bumi ini memiliki frekuensi atau vibrasi yang unik. Sehingga penyakit dapat muncul apabila terjadi semacam kontra-vibrasi yang dapat mengganggu vibrasi yang normal.

Bunyi atau suara dapat digunakan untuk mengubah frekuensi yang tidak harmonis, kembali kepada vibrasi yang normal, sehat dan dengan cara demikian akan dapat memulihkan kesehatan.

Saya sering merasakan beberapa getaran vocal yang diucapkan dengan konsentrasi penuh mempunyai efek kesehatan pada bagian-bagian tubuh tertentu.

Karena pengucapan vocal seperti a, e, i, o, u, ö, ü dengan konsentrasi penuh, akan sangat memberikan sugesti yang positif yang mempunyai kekuatan luar biasa.

Tubuh manusia memiliki milyaran bio-elektron disusun dalam suatu sistem energi. Sistem energi dan simpul utama di jantung (fisik) atau qolbu (non-fisik) memancarkan getaran yang keluar tubuh. Oleh karena itu, tubuh memiliki “frekuensi tertentu”.

Selanjutnya dari simpul utama di jantung, jaringan energi itu kemudian menuju ke organ-organ tubuh lainnya, seperti otak, ginjal, paru-paru dan sebagainya. Di dalam organ-organ tersebut, jaringan terpecah menuju sel-sel, sedangkan di dalam sel-sel terdiri dari molekul yang berjumlah jutaan. Dan akhimya seluruh jaringan itu berujung pada elektron-elektron yang berjumlah milyaran yang merupakan penghasil bio-listrik di dalam tubuh.

Jadi denyut jantung ini sebenarnya adalah denyutan listrik, dan yang menjadi sumber getaran tubuh manusia. Dengan demikian maka sistem energi di dalam tubuh kita menghasilkan getaran yang terpancar keluar tubuh dan memiliki frekuensi yang dinamakan “frekuensi manusia”. (www.kompasiana.com/kito/ 58880b6351f9fd6c048b4567/benarkah-manusia-memiliki-frekuensi-tertentu?).

Dari beberapa referensi yang ada disampaikan bahwa virus Covid-19 memiliki getaran frekuensi 5,5hz dan akan mati di atas frekuensi 25,5hz. Frekuensi manusia dengan getaran yang tinggi maka beberapa permasalahan penyakit yang diderita dapat berkurang dan hilang dengan sendirinya antara lain infeksi yang disebabkan karena iritasi ringan.

Dalam beberapa penelitian disampaikan juga bahwa getaran frekuensi yang rendah bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal seperti : ketakutan, fobia, kecurigaan, kecemasan, stress, ketegangan, kecemburuan, kemarahan, kebencian, keserakahan, kemelekatan ataupun rasa sakit dan sudah pasti menurunkan imun.

Maka sudah seharusnya kita lebih banyak memainkan frekuensi tinggi, sehingga frekuensi yang lebih rendah tidak melemahkan sistem kekebalan kita.

Frekuensi bumi saat ini adalah 27,4hz, tetapi ada tempat yang getaran frekuensinya sangat rendah seperti: rumah sakit, pusat bantuan, penjara, ruang bawah tanah dan lain-lain. Pada tempat-tempat seperti ini, getaran frekuensi turun menjadi 20hz atau malah berkurang.

Bernyanyi akan membuat frekuensi manusia berhasil meningkatkan frekuensi karena didalam bernyanyi terdapat ungkapan syukur (150 hz), meningkatkan rasa cinta-kasih dan welas-asih untuk semua makhluk hidup (150 Hz atau lebih), memiliki rasa cinta kasih tanpa syarat dan universal mulai (205hz), orang yang bernyanyi memiliki rasa kedermawan yang tinggi (95hz) dan pasti senang lewat tertawa (500 hz).

Jika bernyanyi secara spiritualitas/rohani dapat diidentikan dengan doa maka maka lewat doa getaran frekuensi sudah dimulai dari 120hz sampai 350hz (https://jurnalpatrolinews.co.id/kesehatan/bergetar-lebih-tinggi-lebih-efektif-melawan-virus/)

Jadi teruslah bernyanyi, menabur benih cinta-kasih, bermain musik dan bersyukur maka kita telah berhasil menggetarkan frekuensi tubuh kita semakin tinggi. Sambil jangan lupa tetap memakai masker atau face-shield bila bernyanyi dalam bentuk grup, menjaga jarak dan mencuci tangan sambil teruslah berdoa.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

Penulis: Ronny Loppies
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!