Sekilas Info

SOSOK

Edward OS Hiariej, Wakil Menteri Berdarah Maluku yang Sempat Telat Kuliah dan Jadi Profesor Termuda di UGM

Foto: Tirto.id Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, SH M.Hum.

Mungkin kita ingat salah satu acara kuis tebak lagu dipandu almarhum Kus Hendratmo yang tayang di paruh akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Orang yang ketika itu akan jadi salah satu nominator juara adalah Edward Omar Sarief Hiariej, atau biasa dipanggil Eddy.

Eddy kawan sebelahan kelas ketika kami sama-sama pada tahun awal di SMA 1 Ambon pada 1989. Kami sama-sama Ketua Kelas. Dia kemana-mana menenteng buku tulis berukuran folio dengan hard cover. Nampaknya buku yang istimewa. Terselip penasaran isi buku seperti apakah yang kemana-mana selalu dia tenteng itu? Buku itu ternyata berisi berbagai teks jenis lagu! Eddy ternyata sangat gemar dan kuat menghapal. Lantunkan beberapa nada awal dan dia akan menebak akurat judul lagunya.

Pada sekitar pertengahan 1992 di waktu-waktu pertama kali menginjakkan kaki untuk berkuliah di Jogja, secara kebetulan saja perjalanan kami saling melintas.

Bertemu kembali dengan Eddy ketika mengunjungi kost Erick Hiariej kakaknya yang kebetulan senior saya satu jurusan di Fisipol UGM. Ketika kembali bersua di Jogja, gestur kawan ini tetap, tidak berubah. Berperawakan tenang dan sorot mata yang fokus tertuju. Seperti itu pula lah sosok Eddy ketika beberapa saat bersilang waktu ketika SMA.

Teringat kembali obrolan-obrolan tentang arah cita-cita yang ingin dia tuju. Eddy ketika belia mengidolakan Jaksa Agung Ali Said, tokoh yang baginya berwibawa dan kampiun dalam bidang hukum.

Sejak awal dia tegas mematok arah yang akan dia tuju, di bidang hukum. Saya hanya mengira-ngira motivasinya. Eddy yang lahir dan besar dari ayah seorang birokrat mungkin wajar menginginkan dengan kemapanan seperti itu.

Sejak saat kenal di SMA, Eddy telah belajar bahasa Belanda yang memang perlu jadi sarana mempelajari keilmuan itu. Kita mahfum banyak literatur terkemuka ilmu hukum dalam bahasa Belanda. Dia kelihatan fasih berbicara beberapa penggal bahasa Belanda.

Saya menduga kuat, ada saat Eddy “terpukul” dalam melangkah mencapai cita-citanya. Saya rekan seangkatan telah lebih dulu masuk ke UGM pada 1992, sedangkan Eddy harus bersabar menghabiskan waktu mempersiapkan diri seleksi pada tahun berikutnya.

Dan di waktu-waktu itu, Eddy menunjukkan diri sebagai seorang yang tekun dan disiplin. Ia mungkin lebih banyak mengumpulkan informasi tentang kondisi Fakultas Hukum UGM yang jadi tujuan pilihannya, apa kelebihan dan kekurangan, dan bagaimana rentang historis perjalanan yang menyebabkan kondisinya itu.

Eddy bukan saja eksis secara keilmuan, jadi putra Maluku pertama yang menjadi profesor dalam usia yang muda di UGM. Dosen Ilmu Hukum Pidana yang gemar mengkoleksi sepatu kets (sneakers), keilmuwannya jadi kampiun dan disumbangkan dalam penegakan hukum.

Eddy ramai menjadi saksi ahli di kasus-kasus hukum yang pelik di berbagai tempat. Hingga ketika lampu sorot publik nasional semuanya tertuju padanya ketika dihadapan sidang Mahkamah Konstitusi fasih mengeja kerangka legal dalam sengketa Pilpres di 2019.

Pagi ini kabar tiba, Eddy mengemban amanah tugas yang baru sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM, seorang putra Maluku, yang sadar atau tidak, telah lama mempersiapkan dirinya sampai pada titik ini, atau bahkan kelak lebih.

Selamat Eddy, banyak tugas berat menata sistem dan penegakan hukum dan HAM menanti pikiran dan tindakanmu.

Penulis: Amril Buamona, anggota Tim Gubernur Percepatan Pembangunan Maluku

Penulis: Amril Buamona
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!