Sekilas Info

OPINI

PASSING OVER AND COMING BACK

satumalukuID/Freepik.com

Saya pernah punya masa dimana hampir saban minggu ke Karedral, di Makassar, untuk menghadiri dan mengikuti ibadah (juga beberapa misa). Bahkan, saya melakukannya walau saat sedang menjalankan ibadah puasa sekalipun.

Di dalam Katedral saya mendengar khutbah yang disampaikàn Pastor, ikut bernyanyi bersama dan tak lupa memberikan duit saat kolekte. Yang tidak saya lakukan adalah mencicipi roti dan meminum anggur. Teman saya, Passtor, melarang keras saya untuk melakukannya. Sebanarnya, saya dilarang juga untuk memberikan uang saat kolekte, tapi saya melanggarnya. Dan, saya senang karena Pastor bisa menerimanya.

Selama mengikuti prosesi ibadah, saya selalu berusaha khusyuk. Momen-momen ibadah di Katedral itu adalah ruang baru yang memungkinkan saya secara langsung bisa banyak belajar, mengalami, membuka cara pandang, memahami dan menerima ajaran agama yang berbeda.

Dari sana, saya kemudian menyadari betapa memang terdapat perbedaan signifikan di antara Islam dan Katolik, dan karena itu mengapresiasinya menjadi kepatutan yang dipantaskan. Akan tetapi, terdapat juga banyak pesan-pesan baik, indah dan sama yang saya pelajari dari pesan-pesan khutbah, ajaran Katolik. Tentang kasih, cinta kepada sesama, tolong-menolong, peduli pada yang kurang mampu, berbagi rezeki, yang patut diamalkan secara tulus kepada mereka yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan latar identitas agama.

Saya mendaku dengan penuh keyakinan, bahwa pesan-pesan baik, indah dan sama itu adalah pesan kemanusiaan, yang nilainya universal. Inilah the global ethic atau the golden rule. Oleh karena pesan yang baik, indah dan sama itu dapat ditemukan juga pada ajaran-ajaran yang lain. Sebutlah Confusius (Peribahasa 15.23), Rabbi Hillel (Shabat 31a), Yesus (Mat. 7.2; Luk. 6.31), Islam (40 Hadits Nawawi, 13), Jainisme (Sutrakritanga I, 11,33), Budhisme (Samyutta Nikaya V, 353.35-342.2) dan Hinduisme (Mahabaratha XIII 114,8).

Agama memang untuk manusia dan kemanusiaan. Dengannya, manusia membangun keadaban dan peradaban. Maka dari itu, saya sungguh tidak punya beban sama sekali jika diajak teman yang beragama Katolik, Kristen (Protestan) dan Hindu untuk menghadiri ibadah-ibadah mereka. Terakhir, saat menggarap penelitian M21, saya mengikuti ibadah di gereja kampus STT Jakarta (2013). Sudah lama.

Meski begitu, saya hingga saat ini tidak merasa ada sesuatu yang berubah dengan  keimanan saya terhadap Islam. Saya justru merasa lebih bisa secara terbuka menerima perbedaan sebagai kebutuhan untuk saling memahami dan memperkaya. Lebih dari itu adalah untuk meneguhkan rasa saling percaya, rasa saling menghargai dan rasa saling menghormati antarumat beragama.

Pengalaman bergama adalah sesuatu yang sangat personal sifatnya. Ia tidak dapat diukur dan dinilai oleh orang lain. Bahkan, secara generik, pengalaman beragama seseorang tidak dapat diramu dalam sebentuk deretan kata atau tak terbahasakan. Karena, pengalaman agama sifatnya konatif, berlangsung tanpa kata.

Pun begitu, pengalaman beragama juga terbuka dan dapat bertrnasfomrasi sifatnya dan akhirnya dapat terkatakan atau terbahasakan. Yaitu saat sifat pengalaman itu ditransformasi dari konatif ke reflektif. Dan ini dua hal yang berbeda. Sebab, dalam batas-batas tertentu, sesuatu yang reflektif sifatnya tidak kuasa menjelaskan hal yang konatif sifatnya.

Pengalaman panjang itu, kini menjadi modal beragama yang fungsional dan memungkinkan saya dapat secara terbuka untuk melakukan apa yang John Dunn sebut sebagai passing over and coming back. Saya dengan sangat enteng bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan umat berbeda keyakinan karena saya sudah punya keteguhan pada rasa saling percaya, saling hargai dan saling hortmat.

Dengan modal beragama itu saya bisa melakukan perlintasan di antara sekat-sekat ruang antarajaran agama tanpa beban sama sekali. Dan, saya sungģuh menikmatinya. Dari situ, saya kemudian dengan penuh percaya diri mendaku bahwa ketulusan untuk mengalami dibutuhkan jika kita berkehendak menapaki tangga pendakian menuju altar to be religious is to be inter-religious.

Dalam konteks demikian, maka sungguh tidak ada persoalan sama sekali, jika umat Islam kemudian memberikan ucapan Selamat Natal kepada umat Katolik dan Kristen (Protestan). Artinya apa? Ucapan selamat itu tidak cukup dimengerti sebagai wujud pengakuan, penerimaan, penghargaan dan pengormatian atas kenyataan perbedaan antara ajaran agama-agama, tapi lebih dari itu ucapan dimaksud juga merupakan kehendak tulus untuk mejaga dan werawat kualitas relasi kemanusiaan antarumat (hablu min an-nas), yang pada sejatinya merupakan menifestasi dari kualitas relasi manusia dengan Tuhannya (hablu min Allah).

Mungkin akan ada penilaian bahwa apa yang saya lakukan adalah cara pandang beragama dan sikap beragama yang sinkretis. Respon saya, penilaian seperti itu agaknya tidak pada tempatnya atau salah alamat. Teori boleh saja diformulasi apik, hanya saja pengalaman saya tidak cukup dijelaskan dengan hanya berbekal teori sinkretisme. Formula teori sinkretisme, menururt saya, justru seolah mereduksi kenikmatan pengalaman beragama yang sungguh, sekali lagi, tidak dapat terjelaskan dengan kata-kata atau bahasa.

Jika pun kemudian teori sinkritisme tetap saja dipaksakan dan digunakan sebagai alat penakar iman (imanometer), maka sinkretisme tetap tak kuasa mengukur dan akan selalu gagal membaca secara persisi kualitas kadar dan kedalaman sebuah pengalaman beragama.

Penulis: Zet. A. Sandia, adalah Sekretaris Yayasan Sombar Negeri Maluku

Penulis: Zet. A. Sandia
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!