Sekilas Info

Ketua DKPP Sayangkan Pengadu Tak Hadir pada Sidang Dugaan Pelanggaran Kode Etik Pilkada Seram Timur

satumalukuID - Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), Prof. Teguh Prasetyo menyayangkan ketidakhadiran pengadu, Aswat Rumfot, yang memberikan kuasa kepada Novi Manaban, dalam sidang DKPP pada kasus dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu (KEPP) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Seram bagian Timur, yang sementara berproses.

Pernyataan Teguh tersebut disampaikannya kepada wartawan di Ambon, Senin (23/11/2020) malam, usai kegiatan “Ngetrend Media: Ngobrol Etika Penyelenggara Pemilu dengan Media”, saat ditanya perkembangan sidang DKPP yang sedianya memeriksa Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten SBT, yaitu Suparjo Rustam Rumakamar, Rosna Sehwaky, Syaifudin Rumbori, siang kemarin.

“Saya sayangkan pengadunya tidak hadir. Padahal sudah dilayangkan panggilan lima hari sebelumnya. Saya ingatkan, saudara harus serius. Ini kan uang negara, jangan sampai kita jauh-jauh datang ke sini (Ambon) dengan personil saya yang banyak untuk melayani saudara,” tegas Teguh mengingatkan.

Di menyebutkan, kenapa baru satu hari dan pengadu katakan tidak bisa hadir ke Jakarta. Bahkan ketika pihaknya menelepon telepon selularnya pengadu tidak terhubung.

“Padahal kita sediakan, kalau jauh dari Jakarta, silahkan kita beri sarana menggunakan zoom. Kita siapkan perlengkapannya kalau di Jakarta. Kami karena sudah di sini (Ambon), ya saya periksa faktanya di sini, karena pengadu tidak bisa, menurut Peraturan DKPP tetap saya periksa jawaban dari teradu terhadap katanya tindakan tidak profesional itu. Nanti saya laporkan ke DKPP, nanti perlu sidang lanjut atau bagaimana,” papar Teguh.

Teguh mengaku sudah melayangkan surat, kemudian menelepon dengan loud speaker, tidak hanya sekali dan dibuktikan memang tidak di angkat.

Dan kita informasikan satu jam sebelum ini, DKPP juga menyanggupi menyiapkan fasilitas sidang melalui teleconfrence, sidang tetap berjalan, terasu di sana dengan lawyernya.

"Tetapi ternyata dua kali ditelepon tidak ada, akhirnya kita tanya saja kepada teradu dan tim, dengan empat (4) majelis yang memeriksa," bebernya.

Teguh menuturkan, paling tidak pihaknya sudah bisa mencari fakta jawaban dari teradu. Jawabannya sudah bisa dipelajari. Kesimpulannya teradu ini tidak serius.

“Kalau namanya mengadukan itu harus prepare. Sebab lima hari sebelumnya dia telah diberi undangan. Dia harus datang kesini. Mempersiapkan diri untuk menguraikan pokok aduannya sekaligus bukti-buktinya,” terang Teguh.

Kalau ini, menurut Teguh, tidak bisa diperiksa secara seimbang, karena pengadu tidak ada. Padahal dia kalau menyatakan salah, dia harus membuktikan kesalahannya bagaimana.

Teguh katakan, teradu sudah menjawab, tapi pengadu tidak bisa membutkikan kesalahan yang dia tuduhkan. “Harusnya pemeriksaan itu seimbang, ada pengadu, teradu, diperiksa, baru dinilai posisinya begitu,” pungkasnya.

Baca Juga

error: Content is protected !!