Sekilas Info

BUDAYA MALUKU

Museum Siwalima Ambon Memikat Pengunjung dengan Berbagai Kreativitas Tradisional Maluku

Koleksi sejarah dan budaya di Museum Siwalima (wikipedia)

satumalukuID - Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak akhir tahun lalu berujung pada lesunya tempat usaha, tidak terkecuali objek wisata Museum Siwalima di Kota Ambon, Maluku.

Seperti diakui Jean Esther Saiya, Kepala Museum Siwalima Provinsi Maluku, objek wisata di kawasan Nusaniwe itu bahkan sempat tutup, tidak menerima pengunjung, lantaran penyakit mematikan yang diduga kuat berasal dari Kota Wuhan di China itu merebak ke Indonesia dan masuk ke Maluku pada kuartal pertama 2020.

"Sebelumnya museum ditutup dan baru buka lagi Juni kemarin. Jumlah pengunjung memang menurun drastis, bahkan hampir tak ada yang datang," katanya, saat diwawancarai Antara pada pembukaan Pameran Alat Musik Tradisional Nusantara, Selasa lalu (3/11/2020).

Pada pameran bertema "Simfoni Cinta Nusantara" yang dijadwalkan berlangsung hingga 25 November 2020, ada 263 alat musik tradisional jenis petik, pukul, dan gesek asli Indonesia. Pengunjung dapat melihatnya di gedung pameran museum tersebut.

Ratusan alat musik tradisional itu sendiri merupakan koleksi dari 31 museum di Indonesia, beberapa di antaranya Museum Nasional, Museum MH Thamrin, Museum Sejarah Kota Jakarta, Museum Seribu Moko, dan Museum Loka Budaya Universitas Cendrawasih.

Alat musik tradisional Maluku yang dipamerkan antara lain jukulele, rebana, tifa, rumba dari tempurung kelapa, suling melintang atau floit, suling paruh, tahuri (terompet dari kulit kerang), gong totobuang, gong sedang, hawaian, tiwal, dan prai.

Pameran alat musik tradisional nusantara merupakan kegiatan bersama museum negeri provinsi. Pertama kali digelar di Museum Nasional Jakarta dan sudah keliling 11 kota di tanah air, termasuk di ibu kota provinsi Maluku.

Sebelum di Museum Siwalima Ambon, pameran digelar di Museum Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa Timur, 14 Agustus-14 September 2019.

Acara pembukaan pameran di Museum Siwalima kala itu diwarnai penampilan orkes musik tradisional Molucca Bamboo Wind Orchestra (MBWO) pimpinan konduktor Meynard Reynold Nathanael Alfons alias Rence Alfons, membawakan tembang-tembang tradisional nusantara secara medley dengan iringan tiupan suling bambu.

Didirikan tahun 2010, MBWO memiliki keunikan tersendiri karena beranggotakan 140 seniman dengan latar belakang berbeda-beda. Di antara mereka ada pelajar SMP dan SMA, mahasiswa, tukang tifar (pembuat sopi), tukang ojek, tukang becak, montir bengkel, Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pensiunan PNS, polisi dan pensiun polisi serta tukang bangunan.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: John Nikita S/ant
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!