Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Thomas Keliombar, Perwira Polisi yang Sudah Bertinju Sejak Kecil Hingga Bisa Menyamai Jejak Karier Ayah

Foto: Dok Pribadi Thomas Keliombar bersama puluhan medali yang pernah diraihnya sebagai petinju sebelum undur diri. Thomas kini sudah menjadi perwira polisi berpangkat Inspektur Satu (Iptu).

MALUKU sempat memiliki beberapa fam atau marga "dinasti" olahraga di beberapa cabang. Di tinju misalnya pada era 1970 an hingga 2000 an ada marga Thomas, Gomies, Keliombar, Maitimu, Pesireron, Nahumury, Papilaya, Pattinama dan lainnya.

Dari marga Keliombar. Ada dua nama petinju berprestasi nasional di cabang olahraga "baku pukul" ini, selain juga pada cabang taekwondo. Keduanya adalah ayah dan anak, Beny Keliombar dan Thomas Keliombar. Prestasi ayah anak ini pun hingga arena nasional, bahkan sempat wakili Indonesia.

Thomas Keliombar mengenal tinju sejak masa kecil dari ayahnya. Pasalnya, sang ayah adalah atlet nasional angkatan petinju legendaris Wiem Gomies dkk. Prestasi terbaik ayahnya yaitu meraih medali emas kelas menengah ringan PON 1977 di Jakarta. Saat itu bersama Herry Maitimu persembahkan emas untuk Maluku. Serta medali perak kelas berat ringan PON 1981 di Jakarta.

Thomas yang lahir di Saumlaki 22 Januari 1979,  sudah naik ring sejak duduk di bangku kelas 5 SD tahun 1989 ketika usianya 10 tahun di kategori pemula/yunior kelas layang ringan 45 kg. Ia tampil sebagai juara waktu itu. Lalu saat kelas 1 SMP tahun 1991 dia akhirnya masuk pembinaan Pusdiklat (PPLP) Tinju Maluku. Di situ barulah Thomas tidak dilatih ayahnya lagi, namun ditangani pelatih Wiem Gomies dan almarhum Otje Tehupeiory.

Ada kisah menarik sebelum dia jadi petinju nasional. "Sebenarnya sejak kecil saya sudah dilarang ikut tinju oleh ayah. Malah diarahkan ke olahraga taekwondo seperti tiga saudara perempuan saya yang jadi atlet nasional. Alasan ayah karena saya laki-laki sendiri dalam keluarga.Tapi saya lebih suka tinju dan diam-diam berlatih tanpa ayah tahu," ungkap Thomas saat obrolan via whatsapp dengan satumaluku.id,  Selasa (3/11/2020).

Thomas Keliombar (kiri) menang dalam suatu kejuaraan

Dia berlatih diam-diam di sasana Bhara Sakti  yang diasuh ayahnya di kawasan Polres Perigilima Ambon. Hal itu dilakukan saat ayah sedang berdinas sebagai anggota polisi. Thomas kecil latihan bersama mereka yang senior dan  kemudian jadi petinju nasional di jaman itu, diantaranya La Paene Masara, Ricky Matulesy, Albert Resiley dan Chris Wuritimur.

Suatu waktu ada kejuaraan yunior dan senior Pengcab Pertina Ambon. Thomas ngotot ikut dan minta ijin ayahnya. Dia akhirnya direstui. Namun muncul masalah baru. Lantaran masih kecil berusia 10 tahun, berat badannya (BB)  tidak mencukupi 45 kg untuk main di kelas layang ringan. Panitia minta Thomas kecil kordinasi dengan ayah sekaligus pelatihnya untuk persetujuan bertanding meski BB tak cukup.

"Waktu tanya ayah. Beliau bilang, kamu kan yang mau ikut tinju padahal ayah sudah larang. Jadi sudah terlanjur, ya ikut bertanding saja. Main tak apa," kisah Thomas, mengenang.

Dari momen itu. Thomas serius berlatih apalagi setelah sudah masuk PPLP Tinju Maluku meski baru kelas I SMP.  Karier tinju nya pun melejit di kelas bantam  kategori yunor 54 kg. Ia mampu juara level daerah maupun kejuaraan nasional yunior. Diantaranya even Irene Cup 1994 dan Kejurnas Yunior tahun yang sama di Makassar. Setahun kemudian dia main di kelas bulu 57 kg dan juara pada Pattimura Cup 1995 dan 1996.

Thomas Keliombar dkk tim tinju Indonesia saat SEA Games 1999 Brunei Darusalam

Prestasinya terus diraih. Pada 1996 Thomas kembali juara di Teddy Van Room Cup 1996 sekaligus dinobatkan sebagai petinju terbaik. Beberapa bulan berselang dia juara lagi pada Kejurda Maluku dan diberi gelar petinju berbakat. Sayangnya saat Kejurnas Yunior 1996 di Bengkulu waktu final dia kalah dari almarhum Muhamad Alfarizi (Jabar).

Setelah itu. Thomas sempat absen satu tahun dari ring tinju pada 1997. "Saya tidak naik ring satu tahun. Karena lulus SMA langsung ikut pendidikan anggota Polri di SPN Passo. Jadi, saya ikut jejak ayah, sebagai petinju dan juga polisi," tuturnya.

Lulus pendidikan polisi tahun 1998. Thomas melanjutkan karier tinjunya. Kemampuannya tetap terjaga. Sehingga dia bisa juara lagi di kelas bulu 57 kg Kejurda Maluku dan dinobatkan lagi sebagai petinju terbaik. Prestasinya berlanjut juara pada Kejurnas Senior 1998 di Samarinda dan dapat gelar petinju harapan.

Tahun 1999 merupakan masa prestasi puncaknya di kategori senior. Thomas rebut medali emas lagi pada Kejurnas di Kalimantan Tengah. Ia lantas dipanggil masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk SEA Games 1999 di Brunei Darusalam. Namun di multi even antar negara itu, Thomas terhenti di perempatfinal kalah dari petinju Malaysia yang kemudian raih emas kelas 57 kg.

"Saya masuk Pelatnas dari tahun 1999 hingga 2002. Sebenar waktu itu masa prestasi. Namun situasi keamanan di Ambon makin buruk karena kerusuhan. Jadi saya sebagai anggota Polri diperintahkan untuk konsentrasi di Ambon. Padahal saya dipanggil latihan kembali untuk even internasional President Cup di Bali dan Kings Cup di Bangkok. Tapi karena situasi jadi saya tidak diijinkan kembali ke Pelatnas," cerita Thomas.

Ayah Thomas yakni Beny Keliombar (kiri) bersama Herry Maitimu (kanan) dan pelatih Teddy van Room saat ikut PON 1977 di Jakarta - dokpri

Namun demikian, tahun 2000 dia sempat ikut kejuaraan Gubernur Cup di Jakarta dan meraih emas. Di tahun ini pula Thomas ikut PON XV 2000 di Surabaya. Tetapi hanya merebut medali perak karena kalah oleh petinju senior Rico Maspaitela (Jabar). Usai PON, dia kembali peroleh emas kelas 57 kg pada Kejurnas di Makassar.

Tiga tahun kemudian tahun 2003. Berat badan Thomas sudah tidak mungkin main di kelas bulu 57 kg. Ia akhirnya meloncat jauh ke kelas berat ringan 81 kg di Kejurda Maluku dan tetap tampil sebagai juara. Lantaran itu pada Pra PON 2003 di Kalimantan Timur ia bertanding di kelas 81 kg dan mampu dijuarainya.

Sayangnya, meski lolos PON XVI 2004 di Palembang tetapi Thomas tidak dijinkan oleh pimpinan untuk ikut karena ada penugasan. Akhirnya dia undur diri dari Pelatda kontingen Maluku. "Padahal ketika itu saya yakin juara di kelas berat ringan 81 kg," ujarnya, menyesal.

Meski telah pindah ke kelas 81 kg atau berat ringan. Ternyata di kelas itu sejak 2005 hingga 2011 baik even lokal dan nasional termasuk Sarung Tinju Emas (STE) pun Thomas mampu menjuarainya, hanya dua kali gagal di final. Sekali diantaranya undur diri. Selebihnya ia sapu bersih medali emas.

Beberapa even yang dijuarainya sejak 2005-2011 di kelas 81 kg yakni Kejurda Maluku, Kejurnas di Pekanbaru Riau, STE di Ambon, STE di Tabanan Bali lolos ke final namun tim Maluku undur diri. Waktu itu Thomas dan David Isikiwar yang maju final.

Berlanjut juara STE di Makassar, Kejurnas di Batam Riau juara lagi setelah kalahkan juara PON Alex Tatontos dari Sulsel, Walikota Cup 2009 di Ambon maju final namun kalah angka dari petinju Malaysia yang merupakan peraih emas SEA Games.

Thomas masih bertinju lagi pada arena Pra PON 2011 di Biak Papua. Dia lolos ke final dan meraih medali perak. Otomatis tiket menuju PON sudah diraihnya. "Tapi saya tidak ikut PON 2012, karena tugas dinas sebagai anggota Polri," ujarnya.

Setelah tidak ke PON 2012. Thomas mulai konsentrasi pada kariernya sebagai anggota Polri. Ia kemudian mengikuti pendidikan Sekolah Calon Perwira. Saat lulus Thomas ditempatkan jabat Kaur di Polda Maluku, kemudian Kepala Seksi Provos Polresta Ambon.

Setelah itu Thomas dipromosikan jadi Kapolsek Elpaputih Kabupaten Seram Bagian Barat selama 3 tahun. Setelah itu pindah ke Unit Sabhara PRC Polda. Lalu diangkat jabat Komandan Kompi Sabhara Polda. Kini ia dimutasi sebagai Perwira Staf Yanma Polda Maluku dengan pangkat Inspektur Satu (Iptu).

"Beta bersyukur. Bisa ikuti jejak karier ayah. Baik di tinju maupun anggota Polri. Itu semua karena pembinaan dari ayah dan ibu untuk harus serius dan disiplin," tutur Thomas, seraya mengingat almarhum sang ayah, Beny Keliombar, yang pensiun anggota Polri dengan pangkat Peltu tahun 1998.

Tinju boleh ditinggalkan karena usia. Namun kiprah dan prestasimu bersama sang ayah tetap dikenang dalam sejarah tinju Indonesia. Teruslah lanjutkan kariermu sebagai polisi hingga selesai masa pengabdian. (novi pinontoan)

Baca Juga

error: Content is protected !!