Sekilas Info

LEGENDA TINJU

Bara Gomies Sang Juara SEA Games 1997; Akui Tak Bisa Samai Prestasi Papa Wiem

Petinju Indonesia asal Maluku Bara Gomies saat bertarung di arena Asian Games 2002 di Busan Korea Selatan.

satumalukuID - Menyebut marga Gomies. Pencinta tinju amatir Indonesia pasti ingat para petinju legendaris. Mereka adalah Wiem Gomies, Piet Gomies dan Eddy Gomies. Ketiga kakak adik kandung yang sudah jawara di level nasional sejak 1970 an.

Bahkan Wiem Gomies sudah juara kelas menengah sejak akhir 1960 an untuk Maluku. Tepatnya pada arena PON 1969 di Surabaya. Hingga undur diri dari ring tahun 1983, Wiem belum pernah dikalahkan petinju nasional sekalipun. Karena itu, Wiem lebih banyak bertanding di arena internasional resmi.

Wiem tercatat sebagai raja kelas menengah Asia sejak 1970 sampai 1978. Pasalnya, ia berhasil rebut medali emas kelas menengah Asian Games 1970 di Bangkok. Di kota itu pula emas kedua Asian Games 1978 kembali diraihnya. Tahun 1971 di Teheran Iran ia raih Juara Asia. Lalu emas SEA Games 1977 di Kualalumpur dan tahun yang sama rebut perak Kejuaraan Asia.

Wiem juga sempat ikut kejuaraan dunia dan Olimpiade 1972 di Munich Jerman. Terakhir Wiem yang sudah berusia 30 an tahun masih mampu raih perak di SEA Games 1981 Manila dan emas PON 1981 Jakarta. Lengkap sudah karier Wiem.

Jejak prestasi Wiem Gomies tak lantas berhenti seketika. Pasalnya, di dekade awal 1990 an hingga 2000 an. Muncullah generasi baru tinju dari dinasti Gomies. Yaitu Regues Feros Cristopher Nobarto Gommies atau lebih populer dengan nama Bara Gomies.

Bara lahir di Ambon 9 Febuari 1974. Ia adalah anak dari sang legenda tinju amatir Asia, Wiem Gomies. Ada dua anak Wiem Gomies yang ikut jejak nya di ring tinju yakni Bara dan Ferat. Namun prestasi Bara lebih mengkilat hingga menjadi petinju nasional yang  berprestasi internasional. Anak perempuannya Carla Gomies tekuni atletik dan sempat masuk Pelatnas.

Kolase foto: dari kiri Bara Gomies saat menjadi Juara Sea Games 1997 di Jakarta dan saat bertarung di ajang Asian Games.

Prestasi puncak Bara di kelas welter 67 kilogram adalah meraih medali emas di arena tinju SEA Games 1997 di Jakarta. Di final ia berhasil mengalahkan petinju Filipina. Kesuksesan ini mengulang sejarah papa nya, Wiem Gomies 20 tahun sebelumnya yakni meraih emas kelas menengah SEA Games 1977 di Kualalumpur Malaysia.

"Itu momen yang beta bisa samai prestasi papa. Ingin ikuti jejak sukses papa. Tapi berat memang. Papa luar biasa. Beta akui tidak bisa samai kejayaan papa di masa jayanya," ungkap Bara blak-blakan kepada satumaluku.id saat obrolan di whatsaap, belum lama ini.

Pengakuan jujur itu. Bukan berarti ia tidak berusaha untuk ikuti karier Wiem Gomies, sang ayah kandungnya. Ia mengaku sudah ikut berbagai kejuaraan resmi yang pernah dijuarai atau diikuti Wiem Gomies. Mulai dari Kejurnas, Sarung Tinju Emas (STE), PON, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Asia hingga Kejuaraan Dunia. Termasuk kejuaraan bergengsi Kings Cup di Bangkok dan President Cup di Jakarta.

"Yang belum cuma Olimpiade. Papa ikut Olimpiade 1972 di Munich Jerman. Beta tidak sempat lolos Olimpiade sampai undur diri. Itu satu-satunya kejuaraan resmi yang beta gagal ikut," akuinya.

Untuk level Kejurnas dan STE,  Bara punya prestasi mendekati papa nya. Ia beberapa tahun tidak terkalahkan di kelas welter,  dia juara beruntun setiap tahun sejak 1997 hingga 2003. Sedangkan untuk even bergengsi PON, Bara ikut tiga kali yaitu 1996, 2000 dan 2004. Hasllnya 2 emas yakni tahun 2000 untuk Maluku dan 2004 bawa nama Sulsel.

Sedangkan papa nya ikut empat kali PON hasilnya 3 emas  (1969, 1973 dan 1981) untuk Maluku serta 1 perak  (bukan kalah bertanding tapi undur diri) untuk DKI Jakarta. Papa nya kemudian gantung sarung tinju pada tahun 1983.

Untuk level Asian Games, Bara ikut dua kali yakni AG 1998 di Bangkok Thailand dan 2002 di Busan Korsel. Namun ia belum mampu capai prestasi papa nya yang dua kali raih emas AG 1970 dan 1978. Tetapi ada kebanggaan tersendiri untuknya saat bertinju di Bangkok.

"Meski gagal raih medali taraf Asia. Tapi waktu di Bangkok, beta bangga sekali. Karena di gedung pertandingan tinju, ada nama papa dan Indonesia sampai dua kali sebagai perebut medali emas. Terrtulis papa nama juara tahun 1970 dan 1978. Papa waktu itu pelatih tim Indonesia, namun batal dampingi beta dkk karena baru habis operasi jadi istirahat di Jakarta," tutur Bara.

Saat AG 1998 itu, Bara hanya lolos sampai perempatfinal. Di partai pertama mamou menang atas petinju Iran. Kemudian kalah dari petinju Korsel. Sedangkan AG 2002 Busan Korsel. Dia kurang beruntung karena harus melawan peraih perunggu Olimpiade dari Thailand.

Kesempatan meraih prestasi dunia pun kandas saat Kejuaraan Dunia 2003 di Bangkok. Bara harus takluk dari petinju pengalaman dari Uzbekistan. Lantas pada SEA Games 2005 di Filipina, ia harus puas dengan medali perunggu.

Meski gagal pada even resmi level Asia. Tetapi saat duel antara juara Asia Tenggara lawan juara Asia Timur tahun 1997 di Korsel, Bara tampil sebagai juara setelah menaklukan petinju Kazakstan.

Prestasi internasional lainnya yaitu beberapa kali ikut kejuaraan bergengsi Kings Cup di Thailand hasilnya raih dua perunggu dan President Cup di Jakarta juga dua perunggu.

Selama karier di ring tinju. Selain bangga dengan prestasi papa nya. Namun juga ada perasaan tidak enak dan serba salah untuk sang ayah, tetapi dirinya harus sportif dan fair. Kenapa? Bara lantas mengisahkan hal itu terjadi di partai semifinal PON 2004 di Surabaya.

Kolase foto dari kiri Wiem Gomies dan Bara Gomies ayah anak legenda tinju amatir Indonesia dan Bara saat Juara kelas 67 Kg PON 2004

"Saat semifinal PON 2004, beta sudah wakili Sulsel. Ketemu lawan petinju Maluku yang kenal baik, Lodewyk Batlajery. Papa yang jadi pelatihnya. Sebelum bertanding, papa bilang main sportif dan fair saja. Siapa lebih siap, dia yang menang. Luar biasa papa menjunjung nilai olahraga. Beta akhirnya menang dan raih emas kedua PON. Setelah tahun 2000 beri emas untuk Maluku," kisah Bara.

Kenal tinju memang dimulai dari papa nya. Tetapi sejak masih SD ternyata Bara dilarang masuk olahraga baku pukul ini. Namun diam-diam saat Wiem Gomies sedang keluar daerah, Bara berlatih tinju dengan peralatan orang tuanya. Ketika duduk di kelas 2 SMP,  Wiem Gomies melihat minat dan bakat anaknya sangat besar. Bara pun diijinkan berlatih tinju resmi dan dimasukkan ke PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar) Tinju Maluku. Pelatihnya Wiem Gomies dan almarhum Otje Tehupeory.

Masuk PPLP Tinju Maluku tahun 1987, seangkatan dengan dua sahabatnya yang kemudian juga sama-sama masuk Pelatnas yaitu La Paene Masara dan Mekson Barataman. Sedangkan Albert Papilaya adalah senior mereka di PPLP.  Bara dan tiga petinju tersebut kemudian jadi andalan Indonesia. La Paene dan Albert Papilaya malah tembus ring tinju Olimpiade Atlanta dan Barcelona.

Bara mengenang awal pertama kali bertinju di pertandingan resmi ketika masih SMP kelas dua. "Waktu itu lawan petinju Darwin Australia,  namanya James Swan,  beta kalah he he. Itu dalam rangka persahabatan Sister City (kota bersaudara) antara Ambon dan Darwin," ungkap suami dari Tri Susanti dan dua anak ini.

Alumni SMA Negeri 1 Ambon ini, akui selama berkarier tinju merasa nyaman dibimbing sang pelatih yang juga papa nya. Baik selama di PPLP dan Pelatda Maluku maupun Pelatnas di Jakarta serta even-even nasional dan internasional. Bahkan saat berlatih di Kuba Amerika Selatan bersama Albert Papilaya, Damianus Jordan dan Hermensen Ballo, Bara pun senang lantaran Wiem Gomies yang dampingi mereka.

"Papa itu inspirator dan motivator beta. Beta bangga dan salut untuk reputasi, prestasi dan pengabdiannya untuk Maluku dan bangsa tercinta," ucap Bara.

Meski berprestasi internasional, nyong Negeri Hatalae Ambon ini mengaku di jaman papa dan dirinya perhatian pemerintah  masih kurang untuk masa depan atlet. Akibatnya ia hengkang ke Sulsel demi pekerjaan dan tetap bertinju.

Usai persembahkan emas untuk Sulsel di PON 2004, Bara sempat bertahan sambil bekerja di sana. Tetapi kemudian dia undur diri dari ring tinju dan pindah bekerja pada perusahaan perkebunan kelapa sawit di Sambas Kalimantan Barat sampai kini.

"Beta sekarang di Sambas bung. Fokus ke pekerjaan setelah undur diri dari ring tinju. Beta tidak pikir tinju lagi, juga tidak jadi pelatih seperti papa he he. Beta akui papa hebat pengabdiannya," ujarnya.

Dangke Bara. Untuk prestasi dan perjuanganmu untuk Maluku dan bangsa tercinta. Ale akan dikenang bersama Wiem Gomies selamanya. Sebagai papa dan anak yang mengharumkan negeri ini. Tuhan berkati. (novi pinontoan)

Baca Juga

error: Content is protected !!