Sekilas Info

PENYELUNDUPAN MERKURI

Pemilik Kapal Penyelundup 1,7 Ton Merkuri Tujuan Buton Diadili di PN Ambon

satumalukuID/Istimewa Ilustrasi tahanan

satumalukuID- Sidang kasus penyelundupan 1,7 ton merkuri atau tepatnya seberat 1.775 Kilogram kembali bergulir. Kali ini terdakwa Narwati Djahiru, pemilik kapal pengangkut merkuri itu yang duduk di kursi "pesakitan" Pengadilan Negeri Ambon, Kota Ambon, Selasa (27/10/2020).

Wanita 38 tahun itu diadili karena diduga terlibat dalam kasus penyelundupan dan penjualan merkuri ilegal. Kasus pertambangan mineral dan batubara ini terungkap pada Senin (23/3/2020) lalu.

Perbuatan terdakwa yang tidak mengantongi ijin saat membawa merkuri, didakwa melanggar pasal 161 UU No. 4 tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana, oleh Jaksa Penuntut Kejaksaan Tinggi Maluku.

Jaksa menyebut dalam dakwaan,  terdakwa merupakan otak dari upaya pengiriman 1,7 ton merkuri. Bahan olahan material cinnabar ini diamankan di perairan laut Kabupaten Buru Selatan (Bursel). Bahan kimia ilegal itu hendak diselundupkan ke Buton, Sulawesi Tenggara.

Ribuan kilogram merkuri yang diseludupkan dikemas dalam 50 buah jerigen. Puluhan jerigen berukuran 5 liter ini diangkut oleh KLM Cahaya Baru, milik terdakwa.

Kala itu, kapal motor berkapasitas 5 Gross Tonnage (GT) itu digagalkan saat melintas di antara perairan Pulau Buru dan Pulau Ambalau, Senin (23/10/2020) sekira pukul 09.30 WIT.

Selain ditemukan 50 jerigen berisi air raksa tersebut, dalam kapal itu juga terdapat empat lembar asli dokumen kapal yang dibawa para terdakwa. Dari 50 jerigen, terdapat 15 yang diberi tanda. Itu diketahui milik Opik dan Inal. Keduanya bermukim di Desa Iha dan Desa Luhu, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Setelah diamankan Ditpolairud Polda Maluku, usut punya usut, terdakwa tidak sendiri melakukan penyelundupan. Dia pekerjakan tiga orang anak buahnya. Diantaranya nelayan Nur Abidin (32), Zainal alias Bapa Ona, dan Baso Wadiawe alias Basri (25), seorang mahasiswa. Tiga orang itu warga Sulawesi yang sudah divonis bersalah masing-masing satu tahun penjara (dalam berkas terpisah).

Jaksa menyebutkan, terdakwa memerintahkan tiga anak buahnya itu melakukan pengangkutan merkuri. Mereka diberikan upah sebesar Rp.2 juta sampai dengan Rp.3 juta.

Penyelundupan merkuri ini, ternyata bukan baru sekali. Tapi sudah dua kali terjadi, di mana, satu diantaranya berhasil lolos ke tempat tujuan dengan berat serupa pada akhir Februari 2020. Bahan kimia berbahaya ini akan dibawa ke Bau-bau, Kecamatan Pasar Wajo, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Tujuannya untuk memisahkan emas pada alat tromol.

Sidang dakwaan ini dipimpin ketua majelis hakim Lucky Rombot Kalalo, didampingi Hamzah Kailul dan Christina Tetelepta. Sementara para terdakwa didampingi penasehat hukum Ronal Salawane. Sidang itu ditunda pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi.

Penulis: Husen Toisuta
Editor:redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!