Sekilas Info

Sekolah Alam di Dusun Tuni, Menjalankan Protokol Kesehatan pada Situasi Pendemi Covid-19

satumalukuID/Istimewa Hasil eksperimen siswa peserta Sekolah Alam di Dusun Tuni, Kota Ambon, yang belajar di alam sambil menerapkan protokol kesehatan.

satumalukuID - Siang itu matahari cukup terik. Namun hembusan angin sepoi-sepoi mampu mengusir gerah, saat puluhan siswa usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) terlihat asyik mengamati gelas pelastik bekas kemasan air mineral. Di dalam wadah gelas itu ada kapas basah yang di atasnya diletakkan biji kacang hijau. 

Ada sekitar 20-an anak, yang memang berasal dari Dusun Tuni ini,  berkutat dengan wadah gelas pelastik itu, di bawah rindang rumpun Bambu Jawa, yang tumbuh pada beberapa sudut pekarangan rumah milik pimpinan group musik tradisi yang cukup populer di Maluku, Molucca Bamboowind Orchestra (MBO), Rence Alfons.

Anak-anak tersebut adalah peserta didik pada sekolah alam di Dusun Tuni, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon. Mereka sedang belajar menanam kecambah dengan media kapas. Salah satu cara mudah menanam kecambah karena tidak perlu lagi menggunakan tanah.

“Ini sudah pertemuan ke-11 kali. Karena ini semester berjalan, nanti sampai Desember tanggal 22 semester ini berakhir, kita libur dan Januari baru masuk. Jadi sekolah tidak ada bangunan, tetapi di alam,” ujar inisiator sekolah alam di Dusun Tuni, DR. Pamela Mercy Papilaya, kepada satumalukuID, pekan kemarin.

Meski terlihat asyik beraktivitas, namun anak-anak tersebut tetap memperhatikan protokol kesehatan, sebagaimana dianjurkan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19.  

“Ini sebagai pelengkap pembelajaran mereka di sekolah. Karena memang di saat pandemi Covid-19 ini, kan optimalisasi dari pembelajaran di sekolah tidak maksimal. Jadi untuk mengisi kekosongan anak-anak dengan kondisi tidak optimalnya pembelajaran atau karena adanya kebijakan sistem pendidikan jarak jauh (sistem daring), maka sekolah alam memiliki manfaat yang besar sekali,” papar Mercy. 

Mengenai sekolah alam tersebut, pengajar pada Universitas Pattimura Ambon ini mengaku, idenya mulai muncul ketika Ambon ditetapkan UNESCO menjadi Kota Musik Dunia.

“Ambon sebagi kota musik dunia itu terdapat muatan lokal, dalam hal ini musik tradisional bambu. Lalu pada akhirnya untuk menunjang musik sebagai sebuah pembelajaran di sekolah kita mensetting kondisi Dusun Tuni sebagai dusun yang disiapkan untuk menunjang implikasi dari kurikulum musik di sekolah-sekolah,” bebernya. 

Karena memang Desa Tuni ini sendiri, kata Mercy, punya populasi bambu cukup tinggi, dan sudah ada pembibitan oleh pimpinan MBO, Rence Alfons, dan teman-teman, dan anak-anak ini bagian dari program tersebut. 

“Jadi mereka dipersiapakan, pembelajaran tetap ada seperti di sekolah, namun di alam dan tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19,” terangnya. 

Pada setiap pertemuan, menurut Mercy, anak-anak juga diberi edukasi terkait penggunaan masker, mencuci tangan menggunakan sabun pada air mengalir, atau menggunakan handsanitazer serta menjaga jarak.

Kepada satumalukuID, Sabtu (18/11/2020), Direktur Ambon Music Office Ronny Loppies menyebutkan, Dusun Tuni memiliki komunitas musik yang sangat kuat sehingga, layak dijadikan sekolah alam berbasis musik.

"Kita tetapkan Dusun Tuni karena, ada komunitas musik yang sangat kuat, yakni Molucca Bamboowind Orchestra (MBO)," ujarnya.

Dia katakan, Dusun Tuni memiliki kebijakan untuk melestarikan musik tradisional Maluku, sehingga kawasan tersebut layak dikembangkan sebagai sekolah alam berbasis musik.

"Kawasan ini terus mengembangkan sangar yang mereka miliki, sehingga AMO bertugas untuk mendukung seluruh program yang ada," paparnya, sembaru menambahkan, pada kondisi pandemik ini, faktor protokol kesehatan selalu diutamakan.

Baca Juga

error: Content is protected !!