Sekilas Info

LAWAN COVID-19

Sistem Kuliah Daring, Paket Data dan Protokol Kesehatan

satumalukuID/Syamsul Bahri Salah seorang mahasiswi di Kota Ambon, sedang belajar secara daring.

Kafe di kawasan Poka, Kota Ambon, siang tadi, Senin (26/10/2020), nampak sepi. Tidak banyak pengunjung yang nongkrong. Hanya ada beberapa orang yang terlihat berkutat dengan gawai mereka. Mereka nampak asyik memanfaatkan akses WiFi gratis yang disediakan kafe tersebut.

SatumalukuID  mendekati tiga perempuan yang duduk mengitari meja di pojok kafe. Meski berbagi pakai meja yang sama, namun mereka tetap menjaga jarak, seperti disyaratkan kafe tersebut. Termasuk mengikuti anjuran pemerintah berkaitan dengan protokol kesehatan, yakni menjaga jarak, rajin cuci tangan dan menggunakan masker.   

Ketiga perempuan yang ternyata mahasiswi pada salah satu perguruan tinggi di Kota Ambon ini, rupanya baru saja mengikuti perkuliahan secara daring.  SatumalukuID, lantas mencoba ngobrol dengan mereka mengenai pengalaman kuliah secara daring ini.

Meskipun belum ada penelitian resmi yang menyatakan seberapa besar efektivitas pembelajaran sistem daring ini, dibandingkan dengan pembelajaran secara manual, namun melihat realitas saat ini banyak dari pelajar dan mahasiswa yang mengeluhkan pembelajaran jarak jauh tersebut. 

Mereka lebih menyukai pembelajaran secara langsung atau face to face seperti biasanya. Fenomena ini semakin lama menimbulkan berbagai dampak seperti yang dituturkan ketiga mahasiswa, yang saya temui hari ini yakni, Erika, Nita dan Tika. 

“Kurang lebih kami sudah enam (6) atau tujuh (7) bulan melakukan proses belajar daring, dan sangat mengalami kesulitan saat jaringan/sinyal jelek,” ujar Nita.

Dia menuturkan terkadang dosen minta kuliah di luar jam perkuliahan. Atau kadang waktu kuliah terpaksa dipersingkat, sebab kesulitan jika mereka tidak menggunakan akses WiFi.

Senada dengan Nita, sahabatnya Erika mengaku, kesulitan sudah pasti ada. Alasannya jika kuota sudah tidak cukup untuk kuliah secara daring. Sebab kadang perkuliahan memakan waktu selama dua (2) sampai tiga (3) jam, menggunakan aplikasi zoom.

“Ini cukup menguras paket data. Itu pun kalau untuk 1 hari cuma 1 mata kuliah. Kalau 2 sampai 3 mata kuliah, dan tatap muka harus melalui aplikasi zoom, cukup memakan waktu lalu kuota pun habis,“ terang Erika.

Sahabat mereka, Tika, menimpali, terkadang mereka jadi kasihan dengan orang tua, karena harus terus mengeluarkan dana ekstra untuk pembelian kuota internet. 

“Sebab pemakaian paket data jadi tidak senormal sebelum pandemi. Belum lagi kesulitan yang dihadapi saat proses belajar daring, apalagi untuk mahasiswa tingkat akhir seperti saya yang diharuskan untuk bimbingan skripsi menggunakan aplikasi untuk daring. Ada yang otomatis mati tiap 45 menit. Rasanya jadi kurang optimal,” beber Tika.

Kondisi ini kata dia, bertambah sulit, sebab selama pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini, dia sedikit kesulitan untuk mengabil data lapangan guna keperluan skripsi.

“Apalagi untuk lokasi penelitian yang berada di luar Kota Ambon. Untuk menyiasati kesulitan akses internet, kadang saya main ke rumah atau kosan teman untuk numpang WiFi,” ujar Tika. 

Atau pas punya budget lebih, kata dia, mereka bisa ke kafe yang menyediakan akses free WiFi, yang tentu saja tetap menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 seperti menggunakan masker, cuci tangan, menjaga jarak dan sebagainya.

"Harapan kami masyarakat makin menaruh perhatian khusus dan peka terhadap standar protokol Covid-19, agar rantai penyebaran virus bisa diputus, dan PSBB yang sudah berjilid-jilid ini segera selesai, minimal berkurang di lingkungan masing-masing,” kata mereka bertiga kompak.(Syamsul Bahri/ZS)

Baca Juga

error: Content is protected !!