Sekilas Info

LAWAN COVID-19

Senyum Mama Rosa Akhirnya Merekah, Saat Inpex Membawa Berkah di Situasi Pendemi

satumalukuID/Dok. Putro Patricio Collection Para pengrajin di Putro Patricio Collection sedang membuat masker berbahan kain tenun Tanimbar.

Wabah Covid-19 menimpa seluruh wilayah di tanah air, termasuk di Kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Dampaknya mengena ke berbagai sektor, termasuk para penenun ikat maupun para pengrajin berbahan tenunan Tanimbar di daerah ini.

Lima bulan sudah, hati Rosa Delima Jempormase gundah. Perempuan yang menjadi motor penggerak Kelompok Pengrajin Produk Turunan Tenunan Ikat Khas Tanimbar, atau dikenal dengan nama Putro Patricio Collection ini, resah. Usaha kelompoknya memproduksi dompet, tas pinggang dan lain-lain, jalan di tempat. Tidak banyak, bahkan bisa dibilang tidak ada pemasukan. Mereka bertahan dalam kondisi pandemik Covid-19, dengan simpanan uang yang ada.

Mama Rosa, begitu dia biasa disapa, mengaku pada kondisi pandemik Covid-19 ini, memang sebaiknya beraktivitas saja di rumah saja. Terutama ketika tidak ada keperluan mendesak untuk keluar rumah. Bagi dia, ini langkah terbaik menghindari diri dari terpapar Covid-19. Meski dia tetap gundah, kelompoknya belum bisa kembali memproduksi barang turunan dari tenunan khas Tanimbar yang biasa mereka produksi.

Kondisi yang tidak jauh berbeda dialami Sences Rafia Liur. Penenun ikat yang biasa disapa Mama Liur ini, terpaksa pasrah dengan kondisi pandemik Covid-19, yang membuat semua orang hanya berdiam di rumah. Dia dan rekan-rekannya tidak bisa datang ke tempat kelompok mereka biasa beraktivitas. Praktis produksi tenunan di kelompok bernama Larsasam ini sementara vakum.

Selama lima bulan sejak virus corona mewabah, Mama Liur dan rekan-rekannya tidak bisa berharap penghasilan dari hasil tenunan. Mereka harus memutar otak agar asap dapur tetap mengepul. Rata-rata mereka juga bertahan dengan uang simpanan yang ada. Sementara untuk makanan, bagi yang memiliki lahan bisa bercocok tanam dan memanfaatkan hasilnya. Ini membuat mereka bisa lebih menghemat pengeluaran.

Meski terpaksa harus di rumah saja, Mama Liur mengaku tidak tinggal diam. Dia tetap beraktivitas. Perempuan berusia 54 tahun yang belajar menenun sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ini, tetap berproduksi.

“Saya punya alat tenunan di rumah. Ini yang Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Jadi daripada tidak bikin apa-apa, saya gunakan waktu selama di rumah dengan menenun,” ungkap Mama Liur, meski dia tidak tahu nanti ada yang akan membeli hasil tenunannya apa tidak.

Bagi dia yang penting ada aktivitas, dan agar bagian-bagian tertentu pada alat tenunannya yang terbuat dari besi, tidak berkarat. ATBM yang dia miliki berbeda dengan alat tenun godokan yang kesemua bagiannya terbuat dari kayu. Itu sebabnya ATBM harus selalu digunakan, biar tidak berkarat. Tidak lupa dia selalu berdoa dan berharap, ada jalan yang memungkinkan produksi tenunan yang dia dan kelompoknya hasilkan akan dibeli konsumen.

Harapan Mama Liur terjawab, dan senyum Mama Rosa pun merekah, saat Inpex Masela membawa berkah. Persisnya ketika perusahaan yang mendapatkan hak untuk melakukan kegiatan eksplorasi di Blok Masela, Provinsi Maluku ini berniat untuk membagi-bagikan masker, sebagai upaya membantu pemerintah memotong mata rantai penyebaran Covid-19.

Kepada satumalukuID, Mama Rosa bercerita bagimana awalnya terlibat dalam program bagi-bagi masker, yang menjadi jalan berkah untuk dia dan kelompoknya. “Awalnya beta posting masker berbahan dasar kain tenunan Tanimbar di Facebook. Waktu itu beta sekedar bikin untuk konsumsi pribadi atau keluarga. Nah kebetulan di FB itu beta juga berteman dengan Pak Donny dari INPEX Masela. Beliau langsung kontak saya dan tanya, itu Mama Rosa bikin masker ya? Bisa lihat contoh maskernya yang sudah jadi?," ungkapnya.

Mama Rosa kemudian merespon Donny, dan meminta waktu untuk bikin video terkait masker berbahan kain tenunan Tanimbar ini, biar dapat gambaran dari berbagai sisinya. Setelah lihat video yang dibikin, pihak Inpex Masela yang kebetulan memang punya program bagi-bagi masker lantas menindak lanjuti dengan kerja sama.

Dia menuturkan, sebenarnya di masa-masa awal pendemi Covid-19, pihaknya sempat terpikirkan untuk bikin masker. Cuma waktu itu kata dia, anjuran pemerintah untuk memakai masker kesehatan.

“Nanti belakangan pas kita lihat di berita ada anjuran juga untuk bias juga menggunakan masker kain, kita langsung coba bikin. Tapi waktu itu baru sebatas coba-coba untuk pakai di rumah saja. Tapi pas keluar, eh ternyata banyak yang suka. Lalu ada yang mulai minta beli. Kami akhirnya bikin untuk dijual juga. Itu kemudian yang saya posting di FB dan dilihat oleh pak Donny,” kisahnya.

PROGRAM INPEX NALMATE

Community Laison Officer (CLO) Inpex Masela Ltd., Fidel Samponu yang berhubungan dengan mitra binaan Inpex di lapangan, kepada satumalukuID, di Ambon, Senin (26/10/2020) menyebutkan, kegiatan pembagian masker ini, memang melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan beberapa stakeholder sehubungan dengan penanganan dan pencegahan penyebaran Covid-19.

“Karena sebagai akibat dari penyebaran pandemi ini, sebagai salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Papua dan Maluku (Pamalu), bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Pamalu, merasa terpanggil untuk ikut membantu pemerintah daerah dalam penanganan penyebaran Cofid-19 di Kabupaten Kepulauan Tanimbar,” ujarnya.

Salah satu langkah yang diambil dari sekian program yang dibuat pihaknya, lanjut Fidel, ialah pembagian masker. Sebenarnya ada program pertama yang sudah dilakukan Inpex Masela Ltd. Sebelumnya, yaitu bantuan Alat Pelindung Diri (APD), hand sanitazer dan masker kepada para tenaga medis.

Sementara itu, Acting Corporate Communication Manager INPEX Masela, Ltd., Moch. N. Kurniawan, melalui pesan singkat WhatsApp, kepada satumalukuID, Rabu (28/10/2020), menuturkan, kegiatan pembagian masker berbahan kain tenun Tanimbar ini, merupakan program pencegahan dan penanganan Covid-19 yang mereka beri nama Program INPEX Nalmate (Nalmate = peduli, bahasa Tanimbar).

“Program ini terkait pencegahan dan penanganan Covid-19 tahap 2, yang telah diselenggarakan dan dibuka oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon, pada 23 Juli 2020. Digelar bertepatan juga dengan perayaan Hari Anak Nasional 2020,” terang lelaki yang akrab disapa Iwan ini.

Dia katakan, tidak kurang 700 masker yang merupakan kreasi hasil binaan dari kelompok tenun Tanimbar INPEX, dibagikan dalam rangka untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini.

Teknis pembagiannya, menurut Iwan, secara formal pihaknya menyerahkan secara resmi kepada Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Selanjutnya berdasarkan kordinasi, masker tersebut dibagikan khususnya kepada anak-anak sekolah, guru dan masyarakat umum lainnya yang rentan untuk tertular.

Kelompok binaan yang dimaksud Iwan, yakni dua kelompok tenun ikat Tanimbar binaan INPEX dan Bank Indonesia, yaitu Batlolonar asal Desa Amdasa dan Larsasam asal Desa Olilit. Kedua kelompok ini dilibatkan untuk memproduksi kainnya. Sementara untuk menjahit kain tersebut menjadi masker dan produk lainnya, yang dilibatkan adalah kelompok penjahit binaan INPEX, Putro Patricio Collection asal Kota Saumlaki.

Ditanya tentang pelibatan kelompok binaan ini, Fidel yang sering berhubungan dengan mitra di lapangan menambahkan, bahwa untuk bahan tenunannya, Specialist Social Investment Inpex Masela Ltd., Donny Rijaluddin, memang mewanti-wanti agar kain dipasok dari kelompok binaannya Inpex. Pihaknya melihat industri-industri rumahan atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terdampak betul Covid-19.

”Tapi itu tidak lepas dari para kelompok penenun kita sendiri. Maka Inpex coba lihat kira-kira bagaimana kita memberdayakan mereka di masa sulit seperti ini. Jangan sampai kalau kita butuhkan baru kita ada. Tetapi ketika mereka dalam kondisi kesulitan dan membutuhkan ,terus kita lepas tangan,” terangnya.

Itu sebabnya lanjut Fidel maka, Donny Rijaluddin melakukan koordinasi secara internal dengan manajemen. Coba dirancang sebuah program yang sekali melangkah dua tiga pulau terlampaui. “Dalam artian program ini dapat menjawab soal pencegahan virus corona. Bisa juga menjawab kebutuhan ekonomi dari masyarakat Kepulauan Tanimbar dalam hal ini penenun yang kena dampak dari penyebaran Covid-19,” imbuhnya.

Fidel mengaku, program ini bisa terlaksana juga karena mekanisme koordinasi secara internal. Donny Rijaluddin selaku Specialist Social Investment Inpex Masela Ltd., menyusun program ini dan berkoordinasi secara intern di dalam departemen, kemudian dibawa ke level atas (ke manajemen), hasilnya digodok dan disetujui.

“Jadi program ini tidak langsung jadi, tapi melalui mekanisme koordinasi sampai pada akhirnya disetujui oleh SKK Migas baru kita jalankan,” ungkapnya.

PERMINTAAN MENINGKAT

Rasa syukur tidak habis-habisnya disamaikan Mama Rosa. “Kami sangat-sangat mengucapkan syukur. Karena dalam kondisi seperti ini, banyak pihak terkena imbas wabah Covid-19 yang berpengaruh pada penghasilan, ternyata ada berkat dari Inpex berupa pesanan masker itu. Ini ahirnya kita terbantu secara ekonomi,” paparnya.

Awal pesanan dari Donny Rijaluddin, pihaknya diminta mengerjakan pesanan 360 buah masker. Tiba-tiba ada tambahan pesanan sehingga totalnya menjadi 700 buah. Semua pesanan itu dikerjakan Mama Rosa dan rekan-rekannnya di Putro Patricio Collection, dalam waktu sekitar tiga mingguan. “Karena katanya mau perlu cepat. Ada enam orang tenaga kerja yang membuat maskernya. Mereka ini rata-rata dari keluarga maupun kenalan,” ungkapnya.

Maskernya yang mereka bikin, tambah Mama Rosa, menggunakan kain 3 lapisan. Ada kain tenunan, lalu kain keras dan kain furing. Pada maskernya dibikin ada celah untuk orang yang mungkin ingin menambahkan tisue.

Dia menyebutkan, program yang melibatkan pihaknya dan dua kelompok penenun binaan Inpex ini, sangat membantu menambah uang belanja sehar-hari. Yang bikin booming pesanan ini, tambah Mama Rosa, setelah Inpex memesan masker bahan tenunan Tanimbar ini. Makin hari pesanan masker kian bertambah.

“Saat ini masker yang kami bikin bukan hanya beredar di Kota Saumlaki, tapi sudah juga dikirim ke Kota Ambon, Kota Tobelo, bahkan ke Kota Fak-fak di Provinsi Papua dan Kota Manado di Sulawesi Utara. Kainnya kami tetap pasok dari kelompok Batlolonar dan Larsasam,” ujarnya.

Bahan maskernya lanjut, Mama Rosa, ada yang godokan atau kain tenun yang dibuat dengan mesin tradisional. Jadi kain tenun godokan itu, menjadi ciri khas betul budaya orang Tanimbar. “Terutama pada motif dan ketebalannya, dengan motifnya itu full di kain. Kalau ATBM itu kainnya tipis, tapi ukurannya lebar. Motif tidak full hanya ada satu dua motif,” terangnya.

Kondisi pandemik Covid-19 belum jelas kapan berakhir. Namun Mama Rosa, Mama Liur dan mama-mama lainnya dari kelompok Putro Patricio Collection, kelompok Batlolonar dan Larsasam bisa bernafas lega dan senyum merekah.

Baca Juga

error: Content is protected !!