Sekilas Info

OPINI KREATIF

Wisata Musik, Terobosan Baru Pariwisata Kota Ambon

satumalukuID/Tersy Krikhoff Ronny Loppies, Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music.

Wisata musik sesungguhnya sudah dimulai dan sangat berkembang di benua Eropa pada abad ke-19. Agen-agen perjalanan pada waktu itu sudah mulai mempromosikan musik berbentuk opera. Di Venesia misalnya, grup band dari kesatuan militer sudah tampil untuk menghibur para wisatawan. Di Napoli, pemain-pemain musik bayaran mulai tampil pada berbagai festival-festival musik klasik.

Dari pertunjukan-pertunjukkan musik klasik seperti ini menjadi bentuk awal dari pariwisata musik (music tourism). Sejak saat itu wisata musik secara perlahan-lahan mulai mengalami perkembangan terutama setelah Perang Dunia I dan era The Great Depression.

Wisata musik makin berkembang dan menemukan tempatnya pasca dekade 60-an, disaat jalur transportasi semakin banyak dibuka dan bervariasi dalam menempuh jarak perjalanan.

Dalam perkembangannya, pariwisata musik sangat berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini terutama di Britania Raya. UK Music merilis data tentang wisata musik di tahun 2015, sektor live musik di kota Bristol-Inggris memberikan kontribusi £123 juta atau hampir 2,5 trilyun rupiah pada ekonomi lokal. Ini sama nilainya dengan nilai industri Indonesia di tahun 2013.

Sementara itu di tahun sebelumnya, pariwisata musik menghasilkan £3,2 milyar atau sekitar 60 trilyun ke ekonomi di UK dan memberikan pekerjaan tetap pada setidaknya 50 ribu orang. Aset pariwisata musik kota tidak hanya lokasi live musik, tapi juga bisa termasuk gedung pusat musik, festival, tempat belanja merchandise, hingga lokasi-lokasi musik yang bersejarah.

Tahun 2016 sektor wisata musik di Inggris meraup keuntungan sebesar £4 miliar (lebih dari Rp 76 triliun), atau meningkat 11 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di tahun yang sama, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke UK sebanyak 19 juta orang dimana Indonesia merupakan salah satu negara yang menyumbang jumlah kedatangan wisatawan yang cukup banyak yaitu sebanyak 32 ribu  orang (https://antonkurniawan.wordpress.com/2018/04/14/ pariwisata-musik/).

Dengan demikian maka sudah sejak lama wisata musik dipraktikan. Sebagai contoh orang-orang dari berbagai penjuru dunia mengunjungi Bayreuth karena Wagner, Salzburg untuk Mozart dan Sydney untuk Opera House-nya.

Orang-orang juga melakukan perjalanan ke London untuk mengunjungi Abbey Road dan mengambil foto ikonik di persimpangan zebra The Beatles. Peristiwa ini dapat dilihat sebagai wisata musik, dimana "orang melakukan perjalanan, di beberapa bagian, karena musik dan kepentingannya bagi budaya, ekonomi dan identitas" (Gibson & Connel, 2005).

Indonesia merupakan negara sangat berpotensi menjadikan pariwisata musik sebagai alternatif dan terobosan baru pariwisata nasional. Kekayaan dan keanekaragaman seni-budaya telah menjadi potensi pergerakan pembangunan pariwisata nasional termasuk didalamnya menampilkan musik sebagai daya tarik utama. Sebagai daya tarik utama maka pariwisata musik selanjutnya sering diklasifikasikan kedalam wisata budaya (culture tourism).

Pariwisata Musik dalam implementasinya tidak terlepas dari  semakin banyaknya festival musik maupun konser yang dilaksanakan di Indonesia. Peningkatan jumlah festival ini mendorong dunia pariwisata untuk berkembang dengan tidak lagi mengandalkan pariwisata berorientasi objek saja (pariwisata konvensional). Festival musik seperti Java Jazz telah memberikan efek terhadap pariwisata berupa dampak ekonomi, peningkatan okupansi hotel, hingga terciptanya lapangan pekerjaan.

Pariwisata sendiri saat ini sudah dianggap sebagai salah satu penggerak dalam keberhasilan ekonomi suatu daerah, karena dalam perkembangan dan kegiatannya pariwisata dianggap mampu memberikan peluang pekerjaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi setempat.

Pariwisata juga merupakan bidang yang memiliki efek berganda (multiplier effects) dimana mampu berdiri sendiri bila adanya suatu kesatuan yang menopang satu sama lain dan saling memberikan pengaruh untuk mensejahterakan masyarakatnya dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Pariwisata musik merupakan salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.

Industri pariwisata musik saat ini dapat dikategorikan sebagai salah satu penghasil devisa negara yang potensial karena bertujuan meningkatkan arus kunjungan wisatawan baik wisatawan dalam negeri dan mancanegara ke suatu negara/daerah, serta mendorong berbagai mata rantai aktifitas yang berdampak positif terhadap berbagai sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hasil akhir daripada industri pariwisata musik ini berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, menghilangkan kemiskinan dan mengatasi pengangguran.

Pada era Presiden Joko Widodo saat ini, kepariwisataan menjadi perhatian utama dalam rangka pengembangan ekonomi nasional, dengan target 20 juta wisatawan mancanegara dan 275 juta wisatawan nusantara pada tahun 2019 sebagaimana program yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Wisata musik sekarang dianggap sebagai kekuatan ekonomi yang sangat penting bagi perencanaan dan pengembangan kota-kota kecil termasuk Kota Ambon. Salah satu bentuk paling populer dari wisata musik adalah festival musik.

Seiring dengan berkembangnya wisata musik, secara linear festival-fesgival musik juga turut berkembang. Bahkan beberapa kota mengadakan festival musik sebagai acara wisata tahunan. Hal ini dikarenakan festival musik bisa jadi identitas bagi kota yang tidak punya destinasi wisata unggulan.

Pada tahun 2017, Kota Ambon telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Kota Musik (City of Music) secara nasional melalui Program Penilaian Mandiri Kota/Kabupaten Kreatif seluruh Indonesia (PMK3I) BEKRAF RI. Penetapan tersebut tidaklah tanpa dasar yang kuat, karena disadari bahwa masyarakat Kota Ambon memiliki DNA dan intuisi bermusik yang tinggi.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penyanyi-penyanyi berkelas nasional dan internasional seperti Broery Pesolima, Bob Tutupoly sampai dengan Glenn Fredly dan beberapa komposer lagu terkenal seperti Minggus Tahitoe sampai dengan Melly Goeslaw keturunan Ambon. Pada tahun yang sama, Kota Ambon memiliki even nasional dan internasional yang sangat banyak dan sangat signifikan dalam meningkatkan jumlah wisatawan nusantara maupun mancanegara yakni sebesar kurang lebih 22,86 persen.

Selanjutnya kapasitas bermusik dan ekosistem bermusik ini kemudian diakui oleh UNESCO pada tanggal 31 Oktober 2019 dengan menetapkan Ambon sebagai UNESCO Creative City of Music. Dimana Musik sudah menjadi budaya masyarakat Ambon yang keberlanjutannya tak dapat disangkal lagi dan menjadi pusat perencanaan dan identitas dari sebuah kota.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Ambon sudah terpapar musik sejak berbentuk janin sampai dengan kematian (circle of life) dan memiliki lansekap pantai sampai pegunungan (music place driven making) yang sangat memengaruhi musikalitas masyarakat Ambon, maka musik telah menjadi ikon utama dalam setiap aktifitas kota.

Secara geografis, Kota Ambon dengan luas kurang lebih 377 km2 termasuk dalam eko-region pulau-pulau kecil dimana kota ini sangat rentan terhadap perubahan struktur fisik lansekapnya dan memiliki ekosistem yang rapuh (fragile ecosystem). Perubahan fisik terhadap kota akan sangat berpengaruh terhadap kondisi ekosistimnya termasuk kondisi objek wisata yang ada.

Reklamasi terhadap pantai untuk tujuan pembangunan kawasan wisata akan sangat memengaruhi kondisi keindahan pantai (natural landscape) sehingga obyek atau pariwisata konvensional terasa tidaklah cukup menjual untuk konteks pulau-pulau kecil. Pembangunan fisik berwawasan lingkungan menjadi penting untuk menyempurnakan keindahan dari sebuah obyek pariwisata.

Supporting market pariwisata musik Ambon secara internasional telah terbuka lebar dengan berbagai jejaring kota music dunia yang berjumlah 47 kota dan 246 kota kreatif. Ini menjadi modal pengembangan pariwisata Ambon yang luar biasa dalam upaya promosi dan meningkatkan arus kunjungan terutama wisatawan mancanegara (wisman).

Selain itu Ambon juga memiliki hubungan Sister City dengan Vlisingen (Belanda) dan Darwin (Australia).  Kota-kota ini dapat dijadikan pasar utama Ambon dalam menjual pariwisatanya. Secara nasional, Ambon Kota Musik sudah terhubung dengan jejaring Indonesia Creative City Network (ICCN) yang berjumlah kurang lebih 220 kota/Kabupaten di Indonesia.

Jejaring ini dapat dikembangkan untuk peningkatan arus wisatawan nusantara (wisnus). Ini semua peluang Ambon Kota Musik untuk menjadikan pariwisata music sebagai pariwisata alternatif yang tidak menekankan kepada keindahan objek tetapi kepada atraksi music dan turunan-turunannya terhadap sektor-sektor lain seperti kuliner, video, pertunjukan, dan lain-lain,

Pembangunan Pariwisata Musik (music tourism) menjadi alternatif baru untuk bisa mempertahankan kenampakan obyek wisata dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat kota melalui event-event pertunjukan dan festival baik secara offline maupun online (wisata tur dijital berbasis musik) serta upaya mendorong kunjungan wisatawan baik nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman).

Efek berganda daripada pengembangan pariwisata musik terhadap sektor-sektor lain dalam pembangunan Kota Ambon secara internasional akan dapat menjawab Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Penulis: Ronny Loppies, adalah Direktur Ambon Music Office dan Focal Point of Ambon UNESCO City of Music

Penulis: Ronny Loppies
Editor:Embong

Baca Juga

error: Content is protected !!