Sekilas Info

Hasil Audit Kerugian Negara di Kasus Dugaan Korupsi Lahan PLTMG Namlea Lebih dari Rp.6 M

satumalukuID/Husen Toisuta Hakim tunggal Rahmat Selang sedang membaca putusan praperadilan, di Pengadilan Tipikor Negeri Ambon, Kota Ambon, Kamis (24/9/2020).

satumalukuID- Hasil audit kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan proyek pembangunan PLTMG 10 MV di Dusun Jiku Besar, Desa Namlea, Kabupaten Buru, sudah diterima Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku.
Nilai kerugiannya sebesar Rp.6.081.722.920.

Nilai kerugian negara dalam kasus pengadaan lahan PLTMG tahun anggaran 2016 silam ini, berbeda dengan perhitungan sebelumnya saat ditetapkannya tersangka Fery Tanaya dan Abdul Gafur Laitupa, yaitu sebesar Rp.6,3 miliar.

Terlepas dari perbedaan nilai nominal kerugian negara itu, penyidik belum menetapkan yang bertanggungjawab untuk disangkakan. Apakah Fery dan Abdul kembali dijadikan tersangka, ataukah ada pihak lainnya, belum diketahui.

"Sesuai laporan hasil audit penghitungan kerugian keuangan Negara atas perkara dugaan Tipikor dalam pengadaan tanah untuk lokasi pembangunan PLTMG, Nomor:SR-313/PW.25/5/2020, tanggal 30 November 2020, sebesar Rp.6.081.722.920," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Maluku, Samy Sapulette, kepada satumaluku.id, Selasa (15/12/2020).

Menurutnya, hasil perhitungan kerugian negara dalam kasus tersebut diterima dari auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Maluku.

"Sampai saat ini belum ada penetapan tersangka dalam perkara tersebut," tambah Sapulette.

Berdasarkan catatan satumaluku.id, kasus ini sebelumnya telah menetapkan dua orang tersangka yaitu Fery Tanaya dan Abdul Gafur Laitupa. Mereka ditetapkan tersangka dengan nilai kerugian negara sebesar Rp.6,3 miliar.

Kala itu, penetapan tersangka terhadap Fery Tanaya yang mengaku sebagai pemilik lahan dan Abdul Gafur Laitupa, pegawai negeri sipil pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Namlea, dinilai cacat hukum.

Hasilnya, gugatan tersangka Fery Tanaya diterima hakim tunggal dalam sidang praperadilan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor, Kota Ambon, Kamis (24/9/2020) lalu. Malam harinya, Ferry kemudian dibebaskan demi hukum oleh Kejati Maluku.

Belum sehari pasca dibebaskannya Fery Tanaya dari penjara, penyidik Kejati Maluku kembali mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan (sprindik) baru untuk kasus serupa yaitu dugaan korupsi pengadaan lahan PLTMG Namlea tersebut.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!