Sekilas Info

Pengancam Sebar Konten Porno Mahasiswi Ambon di Facebook Dibekuk di Nusa Tenggara Timur

satumalukuID- Seorang pria berinisial HHGB, jauh-jauh dari tempat tinggalnya, Adonara Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), hanya untuk dijerumuskan ke dalam rumah tahanan Polda Maluku di Kota Ambon. Dia dijemput tim Subdit II Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku.

Pria 30 tahun itu dijemput paksa di rumahnya Selasa (17/11/2020).
Sebab, dia telah mengancam sejumlah mahasiswi di Ambon melalui akun media sosial facebook. Nama akunnya Shahab Arash Malik. Dia mengancam akan menyebar konten porno milik para korban.

"Tim tiba tanggal 23 November 2020 kemarin (di Ambon). Korban ada lima orang perempuan. Dua dari Ambon yang melapor. Mereka mahasiswi," ungkap Direktur Reskrimsus Polda Maluku, Kombes Pol Eko Santoso kepada wartawan di Ambon, Selasa (24/11/2020).

Kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atau pornografi ini sudah berlangsung sejak tahun 2018 silam. Kasus ini mulai terungkap setelah adanya dua laporan polisi dengan pelaku yang memiliki nama akun facebook yang sama.

Usut punya usut ternyata ada lima orang korban lainnya. Tim cyber crime Polda Maluku kemudian bergerak melakukan penyelidikan di dunia maya.

"Awalnya kita tidak menyangka pada bulan empat ada satu LP (laporan polisi) lapor akun ini. Kemudian pada bulan 7 (Juli 2020) ada laporan lagi. Hasil pengembangan ternyata ada lima korban dengan pelaku yang sama," tambah Santoso.

Setelah ditelusuri ternyata akun pelaku terdeteksi berada di Adonara Timur. Tim cyber crime Polda Maluku berkoordinasi dengan Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal Polres Timur, Polda NTT.

"Keberhasilan penangkapan tak luput dari bantuan Kasat Serse Polres Timur," sebut perwira tiga melati di pundaknya itu.

Santoso mengaku pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat pasal berlapis. Yaitu Pasal 29 jo Pasal 4 ayat 1 (d) UU RI No 44 Tahun 2008 tentang pornografi, dan atau UU No 9 Tahun 2016 tentang ITE, perubahan dari UU RI No 11 Tahun 2008.

"Hukuman minimal 6 bulan, maksimal 12 tahun dan denda maksimal Rp.6 miliar," kata dia.

Menariknya, lanjut Santoso, kasus ini terjadi setelah tersangka melakukan chatting atau chat dengan para korban. Dia meminta korban melepas pakaian sebelah atas. Korban menuruti setelah terbujuk rayuan tersangka.

"Setelah itu gambar ini digunakan untuk mengancam yang bersangkutan (korban). Kamu kalau tidak ikuti kemauan dia (tersangka) akan disebar. Akhirnya bertahap sampai dipaksa untuk melakukan persetubuhan," kata Santoso.

Tersangka meminta korban bersetubuh dengan orang lain. Aksi korban harus di video-kan. Hasil rekaman tersebut kemudian dikirim kepada tersangka.

"Jadi korbannya ini karena takut di share gambar-gambar porno, akhirnya mengikuti kemauan pelaku untuk melakukan persetubuhan dengan orang lain. Aksi itu kemudian divideokan dan dikirim kepada pelaku," jelasnya.

Selain mengancam para korban, tersangka juga mengambil alih akun facebook mereka. Beruntung, tambah Santoso, aksi kejahatan yang dilakukan tersangka hanya sebatas mengancam.

"Kami masih bersyukur yang bersangkutan ini hanya masih sebatas dari pada itu. Saya berharap masyarakat tolong tidak terpancing dengan hal hal begitu. Karena misalnya dia lebih jahat lagi mungkin akan diperas, segala hal bisa dilakukan oleh yang bersangkutan," tambah Santoso mengingatkan.

Apakah tersangka memiliki kelainan, mantan Kabag Ops Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease ini mengaku belum mengetahuinya.

"Penyakit kelainan masih dalam pendalaman," ujarnya.

Menyoal menggunakan ilmu hipnotis, tersangka secara langsung menepisnya. "Tidak pakai hipnotis," ungkap tersangka.

Baca Juga

error: Content is protected !!